"Jika ide saja dapat memberimu pengalaman hebat, bagaimana jika ide tersebut terwujud," begitulah moto hidup Randi Proska Sandra, Mahasiswa Jurusan Teknik Informatika Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Padang (UNP) TM 2012. Ide-ide kreatifnya mengantarkan Randi meraih Juara II pada perlombaan MTQ Mahasiswa Nasional XV 2017 pada cabang Desain Aplikasi Computer AL-Quran di Universitas Negeri Malang dan Universitas Brawijaya.
Randi, begitu sapaan akrabnya. Ia merupakan salah seorang perwakilan kafilah MTQ Nasional XV bidang Desain Aplikasi Computer Al-Quran UNP 2017. Bersama dua anggota timnya, Bris Fernando dan Hilyathul Wahid, mereka berhasil meraih juara II pada bidang perlombaan tersebut. Kemenangan ini diraih Randi setelah sebelumnya juga pernah mengikuti MTQ Nasional XIV pada 2015 lalu.
Laki-laki asal Jambi ini, merupakan anak tunggal dari Bapak Abusanar dan Ibu Rosniar. Ia mengaku, kehidupan kecilnya banyak dihabiskan di ladang, lantaran perkerjaan orangtua Randi sebagai petani. Semasa Randi tinggal di ladang, ia jarang bermain dengan teman seusianya. Saat berumur tujuh tahun, ia bersekolah di Sekolah Dasar (SD) No.35/III Debai Sungai Penuh, Jambi. Di sinilah, Randi mulai dapat bermain dengan teman sebayanya. "Ketika SD, saya tinggal di pemukiman bersama nenek," ungkapnya, Rabu (16/8).
Saat duduk di kelas V SD, ia harus berpisah jauh dari kedua orangtuanya karena mereka harus bekerja di luar negeri (Malaysia). Orangtuanya Randi kembali pulang saat Randi duduk bangku kelas II Sekolah Menengah Pertama (SMP) 8 Kerinci, Jambi. "Alhamdulillah, hingga sekarang saya bisa terus bersama kedua orangtua saya," ujar laki-laki kelahiran 9 Januari 1994 ini.
Terlahir dari keluarga sederhana, tidak membuatnya patah semangat. Hal tersebut ia buktikan dengan kemauannya belajar komputer, ia terpaksa harus berkali-kali pergi ke warnet (warung internet). Kata Randi, bukan untuk bermain game tapi untuk mencari pengetahuan baru, seperti bagaimana cara memakai Microsoft atau pengetahuan yang lainnya.
Randi bercerita suatu kali, ketika ia duduk di kelas II SMA 2 Sungai Penuh, Jambi, guru mata pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) menyuruhnya untuk mengetik ulang buku pelajarannya. "Saya baru belajar mengetik saat itu. Kakak sepupu menjadi guru bagi saya saat itu," jelasnya. itulah alasannya mengapa ia sering pergi ke warnet untuk belajar mengetik sembari mencari hal-hal baru.
Saat sekarang, Randi kuliah di Jurusan Teknik Informatika. Hal itu berbanding lurus dengan hobinya. Di jurusan tersebut, Randi merasa lebih terpacu untuk mengenal dunia teknologi lebih dalam.
Selain itu, ia juga aktif mengikuti organisasi. Beberapa organisasi tersebut di antaranya, salah satunya POSS (Pusat Pendayagunaan Open Source Software)/poss.unp.ac.id pada tahun 2012 di bawah Puskom UNP. Kesempatan ini mengenalkannya dengan Representative dari Mozilla (Sebuah Perusahaan yang terkenal dengan peramban Mozilla Firefox dan berkantor pusat di California, USA) hingga akhirnya Randi menjadi bagian dari Firefox Student Ambassador. Selain itu, ia juga pernah mengikuti Microsoft Youth Spark pada tahun 2015, suatu program pelatihan technopreneurship dari Microsoft.
Lagi, Randi merupakan anggota dari Pusat Pengembangan Ilmiah dan Penelitian Mahasiswa (PPIPM) UNP, Badan Eksekutif Mahasiswa UNP 2013/2014 dan Dewan Pertimbangan Organisasi Ikatan Mahasiswa Kerinci Sungai Penuh (IMKS) UNP 2015/2016, Koordinator Media Forum Indonesia Muda Regional Sumatra Barat 2015/2016, Founder & Mentor Mawapres Academy UNP 2016-sekarang.
Tidak sampai di situ saja, prestasi baru-baru ini yang diraihnya adalah Juara II pada perlombaan MTQ Nasional XV Desain Aplikasi Computer AL-Quran 2017. Aplikasi komputer yang membawa Randi beserta timnya meraih juara yaitu Quraniy.com.
Randi berharap aplikasi Quraniy.com dapat membantu muslim untuk lebih mengenal Islam. Selain itu, dengan adanya aplikasi ini, diharapkan bermanfaat untuk sesama dan menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk mengembangkan teknologi Islam.
Selain itu, Randi berpesan terhadap mahasiswa UNP menjadi pribadi yang menginspirasi banyak orang. "Bagi Saya, Prestasi terbesar bukanlah menjuarai kompetisi, berpidato di forum resmi, menerima trofi, medali atau lembaran sertifikasi. Prestasi terbesar adalah menginspirasi," ujarnya dengan begitu semangat. Dwi Agustini*
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!