Berita

Beritakan Predator Seks, LPM Institut Tuai Intimidasi

Beritakan Predator Seks, LPM Institut Tuai Intimidasi
Doc. Ganto

Ganto.co - Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Institut Universitas Islam Negeri (UIN) Hidayatullah memperoleh intimidasi dari Kelompok Pecinta Alam (KPA) Arkadia UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Ganto, tindakan intimidasi bermula setelah LPM Institut menerbitkan sebuah berita dengan judul "Dosa Besar Senior Predator Seks" pada Senin (18/4).

Selang sekitar 1 jam dari diterbitkan berita, reporter yang menulis berita, pemimpin redaksi, dan pemimpin umum LPM Institut mulai dihubungi oleh pihak Arkadia yang meminta agar berita tersebut ditarik kembali.

Selasa, 19 April 2022. Pagi harinya, pukul 08.46 Institut diminta menghadap ke bagian kemahasiswaan untuk menjelaskan isi berita "Dosa Besar Senior Predator Seks" lebih lanjut. Pukul 13.00 perwakilan LPM Institut tiba di gedung kemahasiswaan, dan menunggu staf kemahasiswaan keluar ruangan.

Selanjutnya pihak LPM Institut mengadakan pertemuan dengan pengurus UKM yang bersangkutan di Sekretariat LPM Institut, Lantai 3 Gedung Student Centre UIN Syarif Hidayatullah. Pada pertemuan tersebut pihak Arkadia menyampaikan keberatannya atas berita yang telah dirilis LPM Institut. "Mereka (Arkadia) mempermasalahkan berita kami yang tidak berimbang, karena tidak ada konfirmasi dengan pihak organisasi terkait. Mereka tidak terima, Institut menulis nama organisasi mereka secara eksplisit dalam berita".

LPM Institut mengakui kesalahan tersebut dan meminta maaf. LPM institut juga menawarkan hak jawab kepada Arkadia. Namun yang diminta Arkadia adalah penurunan berita. Mereka menekan narasi nama baik Arkadia yang tercoreng akibat pemberitaan "Dosa Besar Senior Predator Seks" hingga kemudian salah seorang Alumnus Arkadia angkatan 93 datang dan memaki-maki pihak LPM Institut.

"Apa susahnya takedown,"

"Jangan nyari popularitas dengan cara seperti ini, Allah nggak akan ridho,"

"Kamu tidak tahu apa efek yang akan ditimbulkan dengan tulisan recehan seperti itu,"

" Kita nggak salah saja sudah dibilang salah, orang diluar itu menertawakan kita,"

"Ini aib saudara kamu sendiri, kalau berita ini keluar orang malah ikut menertawakan bukan bersedih,"

"Ini kita berbicara tidak tentang Arkadia saja, tapi aibnya UIN sendiri,"

"Islam tidak dijelek-jelekan saja sudah jelek di mata orang, apalagi ada pemberitaan seperti ini,"

"Jangan bawa-bawa Arkadia dong,"

"Kalau kamu memenuhi keinginan dia untuk menjelek-jelekkan organisasi berarti kalian setuju dengan tindakan dia,"

"Lihat resiko yang telah kamu ambil, nanti kalau ada anak Arkadia merusak ini sekret, saya tidak akan bisa nanggung ,"

"Kalau saya minta ditutup ini bisa , gara-gara siapa? Tulisan recehan, fitnah lagi,"

"Yang dilukai itu bukan cuma korban, pelaku, tapi kita keluarga besar, Islam khususnya,"

"Sekarang juga kamu takedown tulisan kamu, SEKARANG JUGA. Tidak pakai detik lagi ,"

"Masalahnya bukan bisa atau tidak bisa, tapi mau atau tidak mau. Tidak ada alasan tidak bisa takedown,"

"Ini masih satu badai, masih ada badai-badai lain yang lebih besar,"

"SAYA BISA SUMPAHIN KALIAN SEMUA GAK LULUS!!"

"Apakah LPM mau disalahkan jika ada kasus seperti ini di dalam organisasi kalian?,"

Pihak Institut menjawab "mau" namun alumnus tersebut mengatakan

"nggak mungkin. Karena bukan kamu pelakunya. Ini masalah harga diri,"

"Aku nggak belajar agama banyak, tapi yang saya tahu, tugas kita sebagai umat muslim adalah menyembunyikan aib saudara sendiri, bukan diumbar,"

Pihak Institut mengaku terus-menerus ditekan bahkan tidak diberi ruang untuk berdialog. Pihak Arkadia tetap meminta berita tersebut ditakedown hingga pada pukul 15.00 karena terus ditekan secara terpaksa LPM Institut men-takedown berita itu.

Pukul 15.12 Pemimpin Umum LPM Institut menghubungi LBH APIK dan menceritakan mengenai tekanan dar pihak Arkadia.

Sekitar pukul 15.15 salah seorang anggota LPM Institut, mendengarkan salah seorang senior Arkadia mengatakan kalimat ancaman kepada Institut " Kalau kita usik satu saja orang Arkadia, hancur ini LPM.

