Ia tegak tak jauh dari pasar kota Payakumbuh, Sumatera Barat. Tepatnya di jalan Jenderal Sudirman di Jembatan Ratapan Ibu, jembatan yang melintasi Sungai Batang Agam, menghubungkan pasar Payakumbuh dengan Nagari Aie Tabik. Sosok perempuan paruh baya yang tengah menangis itu, begitu menyentakkanku. Bagaimana tidak, ia begitu masygul. Sambil menunjuk Batang Agam, mimiknya menggambarkan kebengisan yang dalam namun tak dapat berbuat apa-apa. Seiring waktu, kondisinya pun semakin rapuh.
Tegak di atas jembatan yang dibangun tahun 1818 lalu, sosok perempuan itu tak lagi asing dan menggugah bagi masyarakatnya. Konon, ia didirikan sebagai bentuk kekecewaan sekaligus kemarahan dari masyarakat Payakumbuh terhadap kekejaman kolonial Belanda pada daerah itu. Pada masa pendudukan Belanda, kompeni dan antek-anteknya sengaja mempertontonkan bagaimana sadisnya mereka mengeksekusi para pejuang kemerdekaan di atas jembatan tersebut. Jembatan dengan panjang 40 meter itu, menjadi tempat eksekusi yang memerihkan.
Konon ceritanya, ketika waktu pengeksekusian, para pejuang disuruh berbaris di bibir jembatan. Kemudian mereka ditempak oleh kompeni dengan senjata api. Entah hidup entah mati, para pejuang yang tertembak itu jatuh bergelimpangan dan disambut Batang Agam nan deras dan berbatu. Kaum perempuan tak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa menangis dan mengecam perbuatan terkutuk tersebut.
Patung Ibu menjadi simbol dan refleksi atas sejarah kelam yang pernah bersarang di kota Payakumbuh. Di atas jembatan beraksitektur kuno ini, orang-orang lalu lalang dan sibuk dengan urusan sendiri. Patung Ibu tetap tegak di atas jembatan dengan susunan batu merah setengah lingkaran yang direkat dengan kapur dan semen tanpa menggunakan tulang besi. Namun tak lagi mendapatkan perhatian dari masyarakatnya. Seolah-olah keberadaanya tak begitu berarti lagi.
"Sejarah bukanlah hal yang cukup diminati masyarakat zaman sekarang," cetus Eza (21 th), Sabtu (19/10) lalu. Begitu juga dengan Jembatan Patung Ibu. Hingga kini, patung itu mulai rapuh karena siang malam ditimpa panas mentari dan hujan. Ia penuh lumut dan jarang sekali dibersihkan. Simbol peristiwa kejam ini pun semakin merana dimakan usia.
Akan tetapi beberapa pendidikan dasar cukup kreatif memberikan pemahaman kepada anak didiknya mengetahui lebih luas dan dalam berbagai peristiwa sejarah di daerah mereka tinggal. Welly, salah satu putra daerah kota itu yang juga terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Negeri Padang, pernah meneliti Jembatan Patung Ibu sejak di bagku sekolah dasar. Namun seiring perkembangan usia, pengetahuan itu menguap dan cinta kepada artefak kebudayaan pun lamat-lamat susut. "Sekarang saya tak banyak tahu lagi," jelas Welly.
Sudah selayaknya, patung itu mendapat tempat di hati masyarakat setempat. Sebagai salah satu peninggalan budaya yang sarat makna, Patung Ibu beserta jembatannya sudah sepantasnya mendapat respon positif. Tantangannya, cerita-cerita tentang Patung Ibu semakin langka, patung yang menjadi ikonnya pun mulai rapuh. Jika dibiarkan, masyarakat tidak hanya kehilangan cerita sejarah dan lahiriah patung tersebut, namun juga filosofi perempuan minang yang diagung-agungkan selama ini pun semakin memudar. Cerita-cerita kebesaran perempuan minang di Sumatera Barat sebagai representasi dari matrilineal, bisa jadi, akan tergerus dan tak lagi dipandang sebagai ‘keistimewaan’ yang luar biasa. Tentu kita tak menginginkan hal itu terjadi.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!