"Adakah alasan yang bisa diterima akal, sehingga kami, lebih dari dua ratus orang, harus hidup di pengungsian seperti ini? Kami mohon keadilan. Sampai kapan kami harus menunggu?" (Maryam Hayati)
Kini Maryam berdiri di depan rumahnya. Setelah enam tahun berlalu, akhirnya ia bisa kembali melihat bangunan tempat ia dibesarkan. Tempat terakhir kalinya ia berjumpa sekaligus bertengkar dengan orang tuanya. Menatap rumah itu secara utuh dari depan, membuatnya tak bisa menahan air mata kerinduan dan rasa sesal karena telah mengÂkhianati orangtuanya. Namun, setelah masuk ke rumah itu, ia hanya berteÂmu dengan Jamil. Dari Jamil, Maryam mengetahui keluarÂganya telah terusir dari Gepuruk. Mereka diusir oleh warga yang dulu hidup rukun bersama keluarganya. Warga yang dulu bahkan tak pernah peduli kenapa keluarga Khairudin tidak sholat di mesjid mereka.
Novel ketiga dari Okky Madasari ini pada dasarnya adalah sebuah fiksi, namun tetap merujuk pada realita kekinian. Okky melakukan riset selama enam bulan di daerah-daerah Lombok yang dijadikannya tempat kejadian. Serta keluar masuk gedung transito yang hingga saat ini masih dihuni orang-orang Ahmadiyah, agar bisa mendalami apa yang mereka rasakan.
Okky melahirkan sebuah novel dengan perpaduan kisah cinta, keluarga, dan tragedi pengusiran dengan alur dan bahasa yang apik. Lewat penokohan Maryam yang terlahir dari keluarga penganut Ahmadiyah, Okky menyiratkan bahwa perbedaan ternyata tidak dapat hidup damai dalam kesatuan. Di balik itu, ia juga memperlihatkan betapa lemahnya keteguhan hati beberapa penduduk Indonesia, sehingga mereka terlihat begitu mudah terprovokasi oleh propogandis yang memang sengaja memanas-manaskan suasana. Meskipun hati mereka sebenarnya tak menginginkan hal tersebut.Hal ini tergambar jelas dalam penokohan jamil. Ada peperangan batin antara keÂinginan membela, serta rasa takut yang dialami Jamil. Seseorang yang telah lama bekerja pada Khairidin.
Okky memang tidak mengÂgambarkan secara gamblang tentang apa itu Ahmadiyah. Dia juga tidak membenarkan atau menyalahkan. Ia hanya memaÂparkan bagaimana perasaan dan penderitaan orang-orang Ahmadiyah ketika harus terusir dan kehilangan rumah yang mereka dirikan dengan susah payah. Novel ini seolah kembali mengajak kita merenungi sisi sejati manusia yang punya hak untuk hidup. Mengingatkan bahwa masalah Ahmadiyah bukan lagi sebatas masalah agama, tetapi juga masalah hidup berbangsa. Dimana embel-embel negara demokratis yang dipakai, akhirnya hanya sebuah lelucon. Rakyat Indonesia seperti menginjak kesepakatan lama di balik kata demokrasi.
Maryam menitipkan pesan, agar tidak membenarkan begitu saja kekerasan pada kaum minoritas. Karena kaum minoritas, apapun nama mereka, mereka masih rakyat Indonesia yang secara hukum punya kebebasan beragama dan punya hak untuk memperoleh pengadilan yang adil.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!