Resensi

Sejarah Korban dan Rekonsiliasi Masa Lalu

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Senin, 3 Juni 2013 13:13 WIB • 👁 2.540 Pembaca

Judul : Kenangan Tak Terucap; Saya, Ayah, dan Tragedi 1965

Penulis : Nani Nurrachman Sutojo

Penerbit : Kompas Media Nusantara

Cetakan : Februari 2013

"Masa lalu bisa saya torehkan sebagai perlawanan antara yang kalah dan yang menang, antara salah dan benar. Ini adalah penilaian sejarah yang tentu saja banyak ditulis oleh mereka yang menang. Sering dilupakan bahkan tidak ditulis adalah bagaimana sejarah itu menimbulkan tragedi dan korban. Siapakah yang menjadi korban?"

Sejarah menyebutkan bahwa Tragedi 1965, atau yang lebih dikenal dengan Gerakan 30 September, telah merenggut ribuan nyawa. Tujuh orang jenderal yang ‘diambil’ dari rumah mereka pada dini hari, 1 Oktober 1965, ditemukan tidak lagi bernyawa dalam sebuah sumur, di daerah Lubang Buaya pada 4 Oktober 1965. Jenderal yang mati tersebut, kemudian kita kenal dengan sebutan Pahlawan Revolusi. Sedangkan apa yang terjadi dihari-hari berikutnya? Ratusan, bahkan mungkin ribuan orang yang dituduh PKI waktu itu diambil paksa, ditahan, disiksa, baik di dalam penjara maupun yang kemudian dibuang ke pulau Buru.

Mungkin luput dari kesadaran, bahwa selain merenggut banyak nyawa, tragedi itu nyatanya masih meninggalkan keluarga dari para korban. Mereka ini, yang kemudian akan melanjutkan hidup dalam pergolakan reformasi, dimana sejarah disusun sebagaimana mereka menyusun kembali puing-puing yang disisakan sejarah. Nani Nurrachman Sutojo salah satunya, anak kedua dari Mayor Jenderal Anumerta Sutojo Siswomihardjo ini, terpaksa harus kehilangan ayah yang sangat dicintainya ketika masih berumur 15 tahun.

Selama bertahun-tahun lepas dari penjajahan, Indonesia merangkak, mulai meraba-raba dan menyusun kembali sejarahnya. Namun apa yang ditakutkan? Siapa yang menulis sejarah? Disini, Nani mencontohkan dengan penayangan film Pengkhianatan G30S/PKI. Bagi Nani, film itu menimbulkan kegundahan tersendiri. Apakah informasi seperti itu yang akan diwariskan kepada anak cucu tentang Peristiwa 30 September 1965? Dimana yang ditonjolkan hanyalah peran Pak Harto, tanpa mengangkat situasi sosial yang terjadi saat itu. Selain itu, kata pengkhianatan dijudul film tersebut ditujukan kepada siapa? Bagi Nani, hal tersebut adalah pertanyaan yang sulit dijawab, karena tidak adanya konteks sosial di dalamnya, baik sebelum atau sesudah peristiwa itu.

Nani mampu menuliskan tragedi 1965 dengan perspektif berbeda. Menempatkan diri sebagai "korban" dan juga seorang psikolog, mengangkatkan sisi humanis dan juga sosial. Pendekatan yang jarang ditemui dalam pengolahan peristiwa sejarah. Ia memaparkan peristiwa-peristiwa tadi, diiringi dengan keprihatinan terhadap hal-hal yang lebih luas daripada urusan pribadinya sendiri, yakni kehidupan berbangsa.

Dengan "Kenangan Tak Terucap; Saya, Ayah, dan Tragedi 1965" ini,Nani mampu membuktikan sekaligus melanjutkan masa-masa di depannya seraya mengatakan pada masa lalunya, bahwa memaafkan, bukan berarti melupakan. Nani dan memoarnya, adalah salah satu pembaharuan yang membuktikan, bahwa sejarah yang ditorehkan oleh korban, akan memiliki penuturan yang jauh berbeda dengan sejarah yang ditulis, mungkin oleh mereka yang disebut para ‘pemenang’.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Jefri Rajif
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

8 + 3 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.