Feature

BBM Langka, Nelayan Merana

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Kamis, 25 September 2014 11:08 WIB • 👁 1.436 Pembaca

Tak selamanya tangkapan kami menghasilkan. Kadang ada, kadang tidak.

Aktivitas melaut para nelayan di sekitar Pantai Padang dimulai sejak fajar menyinsing di ufuk timur. Tak seperti biasanya, lelaki beranak tiga itu tidak pergi melaut. Bertemankan sebatang rokok ia malah sibuk mengelupaskan cat pada sisi kiri dan kanan biduk kapalnya untuk dicat kembali.

Sepagi itu, memang tak tampak harapan baginya untuk melaut, sehingga ia memutuskan untuk membenahi beberapa bagian kapal yang akan diperbaharui warnanya. Nelayan itu adalah Siyus. Siyus yang bernama asli Yusril ini sudah 11 tahun menjadi nelayan di daerah Persi Muaro Ganting, Kelurahan Parupuk Tabing, Padang, Sumatera Barat. Lelaki paruh baya yang pernah ditinggal pergi istrinya ini sudah lima hari tidak melaut dikarenakan cuaca buruk dan sulitnya untuk mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM).

Nelayan di daerah Persi Muaro Ganting menggunakan bensin untuk melaut. Semenjak bulan puasa, Siyus dan nelayan daerah setempat jarang melaut dikarenakan cuaca yang tidak bersahabat. Akhir-akhir ini, permasalahan nelayan ditambahpanjangkan deretnya oleh kelangkaan BBM. Melaut pun menjadi jarang dilakukan disebabkan oleh langkanya BBM beberapa hari belakangan.

Tak jauh berbeda dengan Siyus, Syahril Indra juga mengalami hal yang sama. Setidaknya ia memerlukan 5 liter bensin untuk bisa sampai ke tengah laut. Tak jarang ia harus berhutang dahulu untuk mencari modal melaut. Jika ia telah kembali melaut dan hasil tangkapan berhasil dijual, barulah hutang terbayarkan. "Sisonyo untuak sahari-hari (sisanya untuk kebutuhan sehari-hari)," tutur ayah dari empat orang anak ini. Untuk menambah kebutuhan rumah tangga, istri pria yang akrab disapa Cakur ini harus bekerja di Pasar Kaget.

Nelayan di Pantai Gajah 3, Air Tawar Barat, Padang ini juga mengeluh akibat sulitnya mendapatkan bensin untuk melaut. Salah satunya Syamsuir. Lelaki berumur 70 tahun ini mencemaskan jikalau BBM langka, pasti ada kemungkinan akan naik harga sembako. Jika harga sembako melambung, tentu saja kehidupan nelayan akan semakin terdesak.

Syamsuir yang telah melaut semenjak tahun 1960 ini beserta nelayan lainnya di sekitar Pantai Gajah berinisiatif membuat ikan kering untuk membantu meringankan kebutuhan hidup. Mereka biasanya juga menggiling ikan yang tidak laku untuk dijadikan makanan ternak. Para nelayan ini harus mencari akal untuk tetap bertahan hidup dengan pendapatan yang semakin tidak menjanjikan. Jika cuaca baik dan bersahabat, ia bisa mendapatkan 300 ribu rupiah dalam sehari. Sebaliknya, jika sedang masa sulit ia bisa saja hanya mendapat 20 ribu rupiah bahkan merugi karena tidak dapat sama sekali.

Di samping permasalahan BBM yang sedang melintang, untuk melaut, para nelayan ini bekerja dalam bentuk kelompok. Basril yang ditemui setelah pulang dari mengantarkan rumpun (kayu dan dedaunan tempat tidur ikan) ke tengah laut mengatakan bahwa nelayan di sana memiliki sebuah komunitas yang bernama Kelompok Nelayan Nipah Patenggangan.

Kelompok ini sebagai wadah bagi nelayan untuk berkoordinasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan. Kelompok nelayan yang beranggotakan 40 orang ini menjadi andalan bagi mereka untuk menerima bantuan dari dinas. Sayangnya, dari sekian banyak nelayan yang ada, tidak semua dari mereka mau bekerja dalam bentuk kelompok nelayan. Mereka beranggapan bahwa kelompok hanya akan menambah perpecahan diantara mereka. Padahal, sebenarnya kelompok ini, keberadaannya untuk memudahkan memecahkan permasalahan para neleayan, termasuk BBM di dalamnya.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Suci Larassaty
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

7 + 8 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.