Berita

WD III FIS UNP: Dunia Intelektual Masyarakat Indonesia Terancam Punah

Mahasiswa memiliki tingkat kepedulian yang rendah terhadap organisasi mahasiswa (ormawa). Mereka tidak bisa lagi merasakan dampak dari kejadian-kejadian di lingkungan sekitar. Mereka juga menganggap kegiatan ormawa hanya rutinitas yang tidak menguntungkan masa depan. Tak ayal, budaya acuh tak acuh pun melekat dalam diri mahasiswa.

Hal itu diungkapkan Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang, Hendra Naldi, S.S., M.Hum, saat ditemui di ruangannya, Kamis (3/3).


"Tujuan perguruan tinggi itu dibuat bukan untuk menghasilkan orang yang peka terhadap dunia keilmuan saja, tapi juga orang-orang yang memiliki karakter intelektual," ujar Naldi.


Naldi juga menjelaskan, perguruan tinggi itu memiliki tiga pilar, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Namun, saat ini, mahasiswa lebih mengutamakan pilar pendidikan saja. Mereka hanya mengejar indeks prestasi kumulatif tinggi. "Itu salah. Ingin cepat atau ingin lambat, seharusnya dari ritme kesadaran mahasiswa itu sendiri, atau dengan pemikiran bahwasanya ia memang melakukan pengisian tridarma perguruan tinggi," tegasnya.


Lebih lanjut, Naldi menjelaskan, masyarakat Indonesia saat ini membutuhkan intelektual dari kampus, bukan orang yang hafal materi perkuliahan, tapi tidak pandai menerapkan ilmunya "Sebetulnya, anekdot yang mengatakan teori perkuliahan itu berbanding lurus dengan praktik dunia kerja itu benar. Pertanyaannya, betulkah Anda mencari apa yang dibutuhkan stake holder ketika kuliah?" jelas Naldi.


Naldi sangat menyayangkan mahasiswa yang mencari pendidikan tidak dengan kaidah-kaidah yang benar. Mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan IP terbaik, seperti catat buku sampai habis, mencontet sana-sini. Plagiat pun sudah menjadi fenomena yang mayoritas di perguruan tinggi, bisa saja berupa replikasi, membuat tulisan abal-abalan, asal tugas baik. "Kalau seperti itu, dunia intelektual masyarakat Indonesia akan terancam punah. Bahaya itu," aku Naldi.


Selain itu menurut Naldi, dunia kampus itu menciptakan calon-calon intelektual. Karakternya, mereka memiliki sense terhadap kehidupan sosial dan mereka cerdas. Punya kepedulian terhadap lingkungan. Kalau harus cerdas, yang diminta hari ini adalah, tuntutan terhadap sistem memang mengharuskan mereka untuk tidak lagi berlma-lama.

Penulis: Fakhruddin Arrazzi

Editor: Ranti Maretna Huri

✔ Standar Jurnalisme & Transparansi SKK Ganto UNP

Berita ini diproduksi dan diverifikasi sesuai dengan Pedoman Pemberitaan Media Siber dan Kode Etik Jurnalistik oleh Dewan Pers.

Fakhrudin Arrazzi
Jurnalis • Liputan Berita

Pemimpim Redaksi
Diedit & Diverifikasi oleh: Ranti Maretna Huri (Editor Redaksi)
✔ Standar EEAT Redaksi

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

9 + 3 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.