Aliansi mahasiswa se-Sumatra Barat melakukan Orasi dan Aksi Diam di depan Jalan Simpang Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Sumatera Barat, Kamis (15/11). Aksi dan Orasi ini bertujuan untuk menyuarakan pelangaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi di tragedi Semanggi pada 20 tahun silam, seolah kasus tersebut tidak pernah diusut dan pihak yang melanggar itu kebal hukum.
Salah seorang mahasiswa Jurusan Sastra Universitas Bung Hatta (UBH), Edo Hia menyampaikan bahwa banyak kasus pada pergolakan 1998 dulu yang masih tidak diselidiki sampai sekarang. Selain kasus pelanggaran HAM, banyak kasus lain yang terjadi, mulai dari kasus Geothermal di Gunung Talang, Solok dan Simpang Tonang di Pasaman. "Keduanya merupakan daerah eksploitasi oleh pemerintah tanpa memikirkan hak dan kepentingan rakyat," ujarnya.
Tidak hanya itu, di daerah lain di Sumatra Barat kasus serupa juga marak terjadi, bahkan lebih parah. Banyak rumah penduduk yang terancam akan dibongkar dan dijadikan lahan tambang emas. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat. "Ini merupakan tindakan nyata yang Kami lakukan untuk menyampaikan aspirasi masyarakat di daerah sana," lanjutnya.
Edo juga menyampaikan bahwa Aksi Diam ini dilakukan sejak 2007 lalu dan berlangsung sampai sekarang. Ia berharap semoga aksi ini bisa ditanggapi oleh pemerintah dan mahasiswa lebih sadar dengan isu yang terjadi di Indonesia, khususnya di Sumatra Barat. "Orasi ini akan berkelanjutan terus setiap hari Kamis," tuturnya.
Seorang mayarakat umum, Latifatul Husna yang ditemui Ganto saat melintas di daerah tersebut menilai orasi yang dilakukan mahasiswa tersebut sangat bagus karena menyuarakan aspirasi dan keluh kesah masyarakat. Akan tetapi, ia menyayangkan partisipasi mahasiswa yang sedikit. "Mahasiswa harus sadar bahwa perannya sangat dibutuhkan dalam masyarakat," harapnya.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!