Seni akan tetap ada karena dijaga, dan kita menjaga karena ia memang pantas untuk dijaga.
Getaran dawai saling bergesekan yang merambat melalui dinginnya malam menghasilkan alunan nada-nada indah dan mendayu-dayu. Di sela-sela alunan alat musik itu terdengar suara wanita mendendangkan sebuah cerita yang sarat makna (kaba). Suara rebana yang dipukul pun sesekali mengiringi dan memperkuat nuansa cerita yang disampaikan.
Seluruh pasang mata tertuju pada mereka. Menyaksikan penampilan kesenian tradisional Minangkabau dari Pesisir Selatan oleh tiga laki-laki serta dua wanita yang duduk di atas kasur yang dibentangkan di tengah rumah. Rabab pasisia namanya. Seni suara yang diiringi dengan alat musik seperti biola. Menggelar acara rabab ini merupakan kebiasaan masyarakat Pesisir Selatan di setiap ada pesta.
Nasri, seorang pemain rabab pasisia menuturkan bahwa rabab pasisia mulai berkembang sejak tahun 60-an. Dimainkan pertama kali oleh Ayek (kakek) Lidar dan Ayek Bicam. Kebanyakan cerita rabab bertutur tentang perjalanan hidup seseorang, kisah tentang asmara, penderitaan, kesedihan, dan kisah-kisah dari masa lalu. Selain sebagai sarana hiburan, rabab juga digunakan sebagai sarana dakwah untuk menyampaikan nilai-nilai agama dan adat.
Seiring berjalannya waktu dan munculnya berbagai musik modern, rabab pasisia mulai berganti warna. Mulai dari cara bermain, hingga makna yang disampaikan dalam kaba-nya. Dahulunya, rabab pasisia terkenal dengan nilai adatnya yang kental, berganti dengan musik tradisional setengah modern yang dipadukan dengan berbagai alat musik lain, seperti saluang, musik orgen, dan gendang dangdut.
Menurut cerita Nasri, semenjak tahun 2000, rabab pasisia tidak hanya dimainkan oleh laki-laki, tapi wanita pun juga mulai ikut andil. Selain itu, tempatnya tidak lagi seperti dulu, yang dimainkan di atas kasur yang dibentang di tengah rumah, melainkan telah ada yang digelar di atas panggung.
Nasri menyayangkan kemasan rabab pasisia seperti yang sekarang. Menurutnya, meskipun kemasan ini tidak menghilangkan rabab pasisia secara keseluruhan, tapi telah melunturkan nilai adat yang terkandung di dalamnya. Karena cara main dan kaba yang disajikan melalui rabab pasisia sebenarnya memiliki makna adat tersendiri.
Pemain rabab dulunya hanya laki-laki dan duduk di atas kasur di tengah rumah pesta yang disuguhi langguaiÂ-semacam carano yang diisi sirih- serta dihormati sebagaimana menghormati mamak di rumah itu. Ini bertujuan agar mamak dan sumando bisa menyaksikan pergelaran rabab secara langsung.
Selain itu, pesan-pesan kehidupan dan nilai-nilai adat yang disampaikan dalam rabab pasisia masa lampau sangat jarang ditemukan pada rabab pasisia saat sekarang ini. Kaba dan lirik-lirik lagunya hanya sekadar cerita cinta yang dangkal dan cenderung tidak menyampaikan pesan moral.
Seni kebanggaan masyarakat Pesisir Selatan ini memang telah berubah seiring dengan perkembangan zaman. Kesenian yang seharusnya dijaga dan dilestarikan, malah mulai dilunturkan. Sekarang rabab bukan lagi sebagai sarana untuk menyampaikan nilai-nilai yang sarat akan makna. "Rabab pasisia sekarang lebih sebagai hiburan saja," tutup Nasri.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!