"Panggung yang sporadis dapat menjawab keresahan pegiat teater akan kebutuhan sebuah panggung"- Robby W. Riyodi
Hari itu, ada yang berbeda dengan keadaan di Aula Panti Asuhan Aisyiah, Nanggalo, Sawah Liek, Minggu (30/3). Tikar sajadah digulung, kursi, sofa, dan meja dikesampingkan. Ruangan dibuat kosong di bagian tengahnya. Anak-anak panti asuhan duduk membentuk setengah lingkaran memenuhi bagian belakang ruangan. Sesekali mereka berbisik-bisik, menduga-duga apa yang akan berlangsung di sana. Dihadapan mereka sudah ada beberapa orang yang sepertinya akan melakukan pertunjukan.
Benar, siang itu akan ada penampilan teater dari Ruang Kreativitas (RK) Serunai Laut. Penampilan ini merupakan salah satu acara yang diselenggarakan guna memperingati hari Teater Sedunia ke-53 yang jatuh pada tanggal 27 Maret oleh seluruh pegiat teater.
RK Serunai Laut mementaskan teater dengan judul "Dalam Kurung", yang disutradarai oleh Robby Wahyu Riyodi. Pementasan diwakili oleh empat aktor, yaitu seorang pria dewasa yang berperan sebagai pembawa acara dalam sebuah televisi dan memandu penonton selama pertunjukan teater, wanita dewasa sebagai ibu rumah tangga, serta seorang gadis, dan lelaki sebagai anaknya.
Pertunjukan teater ini menceritakan fenomena kehidupan sebuah keluarga yang dikurung dalam sebuah acara televisi. Keluarga yang kurang harmonis antara ibu dan anaknya. Anak laki-laki yang sibuk bermalas-malasan dengan menonton acara televisi dan banyak menghabiskan waktu untuk tidur. Anak perempuan, sibuk dengan laptop dan jejaring sosialnya. Mereka berdua lebih mengutamakan kesibukan yang tidak berguna dibandingkan menolong pekerjaan orang tuanya. Hal ini membuat sang ibu marah dan kesal. Namun semua itu hanya terjadi ketika mereka ada dalam kurungan sebuah televisi. Ketika kurungan itu dilepaskan, masing-masing aktor tadi kembali ke kehidupan nyata mereka.
Kali ini, Robby memilih tempat yang berbeda untuk panggung pementasannya. Bukan sebuah panggung megah. Melainkan panggung sederhana di aula sebuah panti asuhan. Melalui pertunjukan drama "dalam kurung" yang berarti semiotika akan sebuah keluarga ini, Robby ingin memotivasi anak-anak panti asuhan Aisyiah agar belajar lebih giat lagi. Karena dari riset kecil-kecilan yang ia lakukan sebelum pertunjukan, ia menemukan bahwa anak-anak panti di sana sedang kekurangan motivasi dalam belajar dan bekerja.
Tidak hanya panti asuhan, sekolah juga menjadi pilihan sebagai panggung pementasan dalam rangka memperingati hari teater ini. Teater OASE dari Unit Kegiatan Kesenian Universitas Negeri Padang (UNP) mementaskan teater "Beranak Anjing" di SMA Pembangunan UNP yang berisikan tentang isu berburu dalam masyarakat minangkabau.
Selain pementasan teater, juga diselenggarakan pelatihan keteateran bersama, kritik teater, ota hari teater, bedah buku Dramaturgi Sandiwara, dan Pertunjukan Teater milik Dede Pramaeza, staf pengajar ISI Padang Panjang. Acara ini berlangsung di Sekretariat Kelompok Studi Sastra dan Teater Noktah, sehari sebelum hari peringatan teater.
Sebagai acara puncak dari kegiatan ini, komunitas Salingka Teater Padang mengadakan acara penutupan di Medan nan Balinduang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (Unand) pada Minggu malam (30/3). Ada penampilan Musikalisasi Puisi, aksi pantomim dan pertunjukan teater oleh Teater Langkah dari Sastra Unand yang membawakan naskah "Bak". "Bak" disini memiliki dua pemaknaan, yaitu sebagai tempat penampungan dan perumpamaan, perumpamaan atau andai-andai akan menjadi apa seseorang setelah ia keluar dari bak penampungan itu.
Pementasan teater yang diadakan oleh Robby dan rekan-rekannya di tempat seperti sekolah dan panti asuhan merupakan salah satu upaya agar pementasan teater tidak terpusat pada satu set panggung mewah. "Panggung yang sporadis dapat menjawab keresahan pegiat teater akan keberadaan sebuah panggung," tutup Robby.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!