Dalam rangka menyambut Hari Disabilitas Internasional pada 3 Desember 2017 mendatang, Jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) Fakultas lmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Padang (UNP) menggelar Seminar Nasional di Aula FIP UNP, Sabtu (4/11).
Acara yang dibuka secara resmi oleh Walikota Padang, H. Mahyeldi Ansharullah, S.P., ini diikuti oleh sebanyak 410 peserta yang berasal dari dalam dan luar Sumatra Barat (Sumbar).
Wakil Rektor III UNP, Prof. Dr. Ardipal, M.Pd., menjadi pemateri pada acara tersebut. Dia menjelaskan bahwa dalam pendidikan inklusi, sekolah reguler menerima Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dan menyediakan sistem layanan pendidikan yang disesuaikan dengan Anak Tanpa Kebutuhan Khusus melalui adaptasi kurikulum, sarana, dan prasarana.
Ardipal juga memaparkan upaya yang dilakukan UNP dalam implementasi pendidikan inklusi di perguruan tinggi. Pertama, setiap tahunnya UNP memberikan kesempatan kepada ABK yang ingin kuliah, baik melalui ujian bersama, Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri, maupun jalur mandiri.
Kedua, pada pelaksanaan ujian seleksi mahasiswa baru, pihak kampus menyediakan seorang reader bagi tunanetra. Reader tersebut akan membacakan dan mengisikan soal-soal tes ketika ujian seleksi berlangsung.
Ketiga, mahasiswa berkebutuhan khusus yang terdaftar pada tahun pelajaran 2017-2018 di UNP pada program pascasarjana, yaitu 6 tunanetra, 2 tunarungu, dan sebagainya. Selain itu, juga ada 1 tunanetra yang kuliah di Prodi Magister Jurusan Bimbingan Konseling.
Implementasi pendidikan inklusi di UNP telah diterapkan sebelum adanya Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 48 Tahun 2014.
UNP, kata Ardipal, sudah mulai menerima mahasiswa berkebutuhan khusus sejak 1995. Mahasiswa yang diterima tersebut sebagian besar adalah tunanetra, tunarungu, dan tunadaksa. "Alumni UNP yang berkebutuhan tersebut rata-rata sudah jadi pendidik di Sekolah Luar Biasa," terang Ardipal.
Dari segi pembangunan, lanjutnya, UNP juga memberikan fasilitas untuk penyandang kebutuhan khusus, seperti lantai yang dibuat datar pada sisi anak tangga di depan Gedung Rectorate and Research Center. "Itu memang untuk penyandang disabilitas gunanya," ujarnya.
Sementara itu, Pembina Sekolah Luar Biasa se-Sumbar, Drs. Irman, M.M., yang juga merupakan pemateri pada acara ini memaparkan data siswa SLB berkebutuhan khusus di Sumbar. Tercatat sebanyak 124 tunanetra, 8 tunarungu, 3.437 tunagrahita, 195 tunadaksa, 128 tunalaras, 798 autis, 159 Attention Deficit Hyperactivity Disorder, dan 395 orang berkesulitan belajar.
Di Sumbar tercatat sebanyak 1.046 sekolah telah menjadi sekolah penyelenggara pendidikan iklusi. Rinciannya, 287 sekolah dasar, 79 sekolah menengah pertama, dan 49 sekolah menegah atas. Sementara itu, jumlah siswa inklusif sendiri ada 1.046 orang siswa.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!