Kawasan Pantai Purus Padang memang sering didatangi wisatawan untuk sekadar bersantai dan menikmati deburan ombak. Masih di Pantai Purus, terdapat kendaraan menyerupai kereta api berwarna-warni seperti pelangi: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Kendaraan yan mampu mengangkut cukup banyak penumpang ini mulai tenar beberapa bulan belakangan di kota Padang. Kendaraan itu dikenal dengan sebutan odong-odong.
Bermacam bentuk odong-odong tersedia di kawasan ini. Kendaraan yang meramaikan wahana wisata warga ini berasal dari sepeda motor atau mobil yang di permak sedemikian menariknya. Kendaraan ini bisa memuat penumpang sekitar 18-25 orang.
Penghasilan sopir odong-odong ini tak kalah banyak dari gaji seorang pegawai pada umumnya. Hal ini diungkapkan Irwansyah (49), sopir odong-odong yang putarannya di Pantai Purus, Padang. Menurutnya, penghasilan terbesar yang ia dapatkan tergantung pada hari tertentu. Misalnya saja hari Sabtu dan Minggu, bisa mendapatkan uang sampai Rp 400.000,00, sedangkan di hari biasa berkisar Rp 200.000,00.
Begitu juga dengan sopir odong-odong yang putarannya di luar pantai Purus. Seperti yang diungkapkan Rudi sopir odong-odong asal Bunguih yang disewa khusus pergi ke Pantai Purus oleh penumpang. Menurutnya, pendapatan pada hari biasa berkisar Rp 400.000,00-Rp 500.000,00. Sedangkan Sabtu dan Minggu mencapai satu setengah juta rupiah.
Penumpang odong-odong milik Rudi tidak perlu khawatir dengan tarif perkepala. Tergantung jarak yang akan ditempuh. Jika putarannya hanya Bunguih dan sekitarnya, dikenakan Rp 5.000,00 perkepala. Sedangkan untuk cateran dari Bunguih ke Pantai Purus, penumpang cukup membayar Rp 20.000,00 pulang pergi (PP). "Lumayanlah buat beli sebatang rokok, sisanya buat beli odong-odong lagi", ungkap Rudi sambil tertawa kecil pada Jumat 20 September lalu.
Menjamurnya odong-odong membuat para pemilik harus memutar otak dan lebih kreatif dan inovatif terhadap kendaraan ini, meskipun harus merogoh kocek cukup banyak. Misalnya saja Irwansyah, Ia mengeluarkan uang sebesar tujuh puluh delapan juta rupiah untuk membuat odong-odong beserta aksesorisnya. Rudi Suherman juga sama, harus mengeluarkan uang sampai puluhan juta, tapi tak sebanyak yang dikeluarkan Irwansyah. Rudi lebih kreatif dengan memanfaatkan mobil bekas dan disulapnya menjadi odong-odong dan tak kalah menarik.
Penumpang bergembira, mereka saling sorak-menyoraki ketika berselisih dengan odong-odong lain. Seperti yang diakui salah seorang penumpang, Murni. Menurutnya, dengan naik odong-odong Ia bisa menikmati keindahan pantai pada malam hari. Selain itu juga bisa bersenang-senang dengan anaknya. "Ini kali keduanya saya naik odong-odong, asyik," ungkapnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh salah seorang anak yang naik odong-odong, Ihsan. Anak laki-laki usia 5 tahun itu mengaku senang naik odong-odong. "Naik odong-odong lebih asik dari pada yang lain," katanya. Dengan naik odong-odong Ia bisa menikmati pantai dan juga musik serta keindahan aksesoris odong-odong yang cukup menarik.
Dibalik kejayaan odong-odong ini ternyata terdapat resiko yang cukup berbahaya bagi kesalamatan penumpang dan sopirnya. Hal ini dikarenakan odong-odong belum mendapatkan surat izin dari Pemerintah Kota (Pemko) Padang. Meskipun demikian Irwansyah berharap suatu saat nanti Pemko Padang memberikan izin. "Kepada Pemko mohon keluarkan izin," pintanya.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!