Berita

Reformasi Telah Berlangsung 27 Tahun, Kebebasan Akademik Masih Kian Terancam

Reformasi Telah Berlangsung 27 Tahun, Kebebasan Akademik Masih Kian Terancam
Para pemantik diskusi yang terdiri atas perwakilan The Indonesian Institute, LBH Padang, serta dosen Unand tengah berdiskusi dalam forum terkait pelanggaran kebebasan akademik di Indonesia di Pustaka Steva, Padang, Rabu (27/8). f/Naufal

Ganto.co - Kebebasan akademik di Indonesia dinilai masih jauh dari kata aman, meski sudah lebih dari dua dekade reformasi bergulir, kasus-kasus pelanggaran di kampus terus berulang. Pandangan itu mencuat dalam diskusi publik bertajuk "Pola pola Pelanggaran Kebebasan Akademik di Indonesia" yang digelar, Rabu (27/8). Acara yang dimotori oleh The Indonesian Institute (TII) dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang menghadirkan akademisi, aktivis, serta mahasiswa yang membedah permasalahan mendalam mengenai pelanggaran kebebasan akademik di kampus.

Adinda Tenriangke Muchtar, Direktur Eksekutif TII, memaparkan hasil risetnya yang menyebut bahwa sepanjang April hingga Juni 2025 pihaknya mencatat 86 kasus pelanggaran kebebasan akademik. Dari jumlah tersebut, sebagian besar terjadi pada ranah ekspresi akademik dan budaya dengan 52 kasus, disusul pelanggaran integritas kampus (19 kasus) dan penyebaran pengetahuan (tujuh kasus).

"Korban terbanyak adalah mahasiswa dengan 44 kasus, diikuti lembaga kemahasiswaan 18 kasus, serta dosen 12 kasus. Bentuknya macam-macam, mulai dari intimidasi, doxing, sampai ancaman drop out," ungkapnya.

Lebih lanjut Adinda menyampaikan bahwa, ironisnya aktor pelanggaran justru sering berasal dari internal kampus sendiri.

"Kami menemukan 42 kasus dilakukan pejabat kampus, sementara aparat penegak hukum terlibat dalam 25 kasus. Padahal mereka seharusnya melindungi kebebasan akademik, bukan malah menekannya," tambahnya.

Virtuous Setyaka, Dosen Universitas Andalas, juga menceritakan pengalamannya ketika harus membela mahasiswa yang diancam drop out akibat demonstrasi. Ia menilai represi seperti itu sudah berlangsung lama.

"Sejak Orde Baru sampai sekarang, pola pembungkaman masih sama. Kampus seharusnya jadi ruang aman untuk berpikir kritis, bukan ruang represi," ujarnya.

Sementara itu, Diki Rafiqi, Direktur LBH Padang, menilai kasus-kasus yang muncul hanyalah "puncak gunung es" dari persoalan kebebasan sipil yang lebih besar. Ia menyoroti pola kriminalisasi terhadap mahasiswa yang mengangkat isu-isu sensitif, termasuk soal kekerasan seksual dan kebijakan kampus.

"Alih-alih didengar, mereka malah diberi sanksi administratif, diintimidasi, bahkan dipolisikan. Watak penegakan hukum kita masih kolonial, menekan dengan cara kekerasan," jelasnya.

Diki juga menekankan pentingnya mendorong regulasi anti-SLAPP (Strategic Lawsuit Against Public Participation) agar civitas akademika yang menyuarakan pendapat tidak lagi jadi korban balik.

✔ Standar Jurnalisme & Transparansi SKK Ganto UNP

Berita ini diproduksi dan diverifikasi sesuai dengan Pedoman Pemberitaan Media Siber dan Kode Etik Jurnalistik oleh Dewan Pers.

Naufal Hanif Arsalan
Jurnalis • Liputan Berita

Pewarta Foto
Diedit & Diverifikasi oleh: Fitri (Redaktur Berita Daring)
✔ Standar EEAT Redaksi

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

9 + 8 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.