Berita

Masjid Nurul Ilmi UNAND Gelar Kajian Virtual tentang Kesehatan Mental di Era Sosial Media

Masjid Nurul Ilmi UNAND Gelar Kajian Virtual tentang Kesehatan Mental di Era Sosial Media
Tangkapan Layar Zoom Meating Kajian Islam Virtual UNAND REBORN Mesjid Nurul Ilmi Universitas Andalas, Rabu (6/5).f/Taqia.

Ganto.co- Masjid Nurul Ilmi Universitas Andalas (UNAND) menggelar Kajian Islam Virtual UNAND REBORN bertema Ketenangan Hidup, Kesehatan Mental di Zaman Sosmed, dan Beriman Kepada Takdir secara daring melalui Zoom Meeting pada Rabu (6/5).

Dalam pemaparannya, Raehanul selaku pemateri menjelaskan bahwa media sosial menjadi salah satu penyebab munculnya kecemasan dan tekanan sosial karena banyak orang terbiasa membandingkan hidupnya dengan orang lain.

"Di zaman media sosial ini, banyak orang merasa cemas dan gelisah karena terus membandingkan hidupnya dengan orang lain," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa fenomena seperti flexing, fear of missing out (FOMO), hingga budaya mencari validasi melalui likes dan followers dapat membuat seseorang kehilangan rasa syukur.

"Kalau banyak yang likes kita senang, kalau sedikit kita sedih. Ini tanda bahwa orientasi hidup mulai bergeser dari mencari ridha Allah menjadi mencari pengakuan manusia," jelasnya.

Raehanul juga menyoroti kebiasaan masyarakat yang menganggap kehidupan di media sosial sebagai gambaran nyata. Menurutnya, tidak semua yang ditampilkan di media sosial sesuai dengan kenyataan.

"Banyak yang posting kebahagiaan, padahal belum tentu bahagia. Banyak yang terlihat sukses, padahal sebenarnya sedang mencari pengakuan," ujarnya.

Selain itu, ia menerangkan bahwa Islam memiliki konsep menjaga kesehatan mental melalui tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa.

"Ketahuilah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Ketenangan hidup itu bukan karena banyak harta atau pujian manusia, tetapi karena hati dekat dengan Allah," tuturnya.

Menurut Raehanul, gangguan mental bukan berarti seseorang memiliki iman yang lemah. Ia menegaskan bahwa rasa sedih dan cemas juga pernah dialami para nabi sebagai bagian dari ujian hidup.

"Islam mengakui adanya kesedihan, kecemasan, dan tekanan jiwa. Yang tidak boleh adalah membiarkannya berlarut tanpa ikhtiar dan pertolongan," tambahnya.

Ia juga mengajak peserta untuk lebih bijak menggunakan media sosial dengan mengatur waktu penggunaan gawai dan memperbanyak ibadah.

"Kadang kita perlu mengganti scrolling dengan zikir. Media sosial boleh digunakan, tetapi harus terkendali dan tidak sampai menghilangkan ketenangan jiwa," ujarnya.

Kajian virtual tersebut diikuti mahasiswa, dosen, dan masyarakat umum dari berbagai daerah. Panitia juga membuka sesi tanya jawab bagi peserta yang ingin mendiskusikan persoalan kesehatan mental dan penggunaan media sosial dalam perspektif Islam.

"Semoga kajian ini memberikan manfaat dan menjadi pengingat agar kita lebih menjaga hati di tengah derasnya pengaruh media sosial," tutup Raehanul

✔ Standar Jurnalisme & Transparansi SKK Ganto UNP

Berita ini diproduksi dan diverifikasi sesuai dengan Pedoman Pemberitaan Media Siber dan Kode Etik Jurnalistik oleh Dewan Pers.

Taqia Malvaza*
Jurnalis • Liputan Berita

Reporter Junior
Diedit & Diverifikasi oleh: Zahroh Salsabila basir (Redaktur Tulisan Daring)
✔ Standar EEAT Redaksi

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

9 + 3 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.