Berita

Seminar Nasional Departemen Sejarah UNP Bahas Peran Perempuan sebagai Pilar Ekonomi

Seminar Nasional Departemen Sejarah UNP Bahas Peran Perempuan sebagai Pilar Ekonomi
Tangkapan layar Zoom Meeting Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Departemen Sejarah FIS UNP bekerja sama dengan MSI dan P3SI secara daring melalui Zoom Meeting, Jumat (29/5). f/Jeli

Ganto.co - Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Padang (UNP) bekerja sama dengan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) dan Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah se-Indonesia (P3SI) mengadakan Seminar Nasional bertajuk Perempuan Sebagai Pilar Ekonomi secara daring melalui Zoom Meeting, Jumat (29/5). Seminar ini membahas peran strategis perempuan dalam menggerakkan perekonomian dari berbagai perspektif sejarah dan sosial.

Salah satu narasumber, Gusti Kanjeng Ratu, menjelaskan bahwa perempuan saat ini tidak lagi hanya berperan sebagai pendukung ekonomi keluarga, tetapi telah menjadi pilar utama dalam menopang perekonomian rumah tangga maupun usaha.

"Kalau dulu perempuan itu membantu di dalam keluarga untuk ekstra pendapatan, tapi dengan berjalan waktu sekarang malahan banyak yang perempuan sebagai pilar ekonomi di dalam keluarga," ujarnya.

Ia juga menyoroti kemampuan perempuan dalam beradaptasi menghadapi perubahan ekonomi, terutama saat pandemi COVID-19.

"Dengan perempuan lah ekonomi dalam keluarga masih bisa berjalan. Mereka sangat tepat mengalihkan profesi karena kehimpitan ekonomi saat itu," ungkapnya.

Pada sesi berikutnya, Siti Fatimah memaparkan hasil penelitiannya mengenai perempuan pengusaha nasi kapau di Minangkabau.

"Nasi kapau itu punya branding yang betul-betul perempuan. Ada Uni Eti, Uni Epi, Uni Lili, Uni Lis yang paling terkenal di Pasar Atas Bukittinggi sejak tahun 1961," jelasnya.

Sementara itu, Erniwati membahas kontribusi perempuan Tionghoa dalam perekonomian Indonesia. Ia menjelaskan bahwa meskipun berada dalam lingkungan budaya patriarki, perempuan Tionghoa memiliki peran penting dalam menjaga dan mengembangkan usaha keluarga.

"Perempuan Tionghoa itu sering bekerja di balik layar, padahal dia adalah sebagai penggerak usaha. Posisi ini menjadi sangat strategis," tuturnya.

Di akhir pemaparannya, Erniwati menjelaskan bahwa perempuan Tionghoa mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa meninggalkan peran yang dijalankan dalam keluarga maupun masyarakat.

"Perempuan Tionghoa modern tidak meninggalkan peran domestiknya, melainkan bertransformasi dari pelaksana menjadi konseptor dan pemimpin urusan rumah tangga sekaligus berkarier di dunia profesional," tutupnya.

✔ Standar Jurnalisme & Transparansi SKK Ganto UNP

Berita ini diproduksi dan diverifikasi sesuai dengan Pedoman Pemberitaan Media Siber dan Kode Etik Jurnalistik oleh Dewan Pers.

Jeli Sentia*
Jurnalis • Liputan Berita

Reporter Junior
Diedit & Diverifikasi oleh: Aulia Ranti Putri (Editor Berita)
✔ Standar EEAT Redaksi

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

3 + 4 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.