Berita

CV. OKE Terbitkan Indonesia Bahas Transformasi AI & Implikasi Perancangan Arsitektur

CV. OKE Terbitkan Indonesia Bahas Transformasi AI & Implikasi Perancangan Arsitektur
Tangkapan layar webinar nasional bertajuk "Transformasi AI dan Implikasinya Terhadap Perancangan Arsitektur" yang diselenggarakan oleh CV. OKE Terbitkan Indonesia secara daring melalui Zoom Meeting, Rabu (3/6).

Ganto.co- CV (Commanditaire Vennootschap) OKE Terbitkan Indonesia menggelar webinar nasional bertajuk "Transformasi Artificial Intelligence (AI) dan Implikasinya Terhadap Perancangan Arsitektur" melalui Zoom Meeting pada Rabu (3/6). Kegiatan membahas peran penting kecerdasan buatan dan etika penggunaannya dalam praktik dan pendidikan arsitektur.

Pemateri, Achnia Tiffany Nurfadillah, menjelaskan bahwa teknik prompt AI yang biasa dipakai untuk membuat foto atau gambar juga relevan dalam arsitektur karena komunikasi antara arsitek, mahasiswa, klien, dan dosen umumnya berbentuk gambar seperti sketsa, gambar kerja, maupun gambar perspektif.

"Macam-macam prompt AI yang kita gunakan untuk membuat foto juga terpakai pada arsitektur, karena komunikasi seorang arsitek atau mahasiswa arsitektur kepada klien maupun kepada dosennya itu adalah dengan menggunakan gambar," ujarnya.

Tiffany menegaskan penggunaan AI untuk membuat sketsa ide diperbolehkan, asalkan tidak mengklaim hasil tersebut sebagai karya pribadi tanpa menyebut peran AI.

"Bagi saya, untuk mahasiswa juga tidak apa-apa menggunakan AI. Asalkan jangan klaim itu hasil karya kita. Katakan saja kita minta tolong AI untuk buat idenya, tidak ada masalah," ungkapnya.

Ia juga mengingatkan keterbatasan AI dalam menyelesaikan masalah teknis. Dalam salah satu percobaan, AI menghasilkan gambar yang keliru, misalnya merekomendasikan keramik licin untuk lantai garasi padahal seharusnya tidak.

"Inilah AI; dia tidak bisa maksimal dalam menyelesaikan masalah atau membuat yang kita mau," tegasnya.

Dalam pemaparannya, Tiffany menekankan bahwa pendidikan arsitektur tidak hanya mengajarkan teknik merancang, tetapi juga memahami pengalaman ruang persepsi dan perasaan pengguna saat berada di suatu tempat yang sulit ditiru oleh AI.

"Pengalaman ruang itu yang dirasakan oleh individu manusianya sendiri. Kita datang, kita rasakan, kita lihat apakah ruangan terasa luas, sempit, nyaman, atau memiliki suasana tertentu. Itu semua adalah pengalaman ruang dan bisa dibentuk oleh seorang arsitek," jelasnya.

Ia menggarisbawahi pentingnya human-centered design, yakni merancang dengan prioritas kenyamanan dan aksesibilitas bagi semua pengguna: lansia, penyandang disabilitas, pengguna kursi roda, hingga orang tua yang membawa stroller.

"Jangan sampai kita merancang rumah atau bangunan yang seluruh aksesnya berupa tangga, padahal ada orang tua lansia atau pengguna kursi roda yang akan kesulitan menggunakannya. Itu berarti desainnya tidak inklusif dan tidak berpusat pada manusia," tambahnya.

Menurut Tiffany, empati dan pemahaman konteks sosial-budaya tetap menjadi keunggulan manusia dibandingkan AI. Ia menilai AI belum mampu memahami keragaman budaya Indonesia kecuali diberi arahan yang sangat rinci.

"Indonesia sangat luas dan memiliki budaya yang berbeda-beda di setiap daerah. Hal-hal seperti ini masih kurang dipahami oleh AI, kecuali jika diberikan arahan yang sangat rinci," tutupnya.

✔ Standar Jurnalisme & Transparansi SKK Ganto UNP

Berita ini diproduksi dan diverifikasi sesuai dengan Pedoman Pemberitaan Media Siber dan Kode Etik Jurnalistik oleh Dewan Pers.

Rizki Akbar Illahi*
Jurnalis • Liputan Berita

Reporter Junior
Diedit & Diverifikasi oleh: Zahroh Salsabila basir (Redaktur Tulisan Daring)
✔ Standar EEAT Redaksi

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

4 + 5 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.