Berita

Cegah Bunuh Diri, Psikolog: Jangan Abaikan Stres dan Depresi

Cegah Bunuh Diri, Psikolog: Jangan Abaikan Stres dan Depresi
Nurmina, S.Psi, M.A, Psikolog dalam kegiatan Seminar Indofinite Psychilogy Center, Senin (22/1). f/dinda
Ganto.co -

Infinite Psychilogy Center mengadakan seminar dengan tema "Deteksi Dini Kecemasan, Depresi, dan Pemikiran Bunuh Diri pada Remaja hingga Dewasa" yang diselenggarakan melalui platform Zoom Meeting, Senin (22/1).

Founder Indofinite Psychilogy center, Rashida Anggun Intan, M.Psi., Psikolog dalam sambutannya menyampaikan harapan webinar ini.

"Saya berharap kegiatan ini berjalan dengan baik dan seminar ini dapat memberikan ilmu tidak hanya di kalangan mahasiswa tetapi di lingkungan masyarakat," ujarnya.

Kegiatan ini dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Nurmina, S.Psi, M.A, Psikolog yang merupakan dosen aktif di Universitas Negeri Padang (UNP). Ia menjelaskan arti dari kecemasan.

"Adanya perasaan tidak nyaman akan bahaya yang akan terjadi di masa depan sehingga mempengaruhi mood, yang bahkan kita sendiri tidak tahu apakah akan terjadi atau tidak, bahaya atau tidak," ujarnya.

Ia juga mengatakan ada 12 gejala yg muncul saat seseorang mengalami kecemasan seperti sesak nafas, detak jantung cepat, sakit perut (mules), mulut kering, kepala pusing, merasa takut, gelisah, sulit berkonsentrasi, sulit mengingat sesuatu, tegang, merasa lemah dan kebingungan.

Selanjutnya, ia menjelaskan depresi disebabkan beberapa faktor seperti, faktor biologis, psikologis, dan sosial.

"Sering irasional, nyalahin diri sendiri, merasa tidak bisa mengendalikan lingkungan. Kondisi diri sendiri juga bisa memicu stres, termasuk trauma masa lalu, putus cinta, dan seterusnya," ujarnya.

Ia juga menguraikan bagaimana cara mengatasi seseorang dengan gangguan depresi, sehingga mencegahnya untuk melakukan aksi bunuh diri.

"Cara mengatasinya mulai dari diri sendiri, yang mengalami depresi. Kita harus bicara tentang apa yang sedang kita alami. Jadi, kita harus membuka diri, kuncinya itu saja. Artinya depresi itu dapat diobati, ga perlu takut," paparnya.

Melalui seminar ini, ia berharap para peserta mampu memberi pemahaman serta menghilangkan stigma seseorang dengan gangguan depresi kepada masyarakat.

"Jangan pernah menganggap orang depresi itu tidak waras. Stigma ini yang harus kita hilangkan dengan memberikan edukasi dan pemahaman kepada masyarakat. Saya tegaskan lagi bahwa depresi itu dapat diobati, mereka hanya perlu membuka diri kepada seorang profesional," tutupnya.

✔ Standar Jurnalisme & Transparansi SKK Ganto UNP

Berita ini diproduksi dan diverifikasi sesuai dengan Pedoman Pemberitaan Media Siber dan Kode Etik Jurnalistik oleh Dewan Pers.

Adinda Ardhia Salsabila
Jurnalis • Liputan Berita

Redaktur Berita Daring
Diedit & Diverifikasi oleh: Afifah Salsabilah Putri (wartawan)
✔ Standar EEAT Redaksi

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

6 + 3 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.