Berita

Stop Membaca Skripsi!

Mulai awal semester ganjil tahun ini, skripsi yang ada di Perpustakaan Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris FBS tidak boleh dibaca dan dilihat lagi oleh seluruh mahasiswanya, kecuali ada izin dari dosen pembimbing. Kebijakan yang dikeluarkan ketua Jurusan Bahasa Inggris ini menimbulkan banyak keluhan dari kalangan mahasiswa. Salah satunya, Sri Wahyuni, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris TM 2006. Menurutnya peraturan ini menyulitkan mahasiswa dalam mencari referensi. "Melihat skripsi bukan berarti menjiplak," ungkapnya, Kamis (28/7).

Hal senada juga diungkapkan Putri mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris TM 2006. Ia mengatakan semenjak skripsi tidak boleh dibaca, dia kesulitan untuk merampungkan skripsinya. Hal ini dikarenakan ia tidak bisa lagi melihat referensi dari skipsi yang sudah ada. "Saya hanya ingin melihat daftar pustakanya saja, agar lebih memudahkan untuk mencari buku atau jurnal yang mendukung skripsi," ujarnya, Kamis (28/7).

Lain halnya di beberapa fakultas, pelarangan membaca skripsi tak ditemukan oleh mahasiswa, contohnya di Fakultas Ilmu Sosial (FIS) dan Fakultas Ekonomi (FE). Seperti yang diungkapkan Nurma Wati mahasiswa pendidikan Sosiologi TM 2008, ia menjelaskan di FIS tidak ada larangan mahasiswa membaca skripsi di perpustakaan. "Jika difoto ataupun dikopi memang tidak boleh," ujarnya, selasa (23/8). Hal senada juga diungkapkan pegawai perpustakaan fakultas FIS Dahnial. Ia mengatakan di FIS mahasiswa diperbolehkan membaca skipsi di ruang perpustakaan, asalkan tidak dibawa pulang. "Mahasiswa diperbolehkan membaca skripsi dengan syarat memperlihatkan kartu pengenalnya," ujarnya, kamis (28/7).

Tak jauh berbeda dengan FIS, FE juga memberlakukan hal yang sama, tetapi prosesnya sedikit berbeda. Perbedaannya terletak pada proses peminjamannya. Koordinator Pustaka FE, Maryanto, S. Pd, mengatakan mahasiswa FE diperbolehkan membaca skripsi asalkan mematuhi peraturan yang ada. Lebih lanjut ia menjelaskan sebelum mahasiswa diperbolehkan membaca skripsi terlebih dahulu ia harus mengikuti prosedur peminjamannya, yaitu dengan memperlihatkan judul skripsi yang akan dibaca maksimal tiga judul, beserta menyerahkan kartu mahasiswa. Setelah itu mahasiswa diperbolehkan mencari judul skripsi yang ia butuhkan dan memperlihatkan kembali pada petugas sebelum dibawa ke ruang baca. "Seharusnya mahasiswa memang diperbolehkan untuk melihat skipsi sejauh mereka tidak melanggar aturan yang berlaku, seperti merobek, atau memfoto skripsi," tuturnya, Kamis (28/7).

Menanggapi tidak bolehnya mahasiswa membaca skripsi di Jurusan Bahasa Inggris, Kepala Perpustakaan Jurusan Bahasa Inggris, Drs. Januarisdi, MLIS, mengatakan kebijakan pihak jurusan bahasa inggris tidak memperbolehkan mahasiswa membaca skripsi ini, diambil dengan alasan semakin banyaknya plagiat dan tingkat membaca mahasiswa yang semakin rendah. Pada awalnya mahasiswa memang akan merasakan kesulitan, tetapi secara tidak langsung ini adalah upaya dalam peningkatan kualitas penulisan skripsi. Lebih lanjut ia menjelaskan, kebijakan ini sebenarnya sudah lama ingin diterapkan, tapi terkendala oleh buku dan jurnal yang belum lengkap. Pada tahun ini pihak jurusan telah melengkapi seluruh jurnal dan buku yang dibutuhkan dalam pembuatan skripsi. "Jadi, sekarang mahasiswa tidak akan kesulitan lagi," jelasnya, Jumat (29/7).

Menanggapi hal ini, dosen IIPK, Drs. Ardoni Yonas, M. Si., mengatakan tidak ada peraturan yang melarang mahasiswa untuk melihat skripsi. "Jangankan untuk melihat, untuk menjiplak saja tidak apa-apa asalkan minta izin terlebih dahulu kepada pemiliknya dan juga diperbolehkan oleh pembimbing," ujarnya, Senin (15/8). Ia juga mengatakan dengan tidak membolehkan mahasiswa melihat skripsi belum tentu menjamin peningkatan dalam penulisan skripsi, karena mahasiswa bisa saja melihat skripsi yang ada di pustaka pusat. Lebih lanjut ia menjelaskan, salah satu tujuan pembuatan skripsi untuk dijadikan referensi. Bila tidak ingin terjadi plagiat, kita bisa mengontrolnya dengan media elektronik. Dengan cara memindahkan data mentah skripsi ke dalam bentuk data elekronik (PDF). Pemindahan tersebut bisa dilakukan dengan menggunakan mesin. Mesin tersebut telah lama ada, tapi sampai sekarang masih disimpan di perpustakaan pusat. "Alangkah baiknya kalau kita pergunakan mesin itu kembali," tutupnya. Ninit, Zolla*

✔ Standar Jurnalisme & Transparansi SKK Ganto UNP

Berita ini diproduksi dan diverifikasi sesuai dengan Pedoman Pemberitaan Media Siber dan Kode Etik Jurnalistik oleh Dewan Pers.

Afdal Ade Hendrayana
Jurnalis • Liputan Berita

Reporter SKK Ganto UNP
Diedit & Diverifikasi oleh: Qalbi Salim (Editor Redaksi)
✔ Standar EEAT Redaksi

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

9 + 8 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.