Resensi

Perkara Seks yang Tak Remeh

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Senin, 20 Desember 2010 04:16 WIB • 👁 1.323 Pembaca

Judul : Wahai Pemimpin Bangsa, Belajar dari Seks, dong!

Penulis : Mariska Lubis

Penerbit : PT. Grasindo

Cetakan : I, 2010

Tebal : xxiv + 135 halaman

Harga : Rp45.000,-

Berbicara perkara seks, siapa yang tak tertarik. Dari orang biasa sampai kaum berwibawa, dari yang tak bertuhan hingga umat beragama. Meski di keramaian sebagian orang merasa risih ketika membahas hal-hal yang berbau-bau seks, namun tak dapat dipungkiri, setiap pribadi pasti penasaran dengan seks. Porsi seks yang dibahas tentu juga berbeda-beda. Ada yang vulgar, ada yang memahaminya dengan malu-malu. Intinya, Seks membuat orang lain ketagihan, tidak hanya sebagai teori, tapi juga secara praktis.

Lalu, apa jadinya jika seks dikaitkan dengan masalah-masalah kehidupan yang lebih ruwet dan komplit. Perpaduan antara seks dan politik akan menghasilkan suatu adonan makna yang menarik dan layak untuk diteliti lebih lanjut. Percampuran seks dan budaya tidak melulu mesti dibahas sebagai sesuatu yang tabu, tapi perlu dipandang ‘dekat-dekat’. Fenomena yang terjadi sekarang yang berkaitan dengan seks, tak lepas dari dari pengaruh-pengaruh faktor luar seperti politik, spiritual, budaya, dan sebagainya. Sehingga maknanya perlu dipahami dengan mata lebih terbuka dan kepala lebih besar agar tak memiliki pikiran yang sempit.

Sebagai contoh, siapa yang tahu arti masturbasi otak? tentu saja sang penulis, Mariska Lubislah orang yang pertama tahu. Ia mengupas masturbasi otak dengan gamblang dan bermakna dalam satu judul dari sederet judul yang ada dalam buku ‘Wahai Pemimpin Bangsa, Belajar dari Seks, dong!". Biasa melakukan masturbasi otak, berarti ketagihan dalam menikmati istilah konotasi dan denotasi awam tentang ‘pintar’ dan ‘berkelas’nya diri sendiri, itu yang ingin disampaikan Mariska. Hal ini sangat sering terjadi pada orang-orang bergelar di Negara Indonesia. Orang-orang itu sibuk berkutat dengan buku-buku dan teori-teori kepintaran. Sehingga informasi yang didapat diartikan seperti apa yang dijelaskan dalam buku, kadang tanpa analisis dan tak punya sudut pandang sendiri. Ketika ditanya arti suatu istilah, mereka merujuk berbagai literatur, tapi hampa dari otak mereka sendiri. Mariska menulis langsung pengalamannya dengan seorang doktor yang suka masturbasi otak di dalam buku ini.

Ada lagi istilah lain yang masih berkaitan dengan seks, diantaranya Disorientasi moral, Platonic love, Orgasme politik, Prostitusi anak pascabencana, dan lain-lain. Semua itu bukan hanya istilah dangkal yang berhubungan dengan ‘tabu’-nya seks saja. Tapi, selalu punya falsafah dan pemikiran di belakangnya yang berkaitan dengan politik, sosial, budaya, agama dan sejarah. Seks tidak melulu soal keperawanan dan perjaka, tidak hanya masalah nafsu, reproduksi, dan antek-anteknya.

Atas dasar cinta akan negara dan bangsa, penulis -sesuai dengan keahliannya, sebagai Konsultan Seks di salah satu majalah pria- secara sukarela menyentil para pemimpin dan pejabat tinggi dengan kata-kata seks yang tidak porno dan jorok, tapi tetap mengena. Seks ternyata punya andil besar dalam aktivitas politik seorang pemimpin pejabat negara. Menurut ML, panggilan singkat Mariska, pejabat-pejabat zaman sekarang suka melakukan aksi ‘orgasme politik’, dimana mereka hanya berpolitik untuk memuaskan diri sendiri. Tidak peduli lagi dengan masyarakat kecil. Penyimpangan seks-politik ini tentu akan berakibat fatal kepada seluruh bidang. Bisa merambah sampai ke perang saudara dan antar negara, karena para pejabat asik dengan ‘mainan’nya sendiri.

Belum lagi, perkara hidung belang dan kamuflase seksual-politik. Lagi-lagi, Mariska mampu menerjemahkan pesan tersebut dan menghubungkanya dengan para pejabat yang gayanya tak sehat. Indikasi-indikasi yang muncul pun beragam, tapi masih saling berkait. Kecenderungan pejabat adalah berbohong dan mengamuflase keinginannya kepada masyarakat. Masyarakat awam sebenarnya tahu mereka dibohongi. Tapi, mereka juga sibuk ber’orgasme’ dengan kehidupan. Masalah perut yang tak tahu akan diganjal dengan apa. Masalah uang yang tak jelas pintunya. Masalah ini membuat mereka tak ngeh dengan apa yang dilakukan oleh para penyalur asiprasi itu. Toh, mereka tak pernah memikirkan rakyat, begitu kira-kira pesannya.

Lewat pembahasan dan kejelian penulis memilih topik yang unik dan menarik menjadikan buku ini layak dibaca oleh semua kalangan, baik itu orang awam, kalangan menengah, kaum intelektual dari berbagai bidang ilmu, bahkan pemimpin sekalipun. Bahasanya yang nyantai, ringan dan menggelitik tidak hanya membuka cakrawala pembaca sampai pada permasalahan seks saja, tapi juga sampai ke ujung-ujung makna yang jarang terpikirkan oleh manusia.

Resensiator: Dedi Supendra

Mahasiswa Teknologi Pendidikan FIP UNP TM 2008

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Dedi Supendra
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

5 + 5 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.