"Perempuan memiliki hak yang sama, tidak boleh didiskriminasi. Hal ini tidak hanya harus dipahami oleh jurnalis perempuan, tapi juga laki-laki, dan masyarakat luas," jelas Anggota Dewan Pers, Ratna Komala, saat menyampaikan materi pada pelatihan jurnalis perempuan, di Hotel Pangeran Beach Padang, Selasa (18/10).
Ratna menjelaskan materi tentang prinsip dan etika peliputan anak serta perempuan korban pemerkosaan. Dia mengatakan bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia sangat banyak. Berdasarkan data dari Komnas Perempuan pada 2014 tercatat 1.657 kasus kekerasan seksual atau pemerkosaan, 1.064 kasus pencabulan, dan 268 kasus pelecehan seksual. Sementara, pada 2015, terdapat 2.399 kasus kekerasan seksual atau pemerkosaan, 601 kasus pencabulan, serta 166 kasus pelecehan seksual. "Ini merupakan keadaan yang memprihatikan dan sudah seharusnya menjadi tanggung-jawab bersama," ujarnya.
Berlatar belakang keprihatinan tersebut, Ratna menyampaikan bahwa jurnalis yang bekerja di media manapun, khususnya jurnalis perempuan, harus lebih memahami tentang prinsip dan etika dalam peliputan anak dan perempuan korban pemerkosaan. Sebab, menurutnya sejauh ini masih banyak media yang melanggar prinsip dan etika. "Jangan sampai niat jurnalis ingin menginformasikan, tapi malah memberikan trauma baru buat korban," tambahnya.
Ratna mengatakan bahwa dalam peliputan berita, mulai dari menetapkan topik dan angel, menyiapkan data, merekam, memproduksi, mengemas hingga memuat atau menayangkan berita di media, harus selalu memperhatikan prinsip dan etika peliputan. Tujuannya, korban atau keluarga nantinya tidak menjadi lebih menderitadengan pemberitaan yang diterbitkan. "Terutama pada angel, jurnalis tidak perlu tuliskan penderitaan korban. Cukup tawarkan solusi untuk korban," sambungnya.
Selain itu, lanjut Ratna, untuk angel berita juga harus ramah terhadap korban. Begitu juga dengan pemilihan kata yang tidak boleh menghina atau menghakimi, serta melakukan pendekatan secara subjek kepada korban. "Jurnalis harus paham dengan hal tersebut, terutama jurnalis perempuan yang pada dasarnya lebih memiliki empati yang tinggi dibanding jurnalis laki-laki," pungkasnya.
Reporter: Sri Gusmurdiah
Editor: Fakhruddin Arrazzi
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!