Berita

Direktur Eksekutif WALHI Sumbar Ungkap Transisi Energi Picu Konflik antar Masyarakat

Direktur Eksekutif WALHI Sumbar Ungkap Transisi Energi Picu Konflik antar Masyarakat
Kepala Departemen Sosiologi Dr. Delmira Syafrini, S.Sos., MA. sedang memberikan kata sambutan pada kegiatan diseminasi dan diskusi publik di Ruang Sidang Senat UNP, Selasa (30/1). f /Aisyah

Ganto.co - Labor Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Padang (UNP) bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatra Barat (Sumbar) mengadakan diseminasi dan diskusi publik. Kegiatan yang bertemakan "Transisi Energi yang Adil, atau Solusi Palsu?" ini, diadakan di Ruang Sidang Senat UNP, Selasa (30/1).

Kepala Departemen Sosiologi, Dr. Delmira Syafrini, S.Sos., MA., mengatakan diseminasi dan diskusi ini hasil sebuah hasil riset tentang pengaruh transisi energi bagi masyarakat.

"Nanti kita akan mendengarkan diseminasi dan diskusi publik, ini adalah hasil riset. Kita akan membahas apakah transisi energi itu adalah sesuatu yang bentuknya adil bagi masyarakat atau hanya sebuah solusi palsu," ucapnya.

Direktur Eksekutif daerah WALHI Sumbar, Wengki Purwanto menegaskan bahwa transisi energi sangat penting untuk dibahas secara mendalam di seluruh dunia karena semuanya telah terdampak krisis.

"Topik ini sangat penting untuk dibahas secera mendalam di seluruh dunia, kita tahu bahwa krisis iklim telah memberikan dampak yang nyata di seluruh dunia termasuk Indonesia," ujarnya.

Ia mengatakan bahwa energi kotor atau energi fosil yang menyebabkan krisis iklim. Di Indonesia masih sangat banyak yang bergantung pada energi fosil.

"Salah satu faktor penyumbang dari kondisi dan krisis iklim yang telah melahirkan beragam bencana adalah energi kita sebagian besar masih bersumber dari energi kotor atau energi fosil. Jadi angkanya di Indonesia 70% sampai 80% masih bergantung pada energi fosil," ungkapnya.

Ia juga menambahkan saat ini Indonesia dan negara lain telah bersepakat untuk mengubah sumber energi menjadi energi yang berkelanjutan.

"Kesepakatan Indonesia dan negara-negara lain adalah mengubah sumber energi yang kotor ke yang berkelanjutan. Proyek transisi energi sudah dimulai di Indonesia termasuk Sumbar. Akan tetapi hal ini memicu konflik antar masyarakat, dan hal inilah yang akan kita bahas nanti," tambahnya.

Dekan FIS UNP, Afriva Khaidir, S.H., M.Hum, APA, Ph.D., menjelaskan empat revolusi yang merubah wajah dunia.

"Pertama revolusi kemerdekaaan, kedua revolusi teknologi industri, ketiga revolusi gender, dan yang keempat adalah revolusi lingkungan. Jadi kesadaran terhadap lingkungan itu benar-benar merubah cara pandang kita," jelasnya.

Kegiatan ini mendatangkan beberapa narasumber antara lain Andre Bustamar (WALHI Sumbar), Prof. Indang Dewata (Guru Besar Ilmu Lingkungan UNP), Khairul Fahmi, S.Sos., M.Si. (Dosen Sosiologi Lingkungan UNP), dan Diki Rafiqi (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia-Lembaga Bantuan Hukum Padang).

✔ Standar Jurnalisme & Transparansi SKK Ganto UNP

Berita ini diproduksi dan diverifikasi sesuai dengan Pedoman Pemberitaan Media Siber dan Kode Etik Jurnalistik oleh Dewan Pers.

Aisyah Fitri
Jurnalis • Liputan Berita

Redaktur Pelaksana
Diedit & Diverifikasi oleh: Afifah Salsabilah Putri (wartawan)
✔ Standar EEAT Redaksi

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

6 + 9 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.