Berita

Revolusi Industri 4.0 Berbasis Revolusi Mental

Revolusi Industri 4.0 Berbasis Revolusi Mental
Pemaparan materi tentang Revolusi Mental oleh The Best Innovator dan Penulis Buku Best Seller serta Buku Utama KPK RI, Dedi Mahardi pada acara kuliah umum dan penandatangan MoU antara PT. Pegadaian dengan Universitas Negeri Padang (UNP) di Auditorium UNP,

Sebenarnya kalian adalah generasi yang paling berbahagia diantara kami, tutur The Best Innovator dan Penulis Buku Best Seller serta Buku Utama KPK RI, Dedi Mahardi pada acara kuliah umum dan penandatangan MoU antara PT. Pegadaian dengan Universitas Negeri Padang (UNP) di Auditorium UNP, Selasa (2/4).

Ia mengatakan jika zaman dulu ketika ingin membaca buku dan ingin tahu sesuatu, maka harus beli buku, harus datang ke perpustakaan, dan jika tidak memiliki uang harus meminjam buku teman. Namun dewasa ini, dengan gawai yang modalnya satu juta bisa melakukan apa saja, membuat apa saja, dan tahu tentang apa saja. Akan tetapi, Dedi mengatakan dengan adanya kemudahan tersebut, jangan sampai menjadi beban atau penyakit pada diri sendiri.

"Jangan menjadi objek dari teknologi. Anda harus menyiapkan mental agar menjadi subjek dari teknologi," jelasnya.

Mempelajari revolusi mental sangat dibutuhkan. Hal ini untuk memunculkan kelebihan diri, mengeliminasi kekurangan diri, untuk berkomunikasi dan berkolaborasi, agar menjadi bisa berkontribusi, dan menghadapi hiper competition. Dedi mengatakan bahwa mengeliminasi kekurangan diri sangat penting karena bangsa Indonesia dari dulu sampai sekarang belum bisa menghilangkan 'senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang.'

Selanjutnya ia mengatakan ketika diundang menjadi narasumber pada acara akses menuju dunia oleh Metro tv tahun 2011 yaitu internet masuk desa, ia telah mewanti-wanti bahwa generasi bangsa ini harus dipersiapkan dari sisi mentalnya untuk menghadapi cepatnya perkembangan teknologi. Jangan sampai ke depan jadi bangsa pasar dari teknologi, sehingga tidak dapat mengambil apa-apa dari begitu dahsyatnya perkembangan teknologi. Apalagi gaya kehidupan masyarakat Indoonesia yang berlebihan. "Jangan sampai lagak lebih tinggi dari kemampuan diri," jelasnya lagi.

Dedi juga menjelaskan poin penting yang harus diubah dari generasi saat ini adalah kepedulian. Generasi milineal yang terkenal dengan cuek dan acuh tak acuh, ke depan akan menyebabkan kekurangan dalam diri. Hal ini disebabkan orang yang tidak peduli tidak akan memunculkan kreativitas-kreativitas dalam dirinya. Munculnya kreativitas dimulai dari kepedulian kepada orang lain, lingkungan, dan lainnya. Dari kepedulian akan muncul keinginan untuk memperbaiki sesuatu.

"Jika ingin membuat sesuatu dari produk-produk harus menggali apa yang dibutuhkan masyarakat saat ini, sehingga apa yang dibuat menjadi bermanfaat dan menjadi sesuatu yang dicari orang," jelasnya.

Lebih lanjut Dedi mengatakan berpikirlah dengan banyaknya pengguna internet dan bagaimana memanfaatkan teknologi, sehingga bisa memenangkan kompetensi global dalam era 4.0. Pada tahun 2017 dari kurang lebih 260 juta masyarakat Indonesia, 72,7 juta adalah pengguna aktif internet dan 74 juta adalah pengguna aktif sosial media. Dedi berharap sebagai mahasiswa nantinya bisa menjadi penyedia lapangan pekerjaan karena sudah dibekali ilmu yang cukup tinggi, cara berpikir yang bagus, dan bagaiman membuat sesuatu yang berbeda.

Inti dari revolusi mental adalah kita harus menyadari, mengintropeksi diri, mempelajari hal baru, mengamati lingkungan dan diri sendiri, serta selalu belajar mencari ilmu agar lebih baik lagi. Kunci dari revolusi mental adalah hati yang bersih dan keinginan yang baik untuk orang lain. "Orang yang kreatif nanti akan muncul tanpa ditonjol-tonjolkan."

Selain itu, dengan adanya revolusi mental kita harusnya mengembalikan ciri-ciri bangsa yang berkarakter. Mengembalikan budaya lebih kuat daripada aturan, disegani bangsa lain, mandiri, pemimpin cinta rakyat, berpegang pada literasi, positif dan produktif serta menanamkan rasa malu dan kejujuran. Kemudian mengembalikan rasa sabar, ramah, peduli, rela berkorban, rasa kebangsaan, dan gotong royong.

✔ Standar Jurnalisme & Transparansi SKK Ganto UNP

Berita ini diproduksi dan diverifikasi sesuai dengan Pedoman Pemberitaan Media Siber dan Kode Etik Jurnalistik oleh Dewan Pers.

Monalisa
Jurnalis • Liputan Berita

Pemimpin Redaksi Cetak
Diedit & Diverifikasi oleh: Imelda Kristinafany Sirait (Redaktur Daring)
✔ Standar EEAT Redaksi

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

7 + 5 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.