Berita

Dalam Diskusi Rancak Publik, Akademisi Kritik Keadilan dalam Proyek Transisi Energi

Dalam Diskusi Rancak Publik, Akademisi Kritik Keadilan dalam Proyek Transisi Energi
Akademisi Apriwan, Dila Novita, dan Peneliti Senior ARC Dianto Bachriadi menjadi pembicara dalam diskusi publik bertajuk "Transisi Energi dan Kedaulatan Tanah Adat: Posisi Negara di Mana?" di Pustaka Steva Padang, Selasa (2/6). f/Fatihahtur

Ganto.co - Ruang Dialog Rancak Publik menggelar diskusi bertajuk "Transisi Energi dan Kedaulatan Tanah Adat: Posisi Negara di Mana?" di Pustaka Steva Padang, Selasa (2/6). Diskusi ini bertujuan membedah dilema proyek transisi energi yang kerap memicu konflik agraria sekaligus mencari solusi agar pembangunan hijau berjalan secara adil bagi masyarakat adat.

Akademisi sekaligus peneliti Center for Agrarian and Environmental Justice (CAEJ) yang berfokus pada isu hubungan internasional, Apriwan, menyoroti ketimpangan dalam proyek energi bersih. Ia menilai konsep keadilan energi di Indonesia masih jauh dari harapan karena masyarakat lokal kerap diabaikan dalam pembagian keuntungan ekonomi.

"Konsepsi keadilan energi itu harus mulai dari hulu ke hilir, mulai dari pelibatan sampai distribusi manfaat. Faktanya, masyarakat memang merasa dilibatkan di awal, tetapi dalam hal distribusi hasil mereka tidak mendapatkan apa-apa selain bungkusannya yang bernama CSR," ungkapnya.

Dila Novita mengkritik pendekatan tata kelola pemerintah dalam menjalankan agenda transisi energi. Ia menilai pemerintah terlalu memaksakan agenda tersebut demi mengejar pendanaan global hingga mengorbankan tatanan sosial masyarakat.

"Karena ada agenda global dan anggaran yang sangat besar, semuanya dipaksakan harus ikut dan setuju. Modal sosial kita seperti diberangus demi proyek global, sehingga peran pemerintah dalam pelayanan publik tidak terlihat karena lebih bertindak sebagai agen kepentingan global," katanya.

Dari sudut pandang yang lebih luas, Dianto Bachriadi mempertanyakan urgensi pengorbanan ruang hidup masyarakat demi pelaksanaan transisi energi. Menurutnya, kontribusi emisi karbon Indonesia terhadap emisi global relatif kecil.

"Kontribusi seluruh sektor Indonesia kepada emisi global itu hanya 0,3 persen, itu terlalu kecil. Jadi, apakah memang transisi energi ini sangat diperlukan sampai kita harus mengorbankan hak-hak rakyat di kampung dan menghilangkan sumber penghasilan mereka?" ujarnya.

✔ Standar Jurnalisme & Transparansi SKK Ganto UNP

Berita ini diproduksi dan diverifikasi sesuai dengan Pedoman Pemberitaan Media Siber dan Kode Etik Jurnalistik oleh Dewan Pers.

Fatihahtur Rahmi*
Jurnalis • Liputan Berita

Reporter Junior
Diedit & Diverifikasi oleh: Ghina Asyifa Rahmadani (Editor Berita)
✔ Standar EEAT Redaksi

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

6 + 7 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.