Dari kejauhan, bangunan kuno bercat putih itu terlihat seperti bangunan biasa. Tidak ada sesuatu yang menonjol dibandingkan bangunan lain di area Kota Tua, Jakarta. Dari segi arsitektur, bangunan ini dengan yang lainnya sama-sama bergaya Belanda. Hanya saja saat dilihat lebih dekat, sebuah baliho warna biru tua berukuran 1,5 x 1 meter seolah menjadi "magnet" nya bangunan ini. Disana tertulis: "Museum Wayang".
Dua daun pintu bangunan yang terbuka lebar selanjutnya menjadi penarik langkah untuk beringsut menemui apa yang ada di dalam sana. Dua orang petugas yang siaga di meja receptionist mengulas senyum ramah. Tanpa instruksi, salah seorang pemandu sudah mendekat dan siap melayani pertanyaan-pertanyaan yang dilemparkan kepadanya.
Di setiap sisi dan pojok ruangan, terpajang wayang-wayang beragam rupa dalam etalase kaca. Keberadaan wayang-wayang ini sedikit terhalangi oleh belasan siswa berseragam hijau muda yang sibuk menorehkan pena ke lembaran buku di tangan mereka. Mereka adalah rombongan siswa Sekolah Dasar yang melaksanakan Studi Banding ke Museum Wayang. Diantara mereka ada yang sibuk menekan-nekan keyboard komputer dan seketika muncul informasi tentang perwayangan di layar monitor. Ada pula yang mengalungkan kamera di leher. Oleh karena itu, sesekali blitz kamera berpendar di ruangan itu.
Pria berusia 30-an, yang berperan sebagai pemandu itu menunjuk-nunjuk ke dalam etalase kaca sambil bercerita kepada pengunjung. Ceritanya mengalir begitu saja. Antusiasme pengunjung dalam bertanya turut memantik semangatnya dalam bercerita.
"Zaman dahulu belum ada agama, masyarakat masih berpegang kepada kepercayaan". Ia mulai bercerita. Mereka belum mempercayai adanya Tuhan. Orang-orang zaman dahulu misalnya, saat selesai panen selalu mengekspresikan wujud terima kasihnya dengan acara pagelaran. Acara pagelaran ini berupa pewayangan. Pewayangan menjadi acara yang sangat digemari masyarakat pada waktu itu karena pesan-pesan yang disampaikan mudah diterima. Disamping itu, ia menjelaskan bahasa yang dipakai juga mudah dipahami masyarakat biasa.
Dari waktu ke waktu, seni perwayangan semakin berkembang. Ketertarikan masyarakat yang cukup besar terhadap kesenian ini memunculkan perubahan besar dalam tatanan kehidupan masyarakat. Perlahan-lahan, masuklah Agama Hindu, Budha dan Islam. Perwayangan menjadi media yang tepat untuk menyiarkan agama pada saat itu. Melalui pesan-pesan yang disampaikan, secara berangsur-angsur terbentuklah keyakinan baru dalam masyarakat tentang Tuhan dan sebuah kepercayaan.
Pada 7 November 2003 di Kota Paris, UNESCO memproklamirkan Wayang Indonesia Sebagai "Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity", dimana wayang Indonesia diakui sebagai karya agung budaya dunia.Wayang dalam bahasa Jawa berarti cermin kehidupan. Wayang tidak hanya mencerminkan kehidupan manusia, tapi juga alam semesta. Karena itulah tokoh di dalamnya tidak hanya orang, tapi juga tumbuhan dan binatang.
Sambil sesekali memperkenalkan tokoh-tokoh wayang yang ada, pemandu itu masih melanjutkan ceritanya. Pada masa penyebaran agama Islam di Jawa, para mubaligh (Wali Songo) melahirkan kesepakatan terhadap kriteria tokoh dalam perwayangan. Wajah tokoh wayang tidak boleh mirip dengan wajah orang dalam dunia nyata. Ketakutan akan adanya penyembahan terhadap wayang ini menjadi alasan lahirnya kesepakatan itu.
Meski sesekali terbatuk-batuk, ia tetap melanjutkan cerita. Wajah sumringahnya terpancar saat menceritakan kehebatan seni perwayangan ini. Wayang menurutnya memiliki tiga unsur yang luar biasa. Unsur estetika terlihat dari seni memahat, mengukir dan mengecat wayang. Selanjutnya unsur etika, berupa sopan santun yang diemban pelaku seni (nayaga, dalang, sinden) seperti dalam cara berpakaian, cara duduk dan cara berbicara. Sedangkan nilai terakhir yaitu filosofi. Terdapat banyak nilai-nilai kehidupan yang disampaikan di dalamnya. Nilai kepahlawanan, kejujuran, keangkaramurkaan, kesetiaan, dan kebaikan. "Salah satunya karena poin inilah wayang diakui UNESCO sebagai mahakarya warisan asli Indonesia," tutupnya.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!