Sore itu matahari mulai beranjak keperaduannya. Terik sore membiaskan cahaya tanpa mengesankan panas. Berjalan dari kejauhan sudut kampus Universitas Negeri Padang (UNP), tampak sekelompok mahasiswa tengah asyik dengan sebuah permainan. Keringat pun telah mengalir dari pelipis. Papan persegi panjang dengan kedua ujungnya membentuk setengah lingkaran mengalasi kaki pemainnya. Secara bergantian seolah papan itu menjadi "piala bergilir". Itulah mereka dengan papan skateboard keÂgemarannya.
Komunitas ini bermain di depan gerbang dua UNP yang sudah lama tidak dioperasikan. Di tengah euforia skateboarder (sebutan untuk pemain skateboard) dalam bermain, seorang yang dituakan dan dianggap inspirer, sedang duduk memperhatikan kawan-kawannya. Inspier itu bernama Rizki Adi Mulya, Mahasiswa Administrasi Pendidikan TM 2007. Rizki mengaku sudah lama "menari" dengan skateboard dan mencintai permainan ini. "Saya bergabung dengan komunitas ini pada pertengahan tahun 2007, karena dulu saya juga biasa main skateboard di Payakumbuh," tuturnya, Selasa (26/2). Sampai sekarang Rizki masih tetap setia dengan rutinitas yang sering dilakukannya pada sore hari ini.
Dalam komunitas ini didominasi mahasiswa UNP sebagai anggota. Meskipun begitu, Rizki meÂngungkapkan komunitas ini tidak hanya dipeÂruntukkan bagi mahasiswa UNP saja. Siapa pun yang ingin bergabung, bisa datang dan mengikuti latihan. Menjadi anggotanya juga tak perlu persyaratan khusus, Rizki mengatakan bahwa komunitas ini bersifat "Freedom". Dikatakan freedom karena mereka mencintai sesuatu hal yang bebas dan tidak terikat dengan apapun. Komunitas ini berlokasi di UNP Handicraf Center (UHC) di belakang kantor Balai Bahasa UNP.
Menurut cerita Rizki, komunitas ini lahir dilatarbelakangi adanya inisiatif beberapa mahasiswa untuk menyalurkan hobi mereka. Awal terbentuknya pada tahun 2004. Pada saat itu Abdi, mahasiswa Fakultas Teknik (FT) sering memainkan papan skateboardnya dan berkeliling kampus sendirian. Seminggu, dua minggu dan minggu-minggu selanjutnya Abdi masih setia dengan aktivitasnya. Melihat Abdi yang enjoy dengan kegiatannya ini, membuat Putra, mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) TM 2006 tertarik untuk melirik permainan Abdi. Meskipun Putra kerap mengisi waktu sorenya dengan mengayuh sepeda BMX nya, Ia tak segan untuk memilih bergabung dengan Abdi. "Dari pertemuan mereka, terbentuklah komunitas Skateboarding kampus selatan yang didominasi mahasiswa FT daan FBS, jelas Rizki.
Seiring dengan berjalannya waktu, pada pertengahan tahun 2007 Komunitas Kampus Selatan ini pindah tempat latihan dari area FBS ke gerbang dua UNP yang bersebelahan dengan Fakultas Ilmu Sosial (FIS). Pada tahun 2008, komunitas ini mulai dilirik dan bertambah anggota. "Jadi ceritanya pada tahun 2008 itu banyak anggota skateboard Bukittinggi dan Payakumbuh yang kuliah di UNP," ujar Rizki sembari tertawa kecil. Suasana latihan semakin menyenangkan karena pada tahun yang sama gerbang dua UNP ini ditutup. Hal ini diakui Rizki membuat para anggota yang kemudian menamai komunitasnya ini The second gate of UNP skateboarding bertambah semangat.
Tidak sekadar memuaskan hati, menyalurkan hobi dan mengisi waktu luang, para skateboarder ini pernah juga mengikuti perlombaan sampai ke tingkat nasional dan meraih peringkat ketiga. Meskipun begitu, komunitas yang sekarang didominasi oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi ini juga sering mengadakan pertemuan, rapat dan diskusi yang berkaitan dengan komunitas. Misalnya pada ajang perlombaan skateboard.
Tempat latihan yang strategis di gerbang dua UNP,membuat komunitas ini sering didatangi tamu dari universitas tetangga. "Seringkali mahasiswa Unand, UPI, ATIP dan lainnya berkunjung, karena lokasi latihan disini permukaannya datar dan di bawah pohon rindang," ucap Rizki.
Tidak hanya latihan semata yang rutin mereka lakukan, kegiatan gabungan sekedar untuk menjalin keakraban sesama komunitas skateboard juga sering dijalani. "Terkadang kami juga pernah melakukan tour ke Pariaman dengan kereta api bersama anak-anak skateboard lainnya", tambah Rizki. Tour ini bertujuan menjalin silaturrahmi dengan anggota skateboard di wilayah Pariaman dan untuk melihat lokasi-lokasi yang biasa mereka gunakan untuk latihan, tambahnya.
Sembari bersantai, Rizki menjelaskan tentang pendanaan komunitas. Ternyata Perusahaan Rokok pernah menjadi donator komunitas ini. "Dulu pernah ada donatur yang bersedia memenuhi perlengkapan kami seperti Rail Hand, Box, Skateboard, Obstacle. Namun sekarang kami lebih sering patungan untuk melengkapi kebutuhan," jelasnya. Berbicara masalah kelangsungan komunitas, Rizki berharap semoga selalu ada regenerasi penerus skateboard ini. Dan harapan yang sama juga terlontar dari Rian Kabai, mahasisiwa Desain Komunikasi Visual TM 2010 yang juga anggota skateboard. "Semoga skateboard di UNP tidak mati begitu saja", tutupnya, (26/2).
Tak hanya Rizki dan Rian, Eki Sepriadi, mahasiswa Ekonomi Pembangunan TM 2009 mengaku juga senang bergabung dengan komunitas ini. Sebelum kuliah di UNP, Eki juga sudah akrab dengan permainan skateboard. "Di kampung, saya juga sudah biasa bermain skateboard. Ketika kuliah di Padang saya juga ikut komunitas ini," katanya. Eki dan lima belas temannya yang tersebar di beberapa fakultas di UNP rutin menjalani aktivitasnya pada hari Senin sampai Kamis pukul 17.00 WIB. "Kami berhenti bermain ketika Adzan Maghrib berkumandang," katanya.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!