Sektor pariwisata itu luas. Tak hanya objek wisata alam saja.
Salah satu rumah makan yang ada di jalan Ulak Karang Padang terlihat ramai. Silih berganti orang-orang masuk dan keluar dari sana. Ada yang datang secara perorangan dan ada pula yang datang beramai-ramai. Ada yang langsung menyantap makanan di rumah makan tersebut, dan tak sedikit diantara mereka yang membungkusnya untuk dibawa pulang. Begitulah adanya rumah makan yang merupakan salah satu sektor pariwisata, wisata kuliner.
Keberadaan rumah makan, khususnya di Kota Padang memiliki rating yang cukup tinggi sebagai salah satu sektor pariwisata dengan kontribusi cukup besar bagi pendapatan kota Padang. Namun, kontribusi rumah makan itu belum seberapa jika dibandingkan dengan hotel yang merupakan sarana dan prasarana wisatawan. Setidaknya ada 260 lebih rumah makan dan 40 hotel di kota ini.
Pada dasarnya, sektor pariwisata terbagi tiga yaitu wisata alam, wisata budaya, dan wisata minat khusus. Wisata alam juga dibagi menjadi dua, wisata alam yang benar-benar alam dan wisata bahari. Ada 60 objek wisata alam yang ada di Kota Padang. "Wisata benar-benar alam seperti Lubuak Tampuruang, dan wisata bahari seperti pantai Karolin dan pulau-pulau di sekitar pantai Padang," terang Trisna Putra, Senin (18/11).
Lebih lanjut, Trisna selaku Kasi Pendataan dan Perencanaan Dinas Pariwisata Kota Padang ini menjelaskan bahwa untuk wisata budaya fokus kepada kebudayaan Minangkabau. Sedangkan wisata minat khusus terdiri dari wisata kuliner, wisata belanja, wisata olahraga, dan wisata konferensi. Wisata belanja seperti penjualan souvenir khas Minangkabau. Wisata konferensi berupa konferensi dan seminar yang diadakan di Kota Padang. "Wisata olahraga seperti Tour de Singkarak kemarin," tambahnya.
Setiap objek wisata tersebut dikelola oleh Dinas Pariwisata mulai dari tahap perencanaan hingga tahap action-nya. Pengelolaan ini dapat berupa pembinaan masyarakat dengan membentuk desa wisata seperti desa wisata yang ada di Pauh Limau Manih, Bunguih Taluak Kabuang, dan di Pantai Aie Manih. Melalui pembinaan masyarakat ini tak hanya Dinas Pariwisata yang akan mendapatkan pemasukan, tapi juga perekonomian desa bersangkutan yang akan membaik secara otomatis. Pengangguran yang ada di desa setempat akan berkurang pula tentunya.
Sayangnya, untuk memaksimalkan pemberdayaan sektor pariwisata Kota Padang ini, Dinas Pariwisata memiliki sejumlah kendala. Kendala terbesar terkait dengan budget. Bahkan karena kendala tersebut, masih banyak objek wisata yang ada di Kota Padang yang belum tersentuh oleh Dinas Pariwisata, seperti Gua Kelelawar di Indarung dan air terjun 100 tingkat di Lubuk Minturun. Penyebabnya yaitu karena anggaran kota lebih diutamakan untuk perbaikan fasilitas umum pasca gempa. Hal ini semakin diperparah oleh investor yang lebih memilih untuk menanamkan modalnya di hotel-hotel daripada objek wisata alam. "Investor lebih tertarik pada pembangunan hotel," ujarnya.
Usaha yang dilakukan Dinas Pariwisata untuk mengatasi masalah anggaran ini yaitu dengan menerapkan skala prioritas pada anggaran dan lebih mendekati dinas pusat untuk mendapatkan bantuan. Penerapan skala prioritas berarti Dinas Pariwisata harus lebih selektif dalam penggunaan anggaran. Untuk pendekatan kepada dinas pusat, Dinas Pariwisata Kota Padang sudah pernah melakukannya dengan contoh riil jalan setapak di Gunung Padang. "Sebelumnya tidak ada jalan setapak ke Gunung Padang," terangnya.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!