Feature

Pusaka Hidup Kaum Piliang

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Kamis, 25 November 2010 16:08 WIB • 👁 1.749 Pembaca

Susi (26) mengangkat Batu Angkek-angkek hingga mencapai pangkuannya ketika sedang bersila di bilik berukuran 3 x 2 meter dengan khidmat. Tak berapa lama, perlahan ia merogoh kantong celananya, menggenggam sekian rupiah dan memasukkannya ke dalam kotak, setengah meter di depan Susi bersila. Pancaran kesenangan jelas tergambar dari raut wajah Susi. "Saya menjadi optimis dan bersemangat untuk mencapai impian," ungkap gadis asal Batipuh, Kabupaten Tanah Datar ini berapi-api, Jumat (28/5).

Itulah sejumput ‘ritual’ kecil yang dilakukan orang-orang di depan Batu Angkek-angkek, di desa Balai Tabuh, Kecamatan Sungayang, Tanah Datar. Konon, dipercaya penduduk setempat, sebagai tanda harapan akan terwujud bila mampu mengangkat sang batu ke pangkuan dan begitupun sebaliknya.

Bentuk batunya seperti kura-kura terbalik. Permukaan atas datar dengan lubang kecil di tengahnya. Permukaan tersebut hitam dan di sekelilingnya coklat keemasan. Sedangkan di bagian belakang batu, cembung, terukir lafadz Allah dan Muhammad. Batu Angkek-angkek, demikian namanya, sejak ditemukan sekitar seratus tahun silam. Dalam Bahasa Indonesia kata Angkek sepadan dengan kata angkat.

Sekarang, batu ini diletakkan di rumah gadang Arfi Putra (37), keturunan ke delapan Datuk Bandaro Kayo di desa Balai Tabuh, Kecamatan Sungayang Kabupaten Tanah Datar. Beberapa tahun belakang keunikan batu ini dijadikan objek wisata daerah tersebut.

Mengenai sejarah batu, Arfi bercerita sekitar 100 tahun silam, Datuk Bandaro Kayo kepala suku kaum Piliang bermimpi didatangi Syech Ahmad. Dalam mimpinya Syech Ahmad menyuruh Datuk Bandaro Kayo mendirikan perkampungan yang sekarang bernama Kampung Palangan.

Pada saat pemancangan tonggak pertama, tiba-tiba terjadi gempa lokal, disusul hujan panas selama 14 hari 14 malam. Karena itu, masyarakat pun bermusyawarah. Saat musyawarah, terdengar suara aneh dalam lubang tempat pemancangan tiang. Suara tersebut mengatakan, kalau di dalam lubang terdapat batu bernama Batu Pandapatan. Suara itu juga berpesan agar batu itu dijaga baik-baik. "Sejak itu, batu tersebut dipercaya memiliki kemampuan gaib. Bisa ‘melihat’ ke depan, apakah keinginan atau cita-cita seseorang bisa tercapai atau tidak," pungkas Arfi.

Bagi Arfi, seseorang boleh percaya atau tidak dengan sejarah itu, namun kalau tentang batu yang bisa meramal nasib seseorang, Arfi meminta masyarakat untuk tak meyakininya. Batu Angkek-angkek hanyalah sebuah media pendukung, karena tercapai atau tidaknya cita-cita seseorang merupakan kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Begitupun perihal terangkatnya batu juga merupakan kuasa Tuhan. Arfi tak ingin manusia menjadi lalai dan syirik.

Kendati demikian, masyarakat tetap datang menyaksikan dan mencoba kesaktian sang batu. Seperti yang dilakukan Adi (32), lelaki paruh baya yang sengaja datang jauh-jauh dari Sijunjung, ikut meramal nasib di sana. Di hadapan Batu Angkek-angkek, dia duduk bersimpuh dan terlihat mulutnya bergerak melafazkan basmalah dan Shalawat Nabi sebanyak tiga kali dengan takzim. Tak lama berselang, kepalanya menunduk lama layaknya orang khusyuk berdoa, perlahan mengangkat batu itu kepangkuan. Namun, tiga hingga lima menit berlalu sang batu tak jua bergeser dari tempatnya, padahal Adi bertubuh besar. "Jujur saja saya kecewa," akunya, Jumat (28/5).

Itulah keanehan dari batu ini, badan besar, dan kuat tak menjamin dapat mengangkat sang batu. Hal ini tentulah tak bisa diterima logika begitu saja. Muncul pertanyaan, jenis apa sebenarnya batu tersebut. Mengenai hal ini, Arfi menjelaskan, jenis batu masih merupakan misteri yang belum terkuak sampai detik ini. Menurutnya, benda yang berat jenisnya selalu berubah-ubah sesuai orang yang mengangkatnya tak bisa ditentukan sejenis apa benda itu. "Yang jelas Batu Angkek-angkek adalah peninggalan sejarah yang tak ternilai harganya," tutup Arfi sambil menyapa pengunjung yang berdatangan.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Santi Syafiana
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

3 + 9 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.