Stan Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat menjadi salah satu stan yang menarik perhatian pengunjung Festival Literasi Sumbar 2026. Kegiatan tersebut berlangsung pada 8–10 September 2026 di halaman Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat.
Sejak festival dibuka, stan Balai Bahasa ramai didatangi pengunjung. Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat, Rahmat, mengatakan keikutsertaan Balai Bahasa dalam pameran tersebut merupakan pengalaman pertama.
"Ini merupakan tahun pertama kami mendapatkan undangan untuk mendirikan stan di Festival Literasi. Mudah-mudahan dengan keterlibatan Balai Bahasa, gerakan atau kampanye peningkatan literasi di Sumatera Barat semakin kuat," ujar Rahmat.
Rahmat menjelaskan, Balai Bahasa merupakan salah satu satuan kerja Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang bergerak dalam bidang literasi, kebahasaan, dan kesastraan di setiap provinsi.
Menurutnya, terdapat tiga satuan kerja Kemendikdasmen di daerah. Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan berfokus pada advokasi serta pemanfaatan hasil rapor pendidikan bagi sekolah. Sementara itu, Balai Guru dan Tenaga Kependidikan berfokus pada pelatihan guru. Adapun Balai Bahasa lebih menitikberatkan kegiatannya pada peningkatan literasi serta penguatan produk dan layanan kebahasaan maupun kesastraan.
Di stan tersebut, pengunjung dapat menemukan berbagai koleksi buku, kamus, serta buku cerita anak. Sebagian buku merupakan terbitan Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat, sedangkan sebagian lainnya berasal dari balai bahasa di berbagai daerah di Indonesia.
"Salah satu produk khusus kami ialah buku dwibahasa, yaitu bahasa Minangkabau dan bahasa Indonesia," kata Rahmat.
Selain pameran buku, stan Balai Bahasa juga menyediakan Klinik Siaga Bahasa. Layanan ini memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berkonsultasi mengenai berbagai persoalan bahasa dan sastra, termasuk manuskrip serta karya sastra.
Pengunjung juga dapat mengikuti simulasi Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI). Rahmat mengibaratkan UKBI sebagai TOEFL dalam bahasa Indonesia karena digunakan untuk mengukur kemampuan dan kemahiran berbahasa Indonesia. Stan tersebut turut menghadirkan kuis bahasa yang berisi pertanyaan seputar pengetahuan kebahasaan.
Rahmat berharap generasi Z tetap mampu menggunakan bahasa asing sesuai kebutuhan, terutama dalam menghadapi masyarakat global. Namun, ia mengingatkan agar penggunaan bahasa asing tidak membuat generasi muda melupakan bahasa Indonesia dan bahasa daerah.
"Bahasa Indonesia merupakan identitas nasional, sedangkan bahasa daerah adalah bagian dari identitas budaya dan digunakan dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat. Keduanya perlu tetap dipelihara sesuai dengan ranah penggunaannya," tuturnya.
Salah satu pengunjung, Siti Hardianti, juga mengungkapkan ketertarikannya saat mengunjungi stan Balai Bahasa.
"Stan Balai Bahasa menarik karena dapat memfasilitasi kami untuk simulasi tes UKBI secara gratis. Selain itu, ibu-ibu penjaga stan juga sangat informatif dan memberikan penjelasan yang mudah dimengerti mengenai UKBI. Mereka juga memberikan pengalaman bermain kuis tata bahasa. Kami juga dihadiahkan satu buku yang bebas dipilih secara percuma," ujarnya.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!