Ganto.co - Pusat kearifan lokal Universitas Negeri Padang (UNP) bersama Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial (FIS) menggelar kuliah umum bertajuk "Lapau, Surau, dan Pasa: Ruang-Ruang Sosial Budaya Minangkabau" di Aula FIS UNP pada Jumat (19/6). Kegiatan tersebut menghadirkan Undri, M.Si., Sekretaris Direktorat Jendral Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia sebagai narasumber.
Dalam pemaparannya, Undri menjelaskan bahwa lapau, surau, dan pasa merupakan tiga ruang sosial budaya yang saling terikat dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.
"Lapau menjadi ruang interaksi sosial, surau pusat pendidikan budaya, sedangkan pasa nagari menjadi ruang aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat," ujar Undri.
Ia menjelaskan bahwa lapau berfungsi sebagai ruang interaksi sosial, tempat masyarakat bertukar informasi, membangun jaringan sosial, sekaligus membentuk wacana publik.
"Lapau bukan sekedar tempat minum kopi atau berkumpul, tetapi juga ruang sosial, tempat masyarakat berinteraksi dan membangun jaringan sosial," ujarnya.
Sementara itu, surau memiliki peran penting dalam pembentukan karakter dan pendidikan budaya masyarakat Minangkabau. Selain sebagai tempat ibadah, surau juga menjadi tempat generasi muda mempelajari petatah petitih dan nilai-nilai adat.
"Di surau, anak-anak mengajarkan petatah petitih serta nilai-nilai adat Minangkabau yang menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat," jelasnya.
Undri juga menyebut pasa nagari tidak hanya berfungsi sebagai pusat kegiatan ekonomi, tetapi juga sebagai ruang sosial yang memperkuat hubungan antarmasyarakat dan identitas nagari.
"Pasa nagari bukan hanya ruang transaksi ekonomi, tetapi juga ruang sosial yang mempertemukan masyarakat dan memperkuat hubungan antarsesama," ujarnya.
Pada akhir pemaparannya, Undri menyoroti transformasi lapau, surau, dan pasa di era digital yang melahirkan konsep lapau digital, surau virtual, dan pasa online sebagai bentuk adaptasi masyarakat Minangkabau terhadap perkembangan teknologi.
"Ruangnya bisa berubah, tetapi fungsi sosial, budaya, dan ekonomi yang terkandung di dalamnya tetap hidup dalam masyarakat Minangkabau," tutupnya.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!