Ganto.co - Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat menggelar Festival Literasi bertajuk "Peran Literasi dalam Menjaga Alam dan Melestarikan Budaya". Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari, 8–10 September 2026, di halaman Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat.
Pada hari terakhir pelaksanaan, Kamis (10/9), festival menghadirkan Nursaid, dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNP, sebagai pemateri dalam sesi bertema membaca nyaring. Dalam pemaparannya, Nursaid menjelaskan bahwa membaca nyaring merupakan bentuk tuturan atau dialog yang dapat membangun interaksi antara guru dan murid.
"Keterampilan membaca nyaring (oral reading) merupakan keterampilan yang fungsional. Pada dasarnya, keterampilan ini menjadi aspek fundamental dalam pengucapan dan pelafalan yang tepat sesuai dengan kaidah bahasa, termasuk bahasa Indonesia," kata Nursaid.
Menurutnya, keterampilan membaca nyaring menjadi dasar bagi berbagai pekerjaan yang membutuhkan kemampuan berkomunikasi, terutama profesi guru atau pendidik. Oleh karena itu, kemampuan tersebut perlu dilatih secara terarah dan berkelanjutan.
"Seseorang tidak mungkin mencapai tahap terampil jika hanya menguasai atau memahami teori membaca nyaring. Latihan membaca nyaring yang terarah juga memerlukan pemahaman terhadap prinsip-prinsip dasar dan jenis-jenis latihan," tambahnya.
Nursaid menyebut terdapat delapan prinsip dasar yang melandasi keterampilan membaca nyaring. Prinsip tersebut meliputi penguasaan lambang-lambang bunyi dan kaidah ortografis bahasa, kecepatan serta ketepatan membaca, dan pengalaman membaca yang luas.
Selain itu, pelatihan membaca nyaring harus lebih banyak dilakukan melalui praktik daripada sekadar mendengarkan ceramah. Pelatihan juga perlu dilaksanakan secara bertahap, berbasis konteks anak usia dini, serta disertai umpan balik pada setiap kegiatan praktik.
"Keberhasilan membaca nyaring tidak hanya diukur dari performa guru, tetapi juga dari respons anak," jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Nursaid turut memperkenalkan platform literasi digital bernama "Inspira". Platform tersebut dibuat sebagai sarana untuk membantu mengembangkan minat dan kemampuan literasi masyarakat, khususnya anak-anak.
"Membaca pada awalnya memang harus dipaksa. Namun, tidak hanya memaksa, saya juga harus menyediakan sarana untuk meningkatkan literasi mereka melalui platform yang saya buat, yaitu Inspira," tuturnya.

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!