Data memudahkan wartawan melihat tren atau pola berita yang ingin dibuat menjadi lebih tergambar. Hal ini disampaikan oleh Wahyu Dhyatmika dalam Pelatihan Keterampilan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional, Sabtu (08/10). Acara ini diselengarakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa Suara Kampus Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol Padang di hotel Parai Mountain Resort, Bukittinggi.
Wahyu menjelaskan, salah satu penyebab jurnalis kesulitan dalam mengangkat sebuah berita, yaitu karena kurangnya data yang membuat berita dinilai kurang valid. "Kebanyakan wartawan jarang meminta data asli atau mentah dari kantor atau lembaga-lembaga terkait, sehingga mereka kesulitan dalam menganalisis data tersebut," ujarnya.
Selain itu, Wahyu juga memaparkan mengenai urutan kerja dalam liputan berbasis data. Urutan kerja tersebut di antaranya, menentukan topik liputan yang berupa latar belakang dan alasan kenapa topik tersebut penting untuk diangkat, menentukan angle atau fokus bahasan, menentukan hipotesis atau dugaan sementara, menguji hipotesis dengan data terbuka, yakni data yang dapat diakses oleh publik tanpa hambatan, dan terakhir adalah melakukan reportase.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa urutan kerja yang paling menentukan keberhasilan adalah pengujian hipotesis dengan data terbuka. Jika dalam tahap ini dugaan sementara sudah terpatahkan oleh data yang telah ada, maka liputan tidak bisa dilanjutkan. "Jika data yang dimiliki mendukung hipotesis yang kita buat maka wawancara dapat kita lakukan sebagai penelusuran data," ujarnya
"Bagi wartawan sendiri, Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik dapat dijadikan senjata untuk memperoleh data yang bersifat publik di lembaga-lembaga tertentu yang terkadang sulit untuk memberikan data," tutup redaktur PT. Tempo Inti Media ini.
Penulis: Putri Radila*
Editor: Arrasyd*
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!