Mahasiswa Jurusan Kepelatihan Olahraga Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Padang (UNP) mengadakan Festival Silat Tradisional antar-Perguruan Silat di Kota Padang Tahun 2019 di Gedung Olahraga SMA Pembangunan UNP, Sabtu (27/4).
Ketua Pelaksana, Andre Amrizal mengatakan bahwa festival ini diselenggarakan sebagai pemenuhan tugas akhir pada Mata Kuliah Sistem Organisasi Pertandingan Olahraga.
Pemilihan Festival Silat Tradisional ini, kata Andre, dilatarbelakangi oleh jarangnya diadakan pertandingan pencak silat. "Supaya budaya kita bisa bangkit lagi dan tidak ketinggalan dengan budaya modern," jelas Andre.
Andre menuturkan bahwa ada beberapa perguruan yang mengikuti festival ini. Di antaranya Perguruan Singgo Barantai, Pu Nan Saiyo, Kampung Duri Saiyo, Limau Manih, Harimau Bergerak, Mau Lugai, dan Durian Tapak. "Sebenarnya banyak perguruan yang akan ikut. Namun, karena kendala waktu, hanya beberapa yang ikut," ujarnya.
Dalam mengangkatkan festival ini, lanjut Andre, diadakan kerja sama dengan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Sumatera Barat (Sumbar) dan Kota Padang. "Ada sepuluh orang juri dalam festival ini. Mereka sudah berpengalaman, bahkan di tingkat internasional," ujarnya.
Pengarah Kegiatan sekaligus Ketua Bidang Festival IPSI, Indrayuda, S.Pd., M.Pd., Ph., mengapresiasi mahasiswa FIK karena untuk pertama kalinya dianggap berhasil mengadakan festival ini. "Walaupun hanya untuk tugas akhir dalam satu kelas," ungkapnya.
Indrayuda mengungkapkan bahwa festival pencak silat di Indonesia sudah cukup sering diadakan di beberapa kota besar. Begitu juga dengan di Sumbar, festival pencak silat sudah beberapa kali diadakan. Hal tersebut dilakukan agar pencak silat menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.
Dari pihak IPSI, Indrayuda mengharapkan agar pencak silat bisa menjadi mata pelajaran, paling tidak kegiatan ekstrakurikuler. "Di Jawa sudah masuk sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Padahal kita ibu pencak silat," ujarnya.
Selain itu, Indrayuda juga mengatakan bahwa IPSI mengenalkan pencak silat kepada anak-anak usia dini. "Usia dini main sangat bagus, diperkenalkan dan diajak orangtuanya," ujar Indrayuda.
Peserta pada festival ini didominasi para remaja, salah satunya Muhammad Vitoni Sabra (15). Ia mengaku berlatih pencak silat untuk melestarikan kebudayaan, pertahanan diri, dan melindungi orang lain. Vitoni juga mengatakan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kesehatannya. "Soalnya, jika bukan kita yang melestarikannya siapa lagi," ucap Toni.
"Semoga semakin banyak teman yang mengikuti dan bisa melestarikan budaya Minangkabau dalam seni pencak silat ini," harap Vitoni.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!