Universitas Negeri Padang (UNP) ditunjuk menjadi salah satu perancang konsep Pendidikan Kararakter dari 25 Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia. Pengembangan, Penghayatan dan Pengamalan Nilai-Nilai Karakter Cerdas (P3N-KC) adalah tema yang diangkat oleh tim yang merancang pendidikan karakter ala UNP ini. Terpilihnya UNP sejak September 2010 lalu disambut baik oleh UNP sendiri. Hal ini disampaikan ketua tim P3N-KC, Prof. Dr. Prayitno, M.Sc. Ed, terpilih atau tidaknya UNP sebagai perancang, pendidikan karakter harus tetap diterapkan. "Namun karena ada kesempatan, jadi kita manfaatkan" ujarnya saat ditemui dalam Seminar Hasil P3N-KC, Kamis (1/12).
Menurut Prayitno, pendidikan karakter bukanlah hal baru lagi dalam dunia pendidikan. Pendidikan karakter perlu diangkat kembali karena ada gejala-gejala yang menyebabkan karakter dari pendidikan itu berkurang. Gejala ini bisa dilihat dari banyaknya guru yang mengajar dengan cara memarahi siswa dan contek-mencontek di kalangan pelajar atau mahasiswa. "Ini juga yang memicu korupsi," jelasnya, Jumat (9/12).
Dr. Afriva Khaidir, SH.,M.Hum.,MAPA yang merupakan anggota tim sekaligus penulis buku Butir-Butir Nilai Karakter Cerdas bersama Prayitno menjelaskan bahwa kebijakan pusat membagi nilai karakter cerdas dalam empat konsep. Empat konsep itu ialah kejujuran, kecerdasan, ketangguhan, dan kepedulian. Namun, bagi UNP keempat konsep itu belumlah cukup, keimanan dan ketaqwaan (Imtaq) juga perlu dalam pendidikan karakter. Oleh karena itu UNP menambah konsep Imtaq kedalamnya. "Ada lima konsep jadinya," ujarnya, Rabu (23/11).
Konsep yang dirancang dalam bentuk P3N-KC ini kemudian diterapkan kepada beberapa mahasiswa yang direkrut dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) sebagai perwakilan. Kegiatan ini diikuti oleh 405 peserta dengan 70 orang fasilitator dari kalangan dosen. Seorang peserta P3N-KC, Sri Wahyu, mahasiswa FMIPA menjelaskan teknis dari acara P3N-KC. Sri menjelaskan, seluruh peserta dibagi menjadi enam angkatan. Setiap angkatan dibagi lagi menjadi beberapa kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari sepuluh orang. Selanjutnya kelompok-kelompok tersebut mengadakan diskusi selama dua hari dengan didampingi 2 orang fasilitator.
Lebih lanjut Sri menjelaskan dalam diskusi kelompok, peserta membahas masalah yang ada di lingkungan sekitar. Permasalahan tersebut kemudian dikaitkan dengan lima konsep nilai karakter cerdas yang telah ditentukan tadi. Sambil terus didampingi fasilitator, peserta dalam diskusi bebas mengeluarkan pendapat mereka mengenai permasalahan yang diangkat dan menarik kesimpulan. "Jika ada hal yang rancu, fasilitator akan menengahi kami," ungkapnya, Rabu (30/11).
Setelah mengadakan diskusi, tambahnya, peserta kemudian mempresentasikan hasil diskusi mereka pada Seminar Hasil P3N-KC, Kamis (1/12). Peserta yang mewakili masing-masing angkatan melaporkan apa yang mereka bahas dalam diskusi tersebut. Begitu juga dengan fasilitator, dengan 5 orang perwakilan mereka menyampaikan kesimpulan dari diskusi yang telah dijalankan.
Mengenai pendidikan karakter sendiri, Sri mengaku sangat mendukungnya. Menurutnya, P3N-KC bermanfaat untuk membentuk karakter seorang mahasiswa. Namun, ia masih tidak paham tindak lanjut dari kegiatan ini seperti apa. "Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan ke depannya," ujarnya Rabu (30/11). Hal yang sama juga dirasakan peserta lain, Ferdino WS, mahasiswa Administrasi Pendidikan TM 2010, ia juga tak tahu apa tugasnya sebagai peserta selanjutnya.
Menanggapi hal ini, Prayitno menjelaskan setelah kegiatan P3N-KC ini, peserta mempunyai kesempatan menjadi co-fasilitator pada tahap kedua P3N-KC nantinya. Sebagai co-fasilitator, peserta mendampingi fasilitator dalam membina mahasiswa. Prayitno berharap para peserta mampu mengamalkan nilai-nilai karakter cerdas yang sudah disosialisasikan dan menyebarkannya pada mahasiswa lain. Dengan memiliki pengalaman ini, tambahnya, mahasiswa bisa menghasilkan tulisan-tulisan baru bagi pendidikan karakter ke depannya. "Mahasiswa bisa menulis untuk kemajuan pendidikan karakter ke depan," tutupnya, Jumat (9/12). AmiJaer*
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!