Artikel

Pentingnya Menjaga Keseimbangan Hutan

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Rabu, 16 Agustus 2017 15:02 WIB • 👁 1.152 Pembaca

Kita semua mengetahui bahwa hutan adalah salah satu sumber kehidupan. Tanpa adanya hutan, akan terjadi ketidakseimbangan kehidupan manusia di bumi. Sayangnya, saat ini kondisi hutan di Indonesia mulai terancam. Dilansir dari temuan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumatera Barat (Sumbar), setiap tahun Indonesia mengalami deforestasi, yaitu kehilangan hutan akibat kebakaran hutan, perambahan hutan, dan alih fungsi lahan. Sumbar sendiri mengalami deforestasi seluas 81.830 hektare pada tahun 2009-2013, setara dengan 5,35 % per tahun.

Allah SWT telah mengingatkan kita sebagai khalifah di muka bumi untuk menjaga keseimbangan bumi. Namun, kita melihat masih banyak tangan-tangan jahil yang dengan sengaja merusak hutan, dengan dalih demi mencukupi kebutuhan manusia. Tidak bisa dipungkiri bahwa beberapa masyarakat memang memanfaatkan hutan sebagai mata pencaharian mereka. Tetapi, jangan sampai disalahgunakan. Saat ini seringkali kita temukan pada saat terjadi bencana, masyarakat maupun pemerintah saling menyalahkan. Oleh sebab itu, keberadaan hutan sangat penting dan perlu perhatian lebih dari masyarakat maupun dinas terkait.

Sebenarnya hutan sangat bermanfaat bagi manusia. Salah satunya yang terpenting adalah hutan sebagai pemasok oksigen yang kita hirup. Bahkan, Indonesia dijuluki dengan 'Paru-paru Dunia' karena luasnya hutan yang dimiliki. Selain memproduksi oksigen, hutan juga berfungsi sebagai penyerap dan penyimpan karbondioksida, pemenuh kebutuhan manusia, habitat alami flora dan fauna, pencegah banjir, erosi dan tanah longsor, serta sebagai penyimpan cadangan air.

Tidak hanya itu, hutan juga dijadikan sebagai wahana hiburan dan rekreasi. Tidak sedikit yang memanfaatkan hutan sebagai tempat wisata edukasi serta dijadikan sebagai tempat riset dan studi biologi yang sangat diminati oleh berbagai pakar ekosistem. Juga sebagai sarana olahraga seperti hiking, berkemah atau bersepeda. Dan tidak kalah penting adalah hutan sebagai pengatur iklim.

Kerusakan hutan akan mendatangkan masalah bagi manusia. Seluruh aspek kehidupan juga akan rusak, karena fungsi hutan tidak lagi berjalan dengan semestinya. Hal tersebut akan berdampak pada perubahan iklim, rusaknya ekosistem darat dan laut, terganggumya siklus air. Selain itu, kerusakan hutan juga mengakibatkan erosi, banjir, longsor, kekeringan, dan dampak lainnya yang merugikan. Semua itu akan bermuara pada kerugian ekonomi.

Telah banyak kejadian yang berdampak buruk bagi manusia akibat tidak terjaganya hutan. Seperti banjir yang menimpa Kota Padang beberapa waktu lalu. Bayangkan saja, sebuah ibu kota provinsi kebanjiran hanya dalam waktu semalam. Hal itu tak jauh berbeda dengan Kota Jakarta yang selalu mendapat kiriman banjir. Selain banjir, longsor juga mengancam daerah perbukitan akibat maraknya penebangan liar. Hal ini akan menimbulkan kerugian, tak hanya kerugian finansial, tapi psikologis mereka di daerah bencana juga akan terganggu.

Akibat hutan yang rusak, banyak satwa-satwa liar masuk desa maupun kota untuk mencari makanan karena habitat mereka telah rusak. Masuknya satwa liar ke permukiman akan merugikan manusia sendiri. Mereka akan menghancurkan perkebunan dan sebagainya, tak jarang pula manusia menjadi korbannya.

Telah banyak kerugian yang disebabkan oleh kerusakan hutan, tapi kesadaran itu masih belum tertanam di hati para pelaku yang melakukan aksi perusakan. Masih banyak yang melakukan deforestasi, walau pemerintah telah memberi peringatan dalam bentuk teguran maupun hukuman kepada mereka. Seharusnya kita sadar akan pentingnya hutan sebagai penyeimbang kehidupan di bumi. Saat hujan deras akan terjadi banjir bahkan longsor, tapi ketika hujan tidak turun malah semakin parah lagi dengan timbulnya kekeringan. Hidup akan menjadi susah jika terus dibiarkan seperti ini.

Kepala Bidang Perencanaan dan Pemanfaatan Hutan Dinas Kehutanan Sumbar, Mgo Senatong menyampaikan dalam diskusi publik yang diadakan oleh Walhi Sumbar bahwa pemerintah sudah mengupayakan agar hutan Sumbar tetap seimbang dan berfungsi seperti seharusnya. Namun, ia juga mengaku bahwa tindakan yang menyebabkan rusaknya hutan masih belum optimal karena kurangnya sumber daya manusia. Polisi hutan terbatas, sedangkan aksi-aksi orang yang tidak bertanggung jawab tiap tahun semakin banyak. Tak dapat dipungkiri bahwa filsafat yang salah dipakai kebanyakan orang bacakak jo urang tu labiah ancak daripado bacakak jo galang-galang. Artinya, lebih baik bertengkar dengan manusia daripada kelaparan. Hal itulah yang menyebabkan semakin banyaknya penebangan liar.

Ini bukan hanya masalah dua-tiga orang saja, tapi ini masalah bersama. Tidak dapat diselesaikan secara perundingan saja, tapi sangat dibutuhkan kerja nyata. Dampaknya tidak bisa di pandang sebelah mata. Efek global warming makin terasa. Apakah akan kita biarkan saja terus seperti ini? Tidakkah kita memikirkan bagaimana kehidupan anak cucu kita 20 hingga 30 ke depan?

Seharusnya masing-masing kita intropeksi diri bagaimana perlakuan kita terhadap alam, bukan hanya menunggu dari pemerintah saja. Salah satunya adalah dengan melakukan rebosasi atau penghijauan lahan. Selain itu, kita juga bisa menghentikan penebangan liar dan menerapkan sistem tebang pilih. Untuk pohon yang dipilih sebaiknya memiliki kualifikasi-kualifikasi tertentu yang layak di tebang. Langkah lainnya adalah mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, karena menyebabkan adanya pencemaran udara. Terlebih lagi persedian minyak bumi dari fosil juga semakin berkurang. Kini penggunaan bahan bakar alternatif seperti bahan bakar biogas dan panel surya telah mulai marak di negara maju.

Untuk pemakaian hasil produksi yang berasal dari kayu hutan juga harus berpandai-pandai. Misalnya dalam penggunaan tisu dan kertas. Kita bisa menggantikan tisu dengan sapu tangan. Begitu pun dengan penggunaan kertas yang telah bisa di daur ulang. Yang terpenting adalah, kita lebih memiliki kesadaran dalam menjaga lingkungan hutan. Mulailah dari diri sendiri, dengan begitu kita bisa mengajak yang lain untuk melindungi hutan kita.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Monalisa
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

2 + 9 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.