Arkadia juga meminta institut untuk menulis surat perjanjian dengan isi permintaan maaf yang sudah disiapkan oleh Arkadia yaitu.

1. Ketidakprofesionalan lembaga karena memberikan informasi yang tidak berimbang (tidak adanya verivikasi dalam pemberitaan yang sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik)

2. Adanya tindakan yang menyebabkan tercorengnya nama baik lembaga terkait Pemimpin Umum LPM Institut mulai ditekan untuk menandatangani surat tersebut, namun ia menolak.

Pukul 15.49 WIB Pemimpin Umum Institut kembali pihak LBH APIK dan pihak tersebut mengatakan tidak perlu menandatangani surat perjanjian tersebut. Bahkan, kata dia, tak perlu untuk membuat permintaan maaf ke publik dan sosial media LPM Institut.

Kemudian PU beralasan akan mengadakan zoom terlebih dahulu di pukul 17.00 WIB. Karena paralegal yang kami hubungi mengatakan akan membagikan link zoom konsultasi dengan LBH APIK di pukul 17.00 WIB.

Namun dari LBH Apik masih ada kendala, sehingga sesi zoom masih diundur.

Pukul 16.50 WIB beberapa teman LPM diminta untuk keluar sekret oleh PU. Disebabkan PU tau keadaan akan semakin tidak aman dan suasana negosiasi sudah tidak kondusif. Maka dari itu LPM Institut ingin mengakhiri dan melanjutkan penandatanganan surat perjanjian di lain waktu yang lebih aman dan kondusif. Dan mereka menagih jam persisnya. Kemudian PU asal menjawab jam 9 malam. PU memilih jawaban seperti itu. supaya bisa mengulur penandatangan perjanjian dan bisa keluar dari kampus terlebih dahulu.

Namun Arkadia mengatakan siap menunggu sampai malam di kampus untuk menunggu LPM mempublikasi Infografik permintaan maaf dan menandatangani surat perjanjian yang dibentuk di bawah tekanan.

Pada Pukul 17.00 WIB Para senior/alumni Arkadia naik ke lantai tiga menuju sekret. Posisi kami di luar dan sekret sudah terkunci. Para senior Arkadia memaksa kami untuk membuka sekret kami, dan mulai mengeluarkan ancaman-ancaman. Seperti,

"Ini sudah jam 5, mana permintaan maafnya. Kalian udah janji loh sama saya, kalo udah janji tepatilah. Kalian Islam, kan?"

"Siapa yang bertanggung jawab, yang menulis (pernyataan permintaan maaf) siapa? Pemrednya mana? Ketuanya mana?"

"Kamu mau minta maaf atau nggak, gitu dulu deh. Kalo ngga ya saya tinggal jalan ke polisi dan dewan pers"

"Kamu tau nggak dampak dari berita kamu? Nih ada 800 notif chat. Mereka semua masih menunggu permintaan maaf"

LPM Institut mengaku memang merasa harus meminta maaf, tapi bukan begini caranya. Ini bukan forum negosiasi, tapi intimidasi. Karena relasinya tidak setara.

Hingga pada pukul 17.03 WIB pada kondisi yang tidak kondusif itu salah satu DPH Arkadia mengirimkan via chat pada PU Institut jika ada pesan dari staf warek 3. Pesan tersebut berupa:

1. Arkadia berhak mengajukan tuntutan ke LPM Institut secara resmi jika dianggap berita ini sepihak dan merugikan Arkadia

2. Arkadia bisa memberikan klarifikasi sekaligus menuntut LPM melalui press realease via medsos dll (news vs news)

3. Kemahasiswaan dalam hal ini fokus pada kasus KS yang dilaporkan/diberitakan, bukan pada framing pemberitaan.

4. Persoalan kedua lembaga diharapkan bisa diselesaikan secara baik dan kekeluargaan.

Pukul 17.26 WIB, akhirnya demi pertimbangan keselamatan tiga pengurus LPM Institut yang masih berada di lantai tiga bersama pengurus dan senior Arkadia. Arkadia juga berjaga di ujung tangga. Saat itu juga, kami langsung membuat postingan permintaan maaf. Tentu dengan tekanan para senior Arkadia. Namun Ketua Arkadia tetap menagih tanda tangan Ketua LPM Institusi.

Berkenaan dengan kejadian tersebut SKK Ganto UNP menolak segala bentuk intimidasi terhadap LPM termasuk yang dialami oleh LPM Institut UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

✔ Standar Jurnalisme & Transparansi SKK Ganto UNP

Berita ini diproduksi dan diverifikasi sesuai dengan Pedoman Pemberitaan Media Siber dan Kode Etik Jurnalistik oleh Dewan Pers.

redaktur
Jurnalis • Liputan Berita

redaktur
Diedit & Diverifikasi oleh: Nurul Safitri (Pemimpin Redaksi Cetak)
✔ Standar EEAT Redaksi

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

3 + 7 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.