"Mereka tampil saja, itu sudah prestasi namanya"— Syuhendri.
Sore itu, cahaya matahari tidak terlalu panas karena awan coklat bergumpal menyelimuti langit. Akhirnya, butir demi butir hujan mengguyuri kami. Namun, semangat kami tidak berhenti begitu saja untuk melanjutkan perjalanan menuju Pantai Purus yang merupakan salah satu tempat wisata yang ada di Kota Padang.
Di tepi pantai, terlihat tenda-tenda berjejer yang berwarna-warni yang menambah keindahan pantai. Beranjak sedikit, kami melangkah memasuki gang kecil yang ada di perkampungan pantai Purus, tepatnya di depan tugu IORA Padang. Saat memasuki gang, terlihat kreasi bendera merah putih yang mewarnai kampung di sana. Dan beberapa warga sedang duduk sambil berbincang-bincang di depan rumahnya.
Suasana perkampungan itu pun semakin ramai, karena rombongan anak kecil sedang asyik bermain bola di tengah turunnya hujan. Pada akhirnya, perjalanan kami sampai ke sebuah rumah, terlihat biasa seperti rumah warga pada umumnya. Material dinding rumahnya terbuat dari batu bata dan dinding di cat warna-warni yang memberikan kesan kehidupan baru.
Beranjak selangkah ke dalam ruangan rumah, terlihatlah deretan buku-buku dan sejumlah piala yang tersusun rapi. Di permukaan lantai, terdapat satu buah meja kayu yang berukuran besar, di atasnya terdapat karya alat-alat musik yang terbuat dari kanvas. Di dekat jendela ada satu buah kursi santai tepatnya di depan rak buku dan di belakangnya terpajang hasil kerajinan tangan.
Kedatangan kami disambut oleh senyuman seorang bapak yang sedang duduk di dekat jendela. Dia adalah Syuhendri, salah satu pendiri Ruang Baca Tanah Ombak. Komunitas ini berdiri sejak akhir 2014 lalu, sedangkan dananya berasal dari swadaya masyarakat dan bekerja sama dengan penerbit buku Gramedia. Kenapa dinamakan Tanah Ombak? Ya ..karena lokasinya yang terletak di kawasan pinggir pantai.
Ruang Baca Tanah Ombak merupakan ruang bacaan yang ditujukan kepada masyarakat, tetapi dikhususkan kepada anak-anak dan remaja, baik yang masih sekolah maupun yang berhenti sekolah. "Mereka lebih diharapkan untuk generasi pembangun bangsa dan masa depannya masih panjang," kata Syuhendri.
Di sini tersedia beragam jenis buku anak dan popular. Di samping itu, komunitas ini juga mempunyai relawan yang berasal dari mahasiswa dan sarjana. Relawan tersebut akan bergerak mengantarkan buku-buku ke tempat yang tidak ada akses bukunya. Komunitas ini membantu generasi muda menjadi generasi yang lebih suka membaca. "Tokoh-tokoh generasi muda juga akan menjadikan negara Indonesia lebih baik," tambahnya.
Tanah Ombak dikunjungi pembaca setiap hari. Sore merupakan waktu yang paling ramai pengunjung. Syuhendri bercerita, awalnya, taman baca Tanah Ombak tidak diketahui oleh para orangtua yang anaknya datang ke sini. Bahkan para orangtua tidak mau peduli dengan kegiatan yang anak mereka lakukan di Tanah Ombak. Akan tetapi, setelah anak-anak mereka mendapatkan prestasi, orangtua dan masyarakat di sekitar Purus pun memberi tanggapan yang baik atas kehadiran Tanah Ombak.
Ada empat hal yang diajarkan di Tanah Ombak ini, yaitu belajar pengetahuan, membaca, mengembangkan potensi, dan kemandirian. Di sini, anak-anak juga mempunyai kegiatan lain seperti menulis, dan mewarnai. Metode belajar di Tanah Ombak ialah bermain sambil belajar. "Karena itu akan membuat anak-anak semakin betah," kata Syuhendri.
Salah satu pengunjung, Fitri Wijaya (21) mengatakan bahwa anak-anak di Tanah Ombak mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi. "Mereka aktif bertanya mengenai bacaan mereka," katanya.
Selain kegiatan membaca, anak anak di Tanah Ombak juga diberikan pelajaran berbahasa Inggris dari beberapa relawan pada setiap minggunya. Kemudian, komunitas di sini juga mempunyai program belajar musik, band, dan teater. Tidak heran lagi, anak-anak di Tanah Ombak dikenal sering mengisi teater di Sumatera Barat ataupun nasional. Prestasinya, tahun 2014, anak-anak didikan Tanah Ombak menjadi peserta 5 terbaik pemain teater se-Indonesia di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pada 2016 , anak anak Tanah Ombak menjadi juara 1 Regional Sumatera dalam Gramedia Reading Community Competition dan mampu meraih Anugerah Literasi Minangkabau.
Syuhendri mengatakan, meskipun tidak selalu juara pada ajang-ajang lomba, namun anak-anak di Tanah Ombak tetap aktif dan semangat untuk selalu belajar di sini. Dia berharap anak-anak Tanah Ombak tumbuh menjadi anak yang cerdas, jujur, dan memiliki karakter yang kuat.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!