"Pemerintah bohong dan tidak konsisten," ujar Reno Fernandes kala memulai diskusi Historia di Laboratorium Sejarah UNP, Selasa (27/3). Diskusi yang dilakukan Historia (sebuah komunitas dari FIS) ini diadakan sebagai bentuk partisipasi intelektual dalam menanggapi isu kenaikan BBM awal April mendatang. Dalam diskusi ini setidaknya diikuti sekitar 30 mahasiswa se-lingkungan FIS.
Beranjak dari wacana dalam Undang-undang Nomor 12 (6) tahun 2011 lalu, harga jual eceran BBM bersubsidi tidak mengalami kenaikan. Namun saat ini pemerintah mengeluarkan kebijakan yang sebaliknya dengan kenaikan kisaran Rp1.500 pada 1 April mendatang. Akibatnya akan berdampak dengan naiknya harga sembako hingga biaya pendidikan.
Kenaikan harga BBM dinilai tidak realistis dengan kondisi Indonesia yang menggantungkan pada ekonomi agraris. Prioritas kesejahteraan kalangan menengah ke bawah akan semakin sempit. "Negara Indonesia sudah miskin dan kebanyakan diantara mereka bekerja sebagai petani. Diantaranya adalah orang tua saya. Apabila BBM naik bisa jadi adik-adik saya tidak sekolah nantinya, karena orang tua saya tidak mampu membeli pupuk yang akan ikut naik harganya beriringan dengan naiknya harga angkot, maupun kebutuhan kuliah," keluh seorang peserta diskusi.
Apabila dilihat dari persentase penyaluran anggaran APBN, 60% untuk Gaji PNS, 30% untuk subsidi BBM, dan 10% untuk keperluan lainnya, dengan menaikkan harga BBM dianggap bukan satu-satunya jalan yang bisa diambil. Walaupun sebuah solusi kemudian ditawarkan pemrintah dengan memberikan bantuan langsung tunai (BLT) disinyalir tidak benar-benar memberi solusi. Bahkan hanya akan menyebabkan masalah baru.
Di ujung diskusi, Reno Fernandes kemudian memberikan solusi dengan mengajak forum melihat kembali visi di awal pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, "Mewujudkan Kemandirian Energi". Reno menganggap cara ini sangat tepat jika dihubungkan dengan keadaan Indonesia yang mulai merangkak menunjukkan kekuatannya. "Bukan malah menutup pintu!," tambahnya. (Historia)
Tulisan berasal dari Pengurus Historia FIS UNP.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!