Berita

Overthinking Bukan Tanda Lemah, Psikolog Ungkap Cara Kelolanya

Overthinking Bukan Tanda Lemah, Psikolog Ungkap Cara Kelolanya
Tangkapan layar Zoom Meeting Webinar Overthinking, Overloaded, dan Overwhelmed oleh Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), Jum'at (5/6). f/Siti

Ganto.co - Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) menggelar webinar bertajuk Overthinking, Overloaded, Overwhelmed: Ketika Hidup Terasa Terlalu Penuh secara daring melalui Zoom, Jumat (5/6). Kegiatan tersebut membahas kondisi overthinking, overload, dan overwhelmed yang kerap dialami seseorang ketika menghadapi berbagai tuntutan kehidupan. Webinar ini menghadirkan Founder psikologanak.id sekaligus Dosen UKWMS, Robik Anwar Dani, Psikolog, sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, Robik menjelaskan bahwa kondisi overload terjadi ketika pikiran dipenuhi berbagai informasi, tugas, dan tekanan hingga terasa penuh. Menurutnya, kondisi tersebut perlu dipahami agar seseorang dapat mengelola beban mental yang dialami.

"Pikiran yang ramai adalah hal yang normal, tetapi perlu dipahami dan dikelola dengan baik," ujarnya.

Robik juga menjelaskan bahwa overthinking muncul saat seseorang terus memikirkan berbagai kemungkinan tanpa menghasilkan solusi yang jelas. Akibatnya, seseorang dapat mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan karena terjebak dalam berbagai skenario yang dipikirkan.

"Tidak semua orang yang berpikir mengalami overthinking. Kondisi ini terjadi ketika pikiran terus berputar tanpa arah yang jelas," jelasnya.

Menurut Robik, overthinking bukanlah tanda kelemahan, melainkan sinyal bahwa otak sedang bekerja terlalu keras dalam memproses berbagai informasi dan kemungkinan. Karena itu, penting bagi setiap individu untuk mengenali kondisi tersebut agar tidak mengganggu kesehatan mental dan aktivitas sehari-hari.

"Overthinking bukan berarti seseorang lemah, tetapi menunjukkan bahwa otaknya sedang bekerja secara berlebihan," tegasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa kondisi overwhelmed muncul ketika beban pikiran dan emosi terasa terlalu berat untuk ditangani. Dampaknya dapat berupa mudah marah, lebih sensitif, kehilangan fokus, gangguan tidur, hingga kecenderungan menunda pekerjaan.

"Ketika pikiran terlalu penuh, seseorang bisa kehilangan kemampuan untuk menentukan langkah yang harus dilakukan," ungkapnya.

Pada akhir sesi, Robik mengajak peserta untuk tidak terjebak dalam siklus overthinking maupun overwhelmed. Menurutnya, tujuan utama memahami pikiran yang ramai adalah untuk mengenali diri sendiri sehingga individu dapat mengelola pikiran dan emosinya secara lebih sehat.

"Tujuan kita bukan menghilangkan pikiran, tetapi memahami dan mengarahkannya menuju pemahaman diri," tutup Robik.

✔ Standar Jurnalisme & Transparansi SKK Ganto UNP

Berita ini diproduksi dan diverifikasi sesuai dengan Pedoman Pemberitaan Media Siber dan Kode Etik Jurnalistik oleh Dewan Pers.

Siti Nur Hasanah*
Jurnalis • Liputan Berita

Reporter Junior
Diedit & Diverifikasi oleh: Aulia Ranti Putri (Editor Berita)
✔ Standar EEAT Redaksi

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

8 + 6 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.