Di pulau ini, harapan-harapan yang sempat tercipta lenyap dengan perlahan.
Hembusan air laut dan aroma amis hasil tangkapan nelayan melekat di udara. Daratan, tepian pasir yang tak putih, disertai debur ombak seolah menyapa saat tapak mulai menyusurinya. Adalah Pulau Pasaran, Kota Karang Bandar Lampung yang merupakan lahan industri pengering olahan tangkapan laut.
Siang itu, di bawah sengat matahari, pulau yang pada awalnya hanya berkisar 12 hektar ini terlihat beberapa nelayan tengah mengolah hasil tangkapan laut di atas kapal kecilnya. Dayung demi dayung air rebusan ikan teri mereka buang ke laut. Di sisi lain juga tampak beberapa bapak dan ibu-ibu tengah menjemur ikan-ikan kecil berwarna putih terbut.
Benar, begitulah aktivitas kehidupan warga penghuni pulau di bagian selatan Teluk Betung Provinsi Bandar Lampung ini dalam memproduksi ikan teri. Hasil tangkapan nelayan-ikan teri langsung direbus di atas kapal kemudian dilakukan pengeringan di pulau, pemandangan biasa di pulau yang dihuni 1.158 jiwa penduduk ini.
Tiga puluh persen penduduk pulau ini merupakan pemilik pengolahan ikan, sepuluh persen merupakan pedagang, dan sisanya merupakan buruh di tempat pengolahan. Ikan laut menjadi sumber pencaharian ekonomi warga sekitar.
Namun lingkar kehidupan tak sebatas mengolah ikan, berdagang, dan menjadi buruh semata. Masih ada hembusan impian dari setiap napas kehidupan mereka. Walau rutinitas perkantoran dan lintas pendidikan menjadi pemandangan langka di sini. Hanya ada beberapa saja yang berstatus sebagai pekerja kantoran, Pegawai Negeri Sipil, dan pekerja nonburuh lainnya. Karena seperti inilah pengakuan Sugur, Ketua RT 09 Lingkungan 2 Kelurahan Kota Karang, Kecamatan Teluk Betung.
Bukan karena tidak ada sarana sama sekali. Pembangunan sarana dan prasarana sudah meningkat seperti Puskesmas, Air PDAM, jembatan penghubung kota dengan pulau, dan sebagainya. Namun sangat disayangkan, karena keterbatasan lahan yang tersedia menjadikan Sekolah Dasar (SD) sebagai sarana pendidikan tertinggi di pulau ini. Tidak ada Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, apalagi Sekolah Tinggi.
Seperti yang diceritakan oleh Firah Wahyuni. Dara 15 tahun yang akrab disapa Yuni ini. Ia memilih tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang menengah pertama yang berada di luar pulau. Jarak tempuh yang jauh antara rumah dan sekolah mengurungkan niatnya untuk bersekolah. Sebab, ia mengaku bahwa finansial orang tua tak mampu mengampu seluruh biaya untuk akses pendidikannya. "Lebih baik bekerja menolong mereka," tutur perempuan yang sempat bercita-cita menjadi bidan ini.
Warni, Ibu Yuni merasa iba melihat anaknya yang seharusnya sedang duduk di bangku sekolah malah berkeringat untuk memperoleh uang. Sudah tiga orang anaknya yang putus sekolah. Harapannya pun tertumpah pada anak keempatnya, Syamsia yang baru lulus SD.
Tak tinggi harapan, ia pun tak mau bermimpi bahwa kelak anaknya akan mengecap pendidikan hingga bangku perkuliahan. "Dapat lulus dari SMP dan SMA saja sudah cukup," tutur perempuan paruh baya ini.
Banyak dari mereka yang mematikan harapannya di Pulau Pasaran oleh sebab tidak terpenuhinya kebutuhan sarana dan prasarana menuju akses pendidikan, dan sekalipun ada, itupun tak terjangkau oleh kemampuan finansial mereka. Harapan-harapan yang sempat tercipta lenyap dengan perlahan. Berhembus bersama angin laut, hingga hilang tak berbekas.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!