Feature

LKS KPAI: Membebaskan Diri dari Belenggu Kemiskinan

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Sabtu, 17 Mei 2014 12:40 WIB • 👁 1.546 Pembaca

"Anak Jalanan (Anjal) bukan berandal yang menjadi sundal kehidupan, mereka jangan dipukul tapi dirangkul. Jika Negara belum bisa mengayomi dengan dasar undang-undang tertulis yang dibekukan tersebut, apa salahnya selaku manusia yang berfikir kita saling tersentuh dan menyentuh mereka."


Matahari hampir menyamai titik ubun-ubun. Sesosok tubuh masih meringkuk diantara pelataran tempat duduk Rumah Gadang depan lapangan Imam Bonjol Padang. Celana levis ¾ dan atasan baju kaos dengan warna sudah didominasi coklat kumuh, lusuh. "Nama saya Farel kak," ujarnya saat Nurreskika Martinah, salah seorang anggota kantor Lembaga Kesejahteraan Sosial Komunitas Peduli Anak Indonesia (LKS KPAI) Sumatera Barat bertanya. Mendata anak jalanan, begitu Riska menjelaskan kegiatan yang dilakukannya. Pendataan dilakukan sebagai program kerja dari LKS KPAI. Dibantu oleh Dinas Sosial dalam rangka mengayomi anak jalanan (anjal) LKS KPAI yang didirikan oleh Yalmadri ini sudah berdiri sejak 2006. Tak hanya anak jalanan masyarakat miskin, dan kaum perempuan juga menjadi bahan perhatian LKS KPAI. "Melahirkan SDM yang mampu memberi sumbangsih nyata di dunia pendidikan dan bangsa dalam mengurangi angka kemiskinan", sekiranya demikian visi LKS KPAI yang dilontarkan Nurrezkika Martinah. Tak hanya visi, motto bertuliskan "Menggali potensi diri bebas dari belenggu kemiskinan dalam mencapai aktualisasi diri", juga tertera pada spanduk yang terpampang di luar kantor LKS KPAI. Bentuk sumbangsih pihak LKS KPAI dalam mewujudkan visinya bermacam. LKS KPAI menyediakan pelatihan profesi keahlian selama 6 bulan untuk guru TK/PAUD dan konsultan, pelatihan dosen, trainer dan motivator, pelatihan ujian nasional program paket, pelatihan untuk anak dengan kecacatan, dan anak membutuhkan perlindungan khusus. Untuk menjalankan berbagai fungsinya, beberapa cara dilakukan pihak LKS KPAI. Jika fungsi yang dimaksudkan adalah melatih calon dosen, trainer dan motivator, pelatihan dilakukan selama 6 bulan dengan proses administrasi yang sudah ditentukan. Berbeda dengan fungsi melatih anak cacat dan anak yang membutuhkan perlindungan khusus. Anak-anak ini dibina secara gratis. Seperti yang dituturkan Nurrezkika Martinah, tidak ada batasan untuk didikan yang diberikan LKS KPAI, termasuk untuk anak yang baru saja didatanya. "Asalkan si anak memiliki kemauan," tuturnya. Tak sulit menemukan kantor LKS KPAI, cukup Berjalan dari Lapangan Imam Bonjol menuju Mesjid Raya Nurul Iman Padang, akan kita temui beberapa ruas ruko, setelah sebelumnya melewati Sekolah Dasar Kartika 1-12 dan Sekolah Menengah Pertama Kartika 1-6. Diantara ruko itulah kantor LKS KPAI Sumatera Barat berlokasi. Ruko seluas 4X3 meter dengan sebuah papan tulis putih, dua buah lemari penyimpanan dan tiga buah meja beserta beberapa kursi plastik berwarna merah merupakan inventaris ruangan yang sekaligus menjadi kelas belajar. Jika pembelajaran mulai terasa membosankan di dalam ruangan, sesekali murid dibawa ke Taman Imam Bonjol. "Untuk me-refresh otak anak yang sudah tegang dengan rutinitasnya," terang Nofra Winardi selaku administrator di lembaga tersebut. Bimbingan yang diberikan pihak LKS KPAI kepada Anjal dimulai dengan melakukan survey sebelumnya. Kunjungan rumah Si Anjal diadakan untuk mengkategorikan apakah Anjal tersebut berhak mendapat bimbingan atau tidak. Dari survey yang dilakukan, anak digolongkan dalam dua jenis yaitu anak yang benar-benar hidup di jalanan dan tidak. Banyak ditemukan anak-anak yang kabur dari rumah akibat broken home dalam keluarganya dan tak jarang anak-anak yang pergi dari rumah untuk sesaat dan kembali lagi setelah puas dijalanan. Lebih kurang sekitar 130 Anjal sudah didata LKS KPAI. Proses pendataan dimulai dengan mengarahkan staf pendidik turun ke lapangan. Staf pendidik yang umumnya adalah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi Kota Padang disebar pada beberapa titik yang diperkirakan menjadi ladang berkumpul Anjal. Merangkul Anjal mereka lakukan melalui pendekatan. Pendidikan yang diberikan tidak terfokus pada pendidikan formal saja, tapi juga pendidikan non-formal. Peserta didik dapat belajar keterampilan menjahit, menggambar dan banyak hal lainnya sebagai bekal jika mereka merambah umur dewasa. Sementara anak-anak yang putus sekolah akan diberikan pendidikan dengan gratis dan diikutsertakan dalam ujian kesetaraan SMP dan SMA. Terkait dana untuk lembaga, Nofra Winardi mengatakan dana berasal dari lembaga-lembaga dan donatur-donatur penyumbang dana. "Nanti kita arahkan untuk pengembangan dan kemajuan lembaga," tutup Nofra.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Novi Yenti
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

8 + 8 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.