Feature

Sosok Dibalik Indahnya Rumah Puisi Taufik Ismail

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Minggu, 29 Desember 2013 10:31 WIB • 👁 1.753 Pembaca

"Jalani saja dengan ikhlas, agar dapat menjadi sebuah kebiasaan," ujar wanita berkulit sawo matang itu.

Sebuah plang hitam bertuliskan "Rumah Puisi Taufik Ismail" mengundang penelusuran ini. Seolah-olah berdiri di atas sebuah bukit, bangunan itu berada di kilometer 40 jalan raya lintas Padang Panjang-Bukittinggi. Wilayah itu termasuk dalam lingkungan Nagari Aia Angek Kecamatan Sepuluh Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Tanjakan cukup curam dengan kemiringan kira-kira 45 derajat harus dilalu agar sampai pada sebuah bangunan putih beratap perisai lebar atau yang lebih dikenal dengan Rumah Puisi Taufik Ismail. Rumah Puisi Taufik Ismail ini terdiri dari dua lantai dengan kaca transparan dibagian depannya. Di lantai satu tersusun rapi kursi-kursi yang disusun untuk tamu kunjungan, mading serta parade poster penuh kata-kata bijak. Di lantai dua berjejer rapi lemari-lemari yang dipenuhi koleksi buku dan literature. Disana juga disediakan sebuah permadani untuk duduk lesehan dan bersantai. Dikelilingi oleh taman-taman yang sangat terawat dengan bunga-bunga indah menimbulkan kesan megah pada rumah puisi.

Dibalik mengagumkannya rumah puisi, ada tangan Israni dan suaminya, Karya. Suami isteri ini telah mengabdikan diri untuk mengurusi dan merawat rumah puisi Taufik Ismail selama lebih dari dua setengah tahun, lebih dari setengah umur rumah puisi ini. Mereka menjadi orang yang bertanggung jawab penuh untuk mengurusi kebersihan maupun keindahan rumah puisi Taufik Ismail.

Sebelum bekerja merawat Rumah Puisi Taufik Ismail, Israni dan Karya bekerja sebagai petani di kampung halamannya Mekarwangi, Bandung. Selain bekerja sebagai petani, Karya juga menghidupi anak dan isterinya dengan bekerja sampingan sebagai kuli bangunan. Suatu hari, Israni dan Karya mendapat tawaran untuk bekerja di Rumah Puisi Taufik Ismail dari adik sepupu Karya yang bekerja di kantor Majalah Horison milik Taufik Ismail. Tanpa pikir panjang, pasangan suami istri ini langsung menerima tawaran tersebut. Mereka merantau ke Ranah Minang.

Israni mengatakan bahwa tidak ada syarat untuk bekerja di Rumah Puisi Taufik Ismail. "Sebelum masuk dan bekerja disini tidak ada syarat, hanya saja harus sepenuhnya bertanggung jawab untuk menjaga, membersihkan merawat keindahan rumah puisi Taufik Ismail," tuturnya Israni yang biasa dipanggil teh Euis ini, Jumat (13/12).

Setelah melaksanakan salat subuh, suami isteri yang terpaut jarak tujuh tahun ini sudah mulai membersihkan Rumah Puisi Taufik Ismail. "Kalau ada tamu, sehabis salat subuh, teteh sudah sibuk bikin nasi goreng untuk sarapan. Pada hari libur bisanya tamu Rumah puisi banyak yang berkunjung, jadi pukul 07.00 WIB teteh sudah siap-siap bersih rumah," tutur wanita berkulit sawo matang dengan logat Bandungnya, Rabu (18/12).

Kesibukan Israni dan Karya bermula dari pagi hingga sore hari. Biasanya mereka bertugas membersihkan taman, rumah puisi, rumah gurindam dan rumah pantun. Selanjutnya, mereka membersihkan musholla, mempersiapkan sarapan untuk tamu penginapan, merawat bunga-bunga di taman, dan menjaga keindahan taman. Selain itu, khusus bagi Karya ia juga bisa menjadi tukang pijat. Setiap tamu penginapan yang ingin dipijat bisa memakai jasanya.

Sillia Wahyuli, petugas yang menjaga Rumah Puisi Taufik Ismail mengatakan teh Euis dan suaminya adalah sosok yang rajin, pekerja keras dan ramah. "Mereka sangat baik dan ulet. Dari pagi sekali mereka sudah mulai membersihkan halaman dan rumah puisi," ungkapnya, Jumat (6/12).

Pasangan suami istri yang dikaruniai dua anak ini mengaku sangat senang bisa menjadi bagian dari Rumah puisi Taufik Ismail. Bekerja di rumah puisi merupakan kebanggaan tersendiri bagi mereka. Wanita paruh baya itu mengatakan asalkan dijalani dengan ikhlas semua akan mudah dan indah untuk dilalui. "Saya sangat menikmati memiliki peran ini, karena dapat mengambil peran dalam merawat dan menjaga keindahan tempat yang penuh dengan hal yang bermanfaat ini," tutupnya Jumat, (13/12).

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Suci Larassaty
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

2 + 4 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.