Selalu ada cerita ataupun bukti-bukti fisik yang ditinggalkan oleh orang-orang besar pada masanya. Hukum itu tetap berlaku sampai kapanpun.
Siang itu cerah untuk menikmati Kota Tua, Medan. Suasana hiruk pikuk Kota Tua tak menyurutkan langkah terus berjalan kaki di tanah Deli dan berpacu dengan kendaraan yang berlalu-lalang lainÂnya. Sesuai namanya, di kawasan ini terÂdaÂpat banyak bangunan tua yang berdiri koÂkoh memamerkan pesona. Salah satunya adaÂlah rumah Tjong A Fie.
Rumah ini terletak di JaÂlan Jenderal Ahmad Yani, Kesawan, Sumatra Utara. Rumah yang berusia 119 taÂhun ini diberi nama Tjong A Fie, untuk meÂngenang orang terkaya pertama di Sumatra yang bernama Tjong Fung Nam atau yang lebih dikenal dengan Tjong A Fie.
Memasuki gerbang rumah Tjong A Fie terÂlihat halaman dengan lingkaran taman yang penuh bunga. Dari depan terlihat keÂmeÂÂgahan bangunan akbar yang berdesain seÂperti klenteng.
Pemandu wisata di rumah Tjong A Fie, Wawan, mengatakan bahwa ruÂmah ini dibangun pada 1895 dengan mengÂgunakan tiga desain bangunan, yaitu Eropa, Cina, dan Melayu. Rumah yang terÂdiri dari dua lantai, 24 kamar, dan 17 ruangan ini seÂlesai pada 1900. Mempunyai tiga ruang tamu, di antaranya: ruang tamu untuk kunÂjungan Sultan Deli yang didesain dengan menggunakan desain Melayu, ruang tamu untuk umum, dan ruang penghormatan. Di ruang penghormatan ini pengunjung dilarang untuk mengambil gambar, karena itu merupakan tempat suci bagi agamanya. "Pada Januari sampai Juni 2014 kemarin, rumah ini selesai direnovasi dengan dana dari Amerika," ungkap Wawan, Senin (20/10).
Rumah ini memiliki nilai sejarah, seÂperÂti yang dikatakan Wawan, bahwa di ruÂÂmah ini terpajang tongkat penghargaan daÂri Tapanuli Selatan dan surat pengÂharÂgaÂan dari Gubernur Hindia-Belanda. TongÂkat penghargaan itu diberikan langsung oÂleh Raja Tapanuli Selatan kepada Tjong A Fie karena telah memberikan bantuan unÂtuk membangun masjid.
Tidak hanya itu, di ruang makan terÂpaÂjang satu foto berukuran besar. Foto itu adaÂlah foto makan bersama Tjong A Fie deÂngan Presiden Soekarno dan Sultan Deli yang merupakan pendiri Istana Maimun saat perayaan Imlek. Di langit-langit ruang makan terdapat lukisan tangan dengan baÂhan pewarna lukisan terbuat dari bahan orÂganik, yaitu getah pepohonan dan getah buah-buahan, lukisan itu masih asli dan belum pernah dicat ulang.
Di kamarnya juga terdapat benda-benda berÂsejarah lainnya. Seperti, satu set lemari deÂngan tempat tidur yang dibawa dari EÂropa dan baju Tjong A Fie bersama istri. Ada lagi dua buah lemari yang khusus diÂbawa dari Jerman dan Belanda. Di lantai kaÂmar ini terdapat koper pertama Tjong A Fie yang terbuat dari tembaga yang diÂbawa dari Tiongkok. Timbangan badan tahun 1970, satu buah patung yang diukir tahun 1975, dan meja kerja yang dulunya digunakan oleh Tjong A Fie. Di kamar ini pengunjung diperbolehkan berfoto dengan syaÂrat tidak menggunakan lampu flash. "KaÂrena satu bidikan flash dapat menguÂrangi keaslian warna benda-benda berÂsejarah ini," ujar Wawan.
Rumah ini menyimpan banyak sejarah yang pernah dilalui Tjong A Fie. Rumah ini mengantarkan Tjong A Fie ke puncak keÂjaÂyaÂannya untuk mengelola 17 perÂkeÂbuÂnan. Dengan kemegahan, kebesaran, dan kemeÂwahan barang-barang yang ada, ruÂmah ini menjadi saksi bahwa pemiliknya perÂnah berkuasa di masanya.
Selain itu, juga terdapat benda-benda unik lainnya, seperti patung, lampu hias, telpon rumah yang sudah tua, dan silsilah keluarga Tjong A Fie hingga generasi terakhirnya. Di rumah ini juga terdapat foto Tjong A Fie yang meÂngenakan baju kebesarannya. Foto yang suÂdah puluhan tahun terpajang ini turut menÂjadi sejarah. Bagaimana rumah ini menÂjadi saksi kehidupan pemiliknya dulu. SeÂhingÂga rumah yang seluruh jendelanya berÂcat hijau dipadu dengan warna kuning ini menjadi salah satu objek wisata terkenal di Sumatra Utara.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!