Ketika waktu shalat fardhu menjelang, para jamaah berbondong-bondong memasuki Surau Randah.Berjarak 10 meter, berdiri Masjid Raya Gadurdengan atap bagonjong dan langit-langit yang dilapisi ukiran-ukiran, tanpa jamaah.
Dari dalam sebuah bangunan yang bernama Surau Randah, terdengar lantunan ayat suci al-quran yang di ucapkan dengan keras dan serentak oleh sekelompok anak yang sedang belajar mengaji. Tidak hanya itu saja, didalam surau itu juga sering dilaksanakan shalat fardhu berjamaah serta musyawarah warga. Lalu jika berjalan sekitar 10 meter, maka akan ditemukan sebuah masjid yang berdiri sejajar dengan Surau Randah, masjid itu bernama Masjid Raya Gadur. Surau Randah dan Masjid Raya Gadur adalah dua bangunan yang terletak di Kenagarian Gadur, Kecamatan Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman dan telah menjadi tempat ibadah bagi masyarakat sekitar.
Masjid Raya Gadur adalah bangunan tertua di Kanagarian Gadur yang didirikan pada tahun 1620 M. Masjid ini memiliki atap yang dibuat bagonjong seperti atap Rumah Gadang Minang Kabau. Ini dibuat untuk melambangkan tempat berdirinya mesjid ini yaitu di tanah Minang. Selain itu setiap ventilasi masjid terdapat ukiran-ukiran yang bertuliskan nama-nama sahabat nabi seperti, Usman bin affan. Lalu pada langit-langit masjid juga dilapisi dengan ukiran-ukiran yang disebut dengan aia ameh-ameh.
Menurut salah seorang warga kanagarian Gadur, Amiruddin. Ia menjelaskan bahwa berdirinya Masjid Raya Gadur ini dipelopori oleh seorang mamak yang bernama Aji Daimin. Pada masa itu Aji Daimin adalah seorang mamak yang berasal dari Suku Tanjung serta memiliki ilmu agama yang tinggi di kampungnya. Lalu bersama empat orang mamak dari suku Koto, Sikumbang, Jambak, dan suku Guci, Aji Daimin berusaha keras agar pembangunan masjid di Nagari Gandur dilakukan. Mereka melakukan musyawarah dan membahas segala hal yang berkaitan dengan pembangunan masjid. Dan setelah dicapai kata mufakat, akhirnya mereka mendirikan sebuah masjid diatas sebuah area yang terletak di korong Batiah-batiah, kenagarian Gadur, kecamatan Enam Lingkung. "Begitulah perjuangan dalam mendirikan mesjid ini," kata Amiruddin manggut-manggut.
Beberapa saat kemudian Amiruddin melanjutkan ceritanya, pada awalnya Area di Korong Batiah-batiah merupakan kebun kelapa yang sangat luas. Ditengah-tengah area, dibangun satu buah tiang yang dulunya sering disebut dengan Tonggak Macu (tongak tua) yang dilingkari dengan batu serta diapit oleh empat buah tonggak disekelilingnya. Hal ini bermakna bahwa Masjid Raya Gadur dibangun secara bersama oleh kelima suku yang tinggal disana. Tonggak macu diibaratkan sebagai pelopor yaitu suku Tanjung, sedangkan tonggak yang menggelilinginya diibaratkan sebagai keempat suku lainnya. "Tiang dan empat tonggak itu punya makna," ungkapnyanya lagi.
Setelah pembangunan masjid selesai, banyak kegiatan-kegiatan yang dilakukan di dalam masjid seperti, sholat fardhu berjemaah, belajar mengaji, wirid setiap minggu, musyawarah, dan ibadah-ibadah lainnya. namun, seiring perkembangan zaman, masjid raya gadur hanya digunakan untuk hari-hari besar saja, seperti ibadah sholat Jum’at, Tarwih, Idul Fitri, sholat Idul Adha dan kegiatan di bulan ramadhan, seperti Pesantren Ramadhan, lomba MTQ, dan berbuka bersama. Sedangkan untuk kegiatan sehari-hari sudah tidak dilakukan lagi. "Jangankan untuk shalat berjamaah, suara adzan saja sudah tidak terdengar lagi," ungkap Amiruddin dengan kecewa.
Lebih lanjut ia mengharapkan agar masjid difungsikan kembali seperti dulu, agar masjid itu menjadi lebih hidup. "Sekurang-kurangnya kita mendengar kumandang Azan," harapnya, Minggu (22/9).
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!