Berita

Trauma Healing: Kurangi Dampak Bencana Melalui Permainan

Trauma Healing: Kurangi Dampak Bencana Melalui Permainan
Cerebro Bigas FIK UNP melakukan foto bersama siswa SD N 02 Sungai Kunyit dalam acara Cerebro Bigas Solidarity di Desa Sungai Kunyit Kabupaten Solok Selatan, Sabtu (16/3). f/Doc

Bertujuan meringankan beban korban pasca gempa, Cerebro Bigas Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Padang (UNP) menyelenggarakan Cerebro Bigas Solidarity di Desa Sungai Kunyit Kabupaten Solok Selatan, Jumat-Sabtu (15-16/3). Hal ini disampaikan oleh Ketua Pelaksana Cerebro Bigas Solidarity, Tika Gustina saat diwawancaraiGantodi Ruang Dialog Cerebro Bigas FIK UNP, Senin (18/3).

Tika menjelaskan bahwa pada kegiatan ini Cerebro Bigas menggandeng dua buah instansi, yakni Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Psikologi UNP dan Program Peduli Nagari (PPN) Kota Padang. "Dengan menggandeng pihak PPN Kota Padang, kami menyalurkan bantuan berupa sembako kepada warga di Desa Sungai Kunyit," ujarnya.

Kegiatan utama dari Cerebro Bigas Solidarity ini, kata Tika, berupaTrauma Healingyang ditujukan kepada anak-anak. Dalam hal ini sasarannya adalah siswa Sekolah Dasar (SD) N 02 Sungai Kunyit. "Kami menyediakan buku tulis dan buku bacaan sebagai hadiah bagi siswa-siswa tersebut," tuturnya.

Tika mengatakan bahwaTrauma Healingdiberikan dalam bentukout bondyang terdiri dari beberapa rangkaian kegiatan. Diantaranya permainan,ice breaking, pemberian hadiah, dan melukis. "Kegiatan melukis diamati langsung oleh HMJ Psikologi UNP karena gambar yang dihasilkan siswa akan berkaitan dengan kondisi psikologinya," jelas Tika.

Senada dengan Tika, Ketua Umum Cerebro Bigas, Randi Kurniawan menjelaskan bahwaTrauma Healingdiberikan agar anak-anak, khususnya siswa SD N 02 Sungai Kunyit tidak lagi mengalami trauma atau teringat bencana gempa yang baru saja terjadi. Gempa berkekuatan 5,6 SR tersebut merupakan gempa terkuat yang dialami masyarakat Solok Selatan pada 28 Februari lalu," ucapnya.

Randi juga menjelaskan bahwaice breakingmerupakan tahap awal dariTrauma Healingsebagai pendekatan awal kepada para siswa. "Hal ini bertujuan agar siswa tidak merasa asing dengan kehadiran kami," ujarnya.

Tahap selanjutnya yaitu melukis atau menggambar. Melalui gambar yang dihasilkan siswa, kata Randi, akan terlihat apakah siswa masih mengalami trauma atau mengingat bencana gempa yang terjadi. Misalnya, siswa menggambar pohon yang tumbang atau rumah yang retak, berarti masih ada dampak akibat gempa tersebut terhadap kondisi psikologisnya. "Dari kegiatan melukis yang dilakukan siswa, Saya melihat tidak ada lagi dampak atau efek dari bencana yang terjadi" tutur Randi.

Lebih lanjut Randi menyampaikan bahwa terdapat beberapa tantangan yang dialami Cerebro Bigas dalam mengangkatkan kegiatan ini. Tantangan utamanya yakni jarak tempuh yang cukup jauh dari pusat kabupaten menuju Desa Sungai Kunyit. Jalan yang dilalui masih berupa batu koral dengan banyak tebing dan jurang di sekitarnya.

Desa Sungai Kunyit, kata Randi, merupakan desa terpencil di pelosok Solok Selatan. Di desa tersebut, hanya ada dua SD, yakni SD utama dan SD cabang. "SD N 02 merupakan SD utama dengan jumlah siswa sebanyak 56 orang. Itu sudah mencakup kelas 1 hingga kelas 6," ujarnya.

✔ Standar Jurnalisme & Transparansi SKK Ganto UNP

Berita ini diproduksi dan diverifikasi sesuai dengan Pedoman Pemberitaan Media Siber dan Kode Etik Jurnalistik oleh Dewan Pers.

Julia Fitri
Jurnalis • Liputan Berita

Redaktur Daring
Diedit & Diverifikasi oleh: Imelda Kristinafany Sirait (Redaktur Daring)
✔ Standar EEAT Redaksi

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

2 + 5 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.