Berita

Bedah Buku 'Ikhlas Penuh Luka', Boy Candra Bagikan Perjalanan Menulis

Bedah Buku 'Ikhlas Penuh Luka', Boy Candra Bagikan Perjalanan Menulis
Sesi bedah buku bersama Boy Candra, di Ruang Sidang Senat Lantai IV Gedung Rektorat & Research Center UNP, Rabu (17/9). f/i

Ganto.co – Universitas Negeri Padang (UNP) bersama Semesta Buku menggelar bedah buku Ikhlas Penuh Luka di Ruang Sidang Senat Lantai IV Gedung Rektorat & Research Center UNP, Rabu (17/9). Acara ini menghadirkan penulis Boy Candra sebagai narasumber dan diikuti oleh mahasiswa dari berbagai prodi serta universitas.

Dalam pembahasan utama, Boy Candra menegaskan bahwa tema ikhlas yang diangkat dalam bukunya bukan hal sederhana, melainkan sebuah proses panjang.

"Ikhlas itu seperti lautan, luas sekali, dan setiap orang punya cara berenangnya masing-masing. Ada yang cepat, ada yang lambat, bahkan ada yang tidak bisa sama sekali. Jadi, ikhlas bukan berarti luka itu hilang, tetapi bagaimana kita belajar terus berenang di dalamnya," ujarnya.

Boy mengakui terdapat pengalaman personal yang belum siap ia tuliskan.

"Ada banyak hal yang sebenarnya belum saya tulis, karena bagi saya ada hal-hal yang sepertinya saya belum kuat untuk menuliskannya," katanya.

Ia mencontohkan proses panjang pembuatan karya bertema ibu yang baru menemukan bentuknya setelah bertahun-tahun.

"Sepanjang perjalanan 10 tahun itu saya gagal terus menulis buku bertema ibu, karena saya tidak mengerti rasanya punya ibu. Tetapi suatu hari, tiba-tiba saja buku itu bisa selesai saya tulis dalam sebulan," ungkapnya.

Buku tersebut, lanjutnya, menjadi salah satu karya paling berat secara emosional.

"Ada satu tulisan berjudul Maaf Ya Bu, yang bagi saya paling menyakitkan. Tetapi justru lewat menulis, saya bisa mengurai luka-luka yang saya rasakan," jelasnya.

Selain berbicara soal pengalaman pribadi, Boy juga menekankan pentingnya kesiapan fisik dan pengetahuan dalam menulis.

"Nah, kalau kita makin stres, kita tidak bisa berpikir. Jadi, pastikan kita punya kesehatan yang cukup untuk menulis. Yang kedua, pastikan kita punya bahan yang cukup. Kita harus punya pengetahuan yang cukup, kita harus banyak membaca, berdiskusi dengan orang, dan belajar dari berbagai sumber," paparnya.

Menurutnya, ada tiga hal penting yang menunjang proses menulis, yakni pengalaman, pengetahuan, dan imajinasi.

"Kalau teknis bisa dipelajari dari membaca karya orang lain, sedangkan pengalaman bisa datang dari kehidupan kita sendiri atau dari orang sekitar. Dari sana kita belajar mengolah perasaan, lalu menyalurkannya lewat tulisan," tambahnya.

✔ Standar Jurnalisme & Transparansi SKK Ganto UNP

Berita ini diproduksi dan diverifikasi sesuai dengan Pedoman Pemberitaan Media Siber dan Kode Etik Jurnalistik oleh Dewan Pers.

Anggelita Febriani
Jurnalis • Liputan Berita

Pemimpin Redaksi Daring
Diedit & Diverifikasi oleh: Luca Greceri Febrin (Redaktur Berita Daring)
✔ Standar EEAT Redaksi

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

6 + 7 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.