PKL, ojek, pengemis, terus hidup di kampus karena dihidupi.
Jalan Gajah Tiga yang semula tenang, gaduh oleh suara sepatu yang berlari dari sudut gang ke perempatan jalan. Sesaat, wajah resahnya melega demi melihat laki-laki berjaket kuning menghentikan motor di depannya. Kelas di TB 1 telah dimulai sejak lima menit lalu. Dosen hanya memberi 10 menit toleransi keterlambatan. "Tak ada pilihan lain, daripada diusir, mending ngojek aja!"terang Ariyanti, mahasiswa Ilmu Administrasi Negara BP 2010, Kamis (28/11).
Tercatat lebih kurang 150 unit ojek bebas beroperasi di Kampus Universitas Negeri Padang (UNP). "Saya merasa di pasar saja," ungkap mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah BP 2008, Putri Handayani, Selasa (23/11).
Tak hanya itu, menjamurnya Pedagang Kaki Lima (PKL) melengkapi aura pasar di kampus. Sekitar 32 PKL dengan mudah menjajakan jualannya. "Bahkan mereka berjualan dekat ruang kuliah, seperti di GL, GM, itu,"tambah Putri.
"Mereka semua illegal!," jelas Kepala Biro Administrasi Umum dan Keuangan, Drs. Syarkani. Penggerebekan dari pihak kampus sama sekali tak diindahkan. Namun, Syarkani meminta untuk tak menyalahkan mereka saja. Akar permasalahannya adalah simbiosis mutualisme yang tercipta antara civitas akademika dengan mereka. Seperti yang diakui salah satu tukang ojek, Ari (21), penghasilannya lebih banyak di area kampus. "Banyak mahasiswa yang menggunakan jasa kami,"ungkapnya, Senin(23/11). Begitupun dengan PKL, pengemis dan pengamen. "Mereka akan terus hidup di sini jika kita hidupi,"tegas Syarkani Rabu, (10/11).
Kondisi ini menyusahkan satpam dalam menertibkan mereka. Untuk PKL, satpam hanya menertibkan kebersihan dan bagaimana mereka tak mengganggu pengguna jalan. Untuk ojek, satpam menertibkan tempat mereka mangkal. "Namun ada yang nakal juga, satpam sibuk mengurus parkiran, mereka sibuk juga berkeliaran,"tambahnya.
Tentunya, satu satpam untuk satu pos memberi peluang ojek tak taat aturan. Berdasarkan pola pengamanan standar yang ditinjau dari lokasi, akses masuk dan jumlah aset pengamanan, seperti dijelaskan pihak PT, UNP idealnya membutuhkan 120 tenaga satpam. "Sebenarnya Kami menawarkan sebanyak itu, namun anggaran UNP sanggup segitu,"terang Direktur SDM & ADM PT CCM, Hanky Mustav Sabarta, SH.,Selasa(24/11). Satu pos minimal dijaga dua sampai empat orang. Untuk arena seluas UNP, harusnya dilengkapi kendaraan patroli, yang disediakan pengguna jasa itu sendiri. "Kalau ingin PT yang menyediakan, dana dari UNP ditambah lagi," jelas Hangky. Namun, ketika Ganto mengonfirmasi ke Pembantu Rektor II UNP, Dr. Nizwardi Jalinus M.Ed., ia mengaku tak mengetahui masalah kerja sama antara UNP dan PT. CCM. "Ini kan masalah teknis, silahkan tanya ke perlengkapan,"terangnya, Senin (6/12).
Perihal kenyamanan ini bukanlah masalah yang baru lagi. Hadirnya pengemis yang bebas berlalu lalang juga sebuah kaji lama yang berdilema. Hal itu pun juga tak terlepas dari civitas akademika yang turut berbelas kasih. Seperti dirasakan mahasiswa Pendidikan Kimia BP 2008, Mega Silvia, yang tak tega melihat keadaan pengemis. "Risih sih sebenarnya, masa’ di lingkungan kampus ada pengemis, tapi kasihan juga," kata Mega ragu-ragu, Minggu(28/11).
Bebasnya pengemis masuk kampus dipengaruhi oleh banyaknya pintu masuk dan adanya kampung di dalam kampus. Diakui Kasatpam, Johny Iswan, merasa terkendala bekerja karena hal sedemikian. "Kami tak bisa tegas, karena nanti mereka beralasan kalau mereka adalah warga sini," terang Johny, Selasa (9/11).
Hal ini dibenarkan Syarkani, namun UNP tak bisa seenaknya memagar sekeliling kampus karena tak hanya UNP yang menempati areal ini. "Kalau dilakukan, nanti LPMP dan warga marah,"sesalnya. Tambahnya lagi, mengenai lahan parkir beserta rambu-rambu dan penerangan, pasca gempa, dana UNP dikucurkan untuk membenahi pembangunan, selangkah demi selangkah. "Jika nanti dana IDB turun, kita berusaha melengkapi semua," ujarnya.
Hal terpenting, Syarkani menambahkan, persoalan ini akan rumit jika diembankan kepada pihak kampus atau satpam saja. Perlu adanya kerja sama semua komponen UNP. Syarkani menghimbau ormawa-ormawa saling merangkul temannya agar peduli dengan kenyamanan kampus. Begitupun dengan dosen untuk bisa memberikan pelajaran moral sebelum memulai pembelajaran. "Mahasiswa perlu diingatkan kembali dengan ke"maha"annya,"tutupnya Rabu, (10/11).
Senada dengan yang dituturkan Syarkani, Pakar Sosial Hendra Naldi, S.s M.Hum, keamanan dan kenyamanan merupakan tanggung jawab seluruh civitas akademika. Selain itu, tambah Hendra pihak universitas hendaknya membuat aturan tegas tentang PKL, ojek, parkiran dan semua penggangu keamanan dan kenyamanan kampus. "Ojek, PKL ditempatkan di lahan yang tak mengganggu estetika kampus, dan mahasiswa jangan menghiraukan mereka yang sembarangan,"ungkapnya Senin (22/11).
Santi/Afdal/Della
Laporan : Chandra*,Wahyu*,Nova*, Salim, Iin, Pri
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!