Universitas Negeri Padang (UNP) kembali melahirkan novelis baru Sumatra Barat. Setelah Nova Eka Putri dengan novelnya Kamu itu Subhanallah, Rofiq L Hayat dengan novelnya Di Bawah Langit Dua Benua, dan Thiye Savannah dengan dua novelnya Diary of Miserable Princess dan Sacrifice. Kali ini, giliran Mahasiswa Pendidikan Geografi TM 2013, Rahmi Gusniarti, dengan novelnya Pelita: The Silence Song.
Putri dari pasangan Khairul Azmi dan Nurjani ini mengatakan bahwa dia sudah berminat dalam dunia tulis menulis sejak duduk di bangku sekolah dasar. Pun, ketika masuk kuliah, dia aktif dalam kegiatan tulis menulis yang terdapat di Bidang Syiar, Forum Studi Dinamika Islam, Fakultas Ilmu Sosial, UNP. Selain itu, dia sudah bergabung dengan Forum Aktif Menulis (FAM) Cabang UNP.
Di FAM Cabang UNP, semangatnya untuk menulis novel semakin terpacu. Rahmi terisnpirasi dari perkataan Hasan Ashyari, penggagas FAM Cabang UNP, bahwa setiap orang memiliki jalan dakwah masing-masing. Kalau penulis, dakwahnya bisa dilakukan lewat pena. "Jadi, kalau saya menulis, orang-orang terinspirasi setelah membaca tulisan saya, itu sudah dakwah. Dari situ, saya mulai untuk menulis. Padahal, saya dulu tidak terpikir untuk bikin-bikin novel," jelasnya saat ditemui di sela-sela kuliahnya, Rabu (23/3).
Rahmi mulai menulis novelnya di awal Agustus 2015. Dia sempat stagnan menulis pada September. "Sebab, kalau menulis, saya pakai mut-mutan," ujarnya. Akan tetapi, siapa sangka dara kelahiran Alahan panjang, 27 Agustus 1995, ini mampu menyelesaikan novel perdananya di akhir Oktober tahun lalu. Novel ini diterbitkan oleh sebuah penerbit di Yogyakarta.
Untuk urusan judul, Rahmi dibantu oleh Denni Meilizon, seorang penggiat FAM Indonesia. "Novel ini diedit oleh Bang Denni. Bang Denni mengasih usulan deretan judul. Saya sendiri tertarik dengan judul Pelita dan The Silence Song. Bang Denni lalu mengusulkan untuk memilih keduanya. Pelita sebagai judul, sedangkan The Silence Song sebagai subjudul," jelasnya.
Novel Pelita: The Silence Song bercerita tentang kehidupan seorang cewek tomboi bernama Pelita. Dia hidup dalam dunia yang kelam, dan tidak mau melaksanakan ajaran agama. Pelita merupakan seorang mahasiswi semester empat, Jurusan Geografi, UNP. Sampai di sini, pembaca pasti akan menebak bahwa tokoh Pelita merupakan tokoh nyata dari penulis sendiri, tapi ternyata tidak. "Saya sengaja mengambil UNP karena, sebagai penulis pemula, karya pertama harus muncul dari lingkungan sekitar," ujarnya.
Di kampus, Pelita memiliki seorang teman bernama Adin yang berasal dari Batak. Adin memiliki watak preman yang selalu mengingatkan Pelita. Pelita juga kenal dengan Putri Melati namun Pelita tidak menyukai putri karena ia menggenakan jilbab lebar. Selain Adin dan Putri, Pelita juga berkenalan dengan Hafiz yang merupakan tokoh cupu. Pelita suka menganggunya dengan meminta Hafiz untuk menjadi pacarnya.
Sementara, di sisi lain, Pelita juga sudah memiliki seorang pacar. Namanya Ilham. Mereka sudah menjalin cinta selama tujuh tahun terakhir. Pelita pun yakin bahwa Ilhamlah pendamping hidupnya nanti. Meskipun begitu, Pelita juga membenci sikap Ilham yang suka menyuruhnya untuk mengenakan jilbab. Tetapi, Pelita menolak karena tanpa jilbab pun dia bisa menjaga diri.
Suatu hari, ketika Pelita dan Adin makan di sebuah kafe, ada segerombolan preman yang membanding-bandingkan prilaku orang "yang terbungkus rapi" dengan yang tidak. Di sanalah, Pelita mulai sadar bahwa ternyata orang yang selama ini diganggu, yakni Putri dan Hafiz, banyak dipuji orang karena kebaikan mereka. "Novel ini bercerita tentang hijrah. Bagaimana kelanjutan kisahnya, silahkan baca saja langsung novelnya ya," ujar Rahmi.
Penulis: Fakhruddin Arrazzi
Editor: Ermiati Harahap
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!