Zona nyaman, sebuah kata yang sering kita dengar dewasa ini. Zona nyaman merupakan suatu keadaan di mana seseorang berada dalam keadaan yang nyaman dan aman, baik di tempat kerja, bersama dengan rekan sebaya, dan dalam hal yang lebih luas lagi yaitu kehidupan sehari-hari.
Zona nyaman identik dengan sebuah keadaan yang membuat seseorang merasa bahwa ini adalah situasi yang aman dan sesuai untuk dirinya sehingga dapat menahan individu untuk beranjak dari suasana itu.
Jadi, penulis mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa zona nyaman berhubungan dengan perspektif dari individu terhadap situasi yang dialaminya. Sebuah perspektif tentang sebuah hal yang dirasa dapat menenangkan dan bernafas diantara dirinya dan ketenangan.
Mengapa Zona Nyaman Penulis Kaitkan dengan Ketenangan ?
Menurut Cuello & Oros Ketenangan (serenity) didefinisikan sebagai sebuah emosi positif yang merefleksikan adanya kedamaian batin (inner peace) dan rasa percaya diri (confidence) serta keseimbangan (harmony) antara tubuh dan pikiran.
Dari definisi ketenangan tersebut penulis merasa bahwa klimaks dari zona nyaman itu adalah ketenangan, maka dari itu penulis berharap agar pembaca juga sepakat dan setuju bahwa zona nyaman dan ketenangan adalah suatu hal yang seragam dan tidak dapat dipisahkan karena syarat utama dari sebuah kenyamanan adalah ketenangan.
Kenyamanan dan ketenangan tentunya memiliki matlamat. Matlamat atau tujuan ini penulis simpulkan dalam wujud kebahagiaan. Kebahagiaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah suatu keadaan pikiran atau perasaan kesenangan, ketentraman hidup secara lahir dan batin.
Keluar dari Zona Nyaman ?
Populernya istilah zona nyaman terutama di kalangan kawula muda dewasa ini bukan tanpa alasan. Di samping istilah itu terdengar keren dan trendi, istilah tersebut dirasa relate dengan keadaan kawula muda saat ini. Kawula muda saat ini merasa begitu banyak persoalan dunia yang membuat mereka bingung untuk menempatkan posisi.
Istilah tentang ketidakpuasan dengan keadaan pun berkembang, banyak istilah baru yang populer dan bersangkutan dengan individu yang dalam keadaan tidak menikmati hidup, diantaranya down, anxiety, quarter life crisis dan sebagainya.
Namun, hal itu berada di ranah pembahasan lain, kita kembali ke fokus pembahasan yaitu zona nyaman. Zona nyaman tentunya tidak selamanya sepopuler kedatangannya, pada masa saat ini ternyata ada istilah baru yang ternyata sangat menarik sekali jika kita kaitkan dengan pembahasan ini, yaitu istilah keluar dari zona nyaman.
Kata "keluar dari zona nyaman" ini merupakan klaim dari seorang individu yang merasa bahwa dirinya sedang melakukan sesuatu yang beresiko yang belum pernah dilakukan sebelumnya, sehingga individu tersebut menganggap bahwa dia sedang keluar dari zona bersantainya. Namun, di sini sampailah pada alur konfliknya, yaitu sebuah opini kritik mengenai keluar dari zona nyaman ini.
Plot Konflik
Sesuai yang disampaikan di sub-pembahasan sebelumnya, muncul konflik yang membuat penulis resah, yaitu istilah keluar dari zona nyaman. Penulis bukan seorang yang mempunyai pengalaman banting stir karir yang ekstrem. Penulis dalam hal ini boleh dikatakan hanya aktif dalam dunia perkuliahan termasuk hal-hal lain yang menunjangnya, seperti keorganisasian atau hal sejenisnya yang berhubungan dengan kemahasiswaan.
Namun, di sini penulis sering mendengar istilah "keluar dari zona nyaman" ini di lingkungan sekitar. Ya, ini memang bukan merupakan masalah besar, karena setiap individu berhak berekspresi apalagi hanya berkata atau membuat unggahan di media sosial yang bernadakan demikian. Tetapi yang penulis perhatikan adalah miss konsepsi dari kawan-kawan yang menggunakan klaim tersebut dan yang penulis takutkan hal ini berpengaruh pada sesuatu yang akan dihadapi selanjutnya menyulitkan inidividu dalam menyesuaikan diri sendiri di situasi dan kondisi terbaru itu. Mengapa hal tersebut dapat terjadi ?
Pertama, kembali kita pada konsep zona nyaman, yaitu suatu zona yang membuat sesorang merasa nyaman. Individu harus memahami diri sendiri terlebih dahulu sebelum mengklaim zona nyamanny, karena zona nyaman bukan berarti hanya bersantai, jika seseorang bersantai tapi tidak menikmati kesantaianya itu, maka penulis berpendapat bahwa seseorang tersebut belum berada di zona nyamannya. Zona nyaman dapat kita tentukan jika kita sudah paham betul apa yang diri kita kehendaki sehingga diri kita nyaman dan tentram apabila berada di dalamnya, jika tidak maka individu belum berada di zona nyaman tersebut.
Kedua, kita pindah ke istilah yang menjadi terusan dari pembahasan pertama, yaitu keluar dari zona nyaman. keluar dari zona nyaman menurut penulis sangat rawan dan berpotensi salah dalam pemahamannya. Istilah ini sering ditempatkan pada posisi yang salah, contohnya apabila individu ingin melakukan suatu hal yang belum pernah dilakukan dan beresiko maka dia menggunakan narasi bahwa dia sedang di posisi keluar dari zona nyaman dia. Disclaimer penulis tidak sepenuhnya mengatakan bahwa hal tersebut salah, namun di sini yang menjadi suatu hal yang harus diketahui bahwa setiap hal yang baru dan beresiko belum tentu itu berposisi di luar zona nyaman rekan-rekan pembaca.
Penulis berpendapat bahwa istilah keluar dari zona nyaman itu hanya sesuai untuk seseorang yang memang sudah benar-benar menemukan zona nyamannya, lalu dia ingin keluar dan melakukan suatu hal di luar kendalinya. Hal tersebut yang penulis katakan adanya kecacatan dalam mendudukkan konsep oleh seseorang mengenai dirinya sendiri. Di sini penulis berharap kepada individu yang bersangkutan untuk paham apakah dia memang sudah menemukan dan betul sudah keluar dari zona nyamannya atau mungkin dia sama sekali belum masuk dan ternyata sedang mencari zona nyamannya di mana?.
Setelah kita memahami intisari tulisan dan selanjutnya kita juga memahami diri kita dalam hal ini mengenai apa yang dibutuhkan atau sejenisnya, maka sampailah kita pada akhir pembahasan. Sebuah harapan besar penulis sampaikan bahwa tulisan ini dapat membuka ruang diskusi antara penulis dan pembaca yang terhormat. Begitu banyak kesalahan dalam penulisan ini, namun disini penulis belajar bahwa tulisan memang tidak mencerminkan kebenaran, tapi sebagai tanda bahwa kita sudah berpikir.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!