Sumpah pemuda terjadi karena adanya kesamaan posisi serta rasa di masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, tidak sepatutnya masyarakat saat ini hanya menyalahkan pemerintah atas permasalahan yang ada.
Hal ini disampaikan oleh Al Mukhollis Siagian saat menjadi pemateri pada Gebyar Kampus Merah dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda di Taman Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang, Senin (28/10).
Masyarakat harusnya lebih sadar, lanjut Al Mukhollis, dan memperbaiki diri. Ia mencontohkan perbedaan antara pemuda Jepang dan pemuda Indonesia. Ketika keduanya sama-sama membeli sesuatu, maka akan digunakan untuk tujuan yang berbeda.
"Jika sang pemuda Jepang membeli suatu alat teknologi, ia akan membongkar teknologi yang ia gunakan untuk diamati bagaimana sistem kerjanya, kemudian ia akan mencoba membuat replikanya. Sementara itu, jika pemuda Indonesia membeli suatu alat teknologi, alat itu hanya digunakan sebagai hiburan atau konsumtif," ujar Al Mukhollis.
Al Mukhollis juga menekankan bahwa perbedaan antara kedua pemuda tadi ialah pola pikir dan sifat. Orang luar berpikir bagaimana untuk produktif, sedangkan orang Indonesia masih sebatas konsumtif. "Bagaimana mau maju kalau begini terus," ujarnya.
Saat ini teknologi sudah semakin maju di era 4.0, tegas Al Mukhollis, tidak ada salahnya masyarakat Indonesia berpikir terkait bagaimana memanfaatkannya, salah satunya ialah menulis. Ia menekankan bahwa dengan menulis seseorang akan lebih produktif dan dunia literasinya akan berkembang.
Jika dunia literasi seseorang berkembang, kata Al Mukhollis, maka ia akan merasa sangat haus akan diskusi karena butuh ide baru. Itulah modal yang paling penting. "Menulis bisa dimulai dengan hal-hal kecil dan dari media kecil sekalipun, tidak perlu langsung diterbitkan seperti penulis terkenal," pesannya.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!