Duta baca Binaan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) bekerjasama dengan mahasiswa Sumatera barat (Sumbar) mengadakan acara peringatan Hari Buku Nasional 17 Mei, bertepat di Aula Meseum Adityawarman, Padang. Sabtu-Minggu (18-19/5).
Acara yang bertemakan "Mari Bercerita, Berbagi dan Bekarya untuk Negeri" ini menggelar tiga jenis acara yaitu lomba bercerita tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) yang diselenggarakan pada Sabtu (18/5). Dan pencanangan donor sejuta buku untuk Sumbar pintar, serta launching dan bedah buku karangan Zelfeni Wimra yang berjudul "Yang Menunggu dengan Payung", Minggu (19/5).
Acara ini turut dihadiri oleh Sekretaris Daerah Sumatra Barat, Ali Asmar, Ketua IKAPI Pusat, Lusia Andam Dewi, Ketua IKAPI Sumbar, Nita Indrawati, dan Wakil Walikota Padang, Muslim B.
Ketua IKAPI Sumbar, Nita Indrawati mengatakan bahwa minat membaca di Sumbar ini perlu ditingkatkan lagi, karena masih terlihat ada masyarakat dibeberapa daerah yang memiliki buku dalam jumlah yang sedikit. Untuk itu dengan melakukan aksi "Pencanangan Donor Sejuta Buku Untuk Sumbar Pintar" diharapkan mampu memenuhi hak-hak masyarakat secara luas untuk mendapatkan pengetahuan. "Melalui buku yang berkualitas, IKAPI berkomitmen meningkatkan pendidikan Sumbar," ujarnya. Minggu (19/5).
Senada dengan Nita, ketua pelaksana Martga Bella Rahimi mengatakan bahwa rangkaian acara yang diadakan ini, bertujuan untuk meningkatkan minat baca khususnya mahasiswa Sumbar baik dari yang kecil maupun yang dewasa. Dalam hal ini untuk tingkatan paling bawah adalah SLTP, karena pada tingkatan ini para siswa telah menemukan jati dirinya selain itu mereka telah mempunyai potensi dalam membaca. jadi mereka boleh membaca buku apa saja yang bisa meningkatkan pengetahuan mereka. "Dengan membaca 30 menit mereka telah mampu menceritakan kembali" ungkapnya. Minggu (19/5).
Selain itu ia juga menambahkan bahwa dengan diadakan lauching dan bedah buku karangan Zelfeni Wimra diharapkan minat baca rakyat sumbar meningkat dan sekaligus mampu meningkatkan kemampuan menulis masyarakat. "Mari becerita lewat lomba bercerita, berbagi lewat donor buku, dan bekarya lewat launching dan bedah buku untuk negeri," ujarnya.
Launching dan bedah buku yang berjudul "Yang menunggu dengan payung" menghadirkan pemateri yang berprofesi sebagai penulis buku Dr.Free Hearty dan penulis sastra, Prof. Harris Effendi Thahar.
Dalam mengupas buku yang terdiri dari 17 kumpulan cerpen itu, Dr free hearty yang juga berprofesi sebagai dosen ini menyatakan sangat tertarik dengan buku yang telah dikarang oleh Wimra. Karena melalui karyanya Wimra mampu memainkan imajinasi pembaca dengan sangat baik dan mampu berperan dengan baik sebagai seorang perempuan melalui rangkaian kata-katanya. Selain itu buku ini juga mampu mengangkat kearifan lokal yang bisa dibaca dan dinikmati di seluruh wilayah Indonesia. "Wimra adalah lelaki yang berdiri ditengah-tengah perempuan yang tertindas" ungkapnya memuji (19/5).
Namun dibalik beberapa kelebihan itu, ada satu hal yang membuat Dr.free Hearty berbeda pendapat dengan wimra yaitu perihal permasalahan sunat yang dikupas dalam buku "Yang menunggu dengan payung tersebut. "Sepertinya informasi wimra tentang sunat perlu ditinjau kembali karena bertentangan dengan esensi sunat yang sebenarnya" ungkapnya.
Mendengar pernyataan Dr. Free Hearty banyak para hadirin yang membantah. Salah satunya Papa, (panggilan akrab moderator kepada salah seorang lelaki tua). Ia mengatakan bahwa dengan perkembangan zaman yang begitu cepat segala sesuatu bisa berubah termasuk esensi tentang sunat," bantahnya. Minggu (19/5).
Beranjak dari sunat, Prof Harris Efferndi Thahar mengupas buku wimra dari sisi yang berbeda. Ia mengatakan bahwa cerpen yang dihimpun didalam buku karangan Zelfeni Wimra secara garis besar melawan kontra mitos. Dan ini membuktikan bahwa Zelfeni Wimra bukanlah pengarang kemaren sore, "saya sangat terharu membaca karya-karyanya" ungkapnya. Minggu (19/5).
Menanggapi ulasan-ulasan yang diberikan oleh kedua pemateri handal terhadap bukunya, Zelfeni Wimra mengatakan bahwa sangat senang sekali karena bukunya mendapatkan perhatian secara kritikal, ini semua akan menjadi pelajaran baginya, "Mudah-mudahan buku saya bisa laris dipasaran," ungkapnya. Minggu (19/5). Nia
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!