Menyongsong hari bela negara pada (19/12) mendatang, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNP mengadakan Petunjukan Randai Hari Bela Negara. Pertunjukan perdana karya Ismet Fanany yang merupakan Ketua Program Bahasa dan Kajian Indonesia di Universitas Deakin, Melbourne ini diselenggarakan di Medan Nan Balinduang FBS, Jumat (24/10). Acara ini dihadiri oleh perwakilan Walikota Padang, perwakilan kapolres kota Padang, Pembantu Rektor (PR) IV UNP, dan Dekan FBS.
PR IV, Dr. Ardipal M.Pd. dalam sambutannya mengatakan saat ini rasa kebangsaan dan nasionalisme kita semakin menipis. Fenomena yang terjadi, banyak dari anak-anak Indonesia yang moralnya rusak. Untuk itu randai ini hadir sebagai alat seni yang berperan bagi pendidikan Indonesia. Randai yang ditampilkan berbeda dengan randai yang biasanya. Dalam pertunjukan randai ini ditampilkan dalam Bahasa Indonesia, bertujuan agar randai juga dapat dipahami oleh masyarakat Indonesia. "Saat ini fenomena pendidikan di Indonesia tengah banyak masalah, peloncoan yang dilakukan oleh anak SD yang terjadi baru-baru saja di Sumatera Barat (Sumbar) menjadi cambuk besar bagi pendidikan sekarang," ujarnya.
Senada dengan itu Dekan FBS, Prof. Dr. M. Zaim, M.Hum. mengatakan dengan adanya pertunjukan ini Sumbar tidak kalah dengan Bali, yang memiliki ikon tari cak. "Marilah kita nikmati seni randai yang di sutradarai oleh Ismet Fanany," ucap Zaim.
Berbicara tentang bela negara, ini bukan istilah yang baru, ini merupakan sebuah kebanggaan bagi Sumbar karena pernah menjadi daerah yang dipercaya sebagai Pemerintahan Darurat Republik Indonesia, pemerintah Sumbar juga sudah berperan mensosialisasikan peran Sumbar dalam masa pemerintahan darurat Indonesia dahulu.
Prof. Ismet Fanany mengatakan randai bela negara sengaja dibuat dalam Bahasa Indonesia agar randai menjadi kekayaan lokal bahkan menjadi kekayaan dunia. Selain itu kepada Ganto Ismet mengatakan Ia memilih UNP dalam pelaksaan pertunjukan karena UNP adalah Almamaternya. "Menurut saya randai ini bisa menceritakan cerita rakyat Minang, ini adalah aset kekayaan kita yang juga dapat mendunia," tutupnya. Suci, Jimmi*
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!